Oleh: Tri Budiarti
PONTIANAK, borneoreview.co –
Cerutu adalah penanda ia berkelas dan mulia
Tentu bukan hasil tangan buruh pabrik di
Kudus atau Kediri
Menghisap satu batang, bermakna dua bulan
gaji buruh pabrik sigaret
Bagimu mungkin biasa, mempertontonkan apa
yang kau punya
Cerutu adalah barang yang langka
Hanya yang berpunya dan kuasa, yang mampu merasa
Dihisap bersama saat berpesta,
Sambil tertawa di tengah pesta dansa
Saat ini bencana dimana-mana
Alam memangsa manusia, yang renta dan tak berdaya
Karena manusia merusak rimba, mengusik satwa
Rakyat tak butuh kata iba, tapi menuntut tindakan nyata
Saat ini engkau menghisap cerutu ditemani hidangan mewah adalah nyata
Engkau pamerkan dengan sengaja, saat rakyat menderita
Seolah tak hirau bahwa ribuan pengungsi, lama menahan lapar
Tak ada kata yang lebih tepat selain hedon bahkan sangat hedon
Kemarin engkau memanggul sekarung beras
Walau aku tak yakin bahwa itu nyata
Sebagian rakyat mencaci walau tak bersuara
Yang lainnya tak mampu berkata-kata
Saat ini ……. sedang bencana Bung !!
Rakyat sedang berduka, pertahankan asa tuk menyambung nyawa
Menghisap cerutu di tengah bencana
Adalah simbol congkak dan pongah, jauh dari rasa iba*
29 Desember 2025
*Tri Budiarti pernah menjabat sebagai Deputi BNPB Pusat
