Kalbar Dipilih jadi Lokasi Hilirisasi Peternakan Ayam Terintegrasi Skala Nasional

hilirisasi peternakan

PONTIANAK, borneoreview.co – Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ditetapkan sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi berskala nasional, yang akan dibangun di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak.

“Kegiatan ground breaking (peletakan batu pertama) untuk program program hilirisasi peternakan ayam tersebut direncanakan digelar di Kawasan Industri Mandor (KIM), Kabupaten Landak, pada Januari ini,” kata Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan di Landak, Selasa (6/1/2026).

Norsan mengatakan, Pemprov Kalbar menyambut baik rencana pelaksanaan ground breaking hilirisasi peternakan ayam terintegrasi di wilayah Kalimantan Barat.

“Saya menyambut baik kegiatan hilirisasi peternakan ayam terintegrasi yang dilaksanakan di Kalimantan Barat. Diharapkan program ini dapat membantu masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam dan telur, sehingga harga yang diterima masyarakat bisa lebih terjangkau dengan kualitas yang baik,” tuturnya.

Ia menilai, kehadiran industri peternakan ayam terintegrasi akan memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus menekan fluktuasi harga komoditas pangan strategis, khususnya daging ayam dan telur ayam, di Kalimantan Barat.

Sementara itu, Chief Executive Officer Firmansyah Khatulistiwa Group, Hendra Firmansyah, menjelaskan bahwa program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi tersebut akan dilaksanakan secara serentak di 13 provinsi di Indonesia. Untuk Kalimantan Barat, pelaksanaannya dipusatkan di Kawasan Industri Mandor, Kabupaten Landak.

“Ground breaking hilirisasi peternakan ayam terintegrasi ini akan dilaksanakan serentak di 13 provinsi dan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia dari Jawa Timur. Kami berharap Bapak Gubernur Kalimantan Barat dapat mengikuti kegiatan tersebut secara virtual,” katanya.

Ia menambahkan, program hilirisasi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang bertujuan untuk pemerataan pembangunan sektor peternakan, mengatasi potensi kelangkaan telur dan daging ayam, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di daerah.

Menurut Hendra, melalui sistem peternakan ayam terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, diharapkan rantai pasok dapat berjalan lebih efisien, sehingga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat, khususnya di wilayah sekitar kawasan industri.

“Program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi tersebut juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan nilai tambah produk peternakan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis sektor riil,” tuturnya. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *