PT DIB Tumbuhkan Harapan Baru, Warga: Panen Perdana Budidaya Lele di Desa Pelapis Berhasil

Panen Lele di Pelapis

PELAPIS, borneoreview.co – Langit tampak kelabu di Desa Pelapis, Kayong Utara, Kalbar. Angin musim menerbangkan bau pantai khas pesisir. Pagi itu, Sabtu, awal Januari 2026, wajah-wajah warga Pelapis, memancarkan semangat dan optimisme.

Di sekitar kolam-kolam terpal berdiameter lima meter, tawa dan obrolan bersahutan. Mengiringi momen yang telah dinanti. Panen Perdana Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar.

Program itu bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi. Yang menggagas? Masyarakat Pelapis dan PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Di desa pesisir yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada laut, panen ikan lele dari kolam terpal, bukan sekadar peristiwa ekonomi.

Ia adalah simbol perubahan. Bahwa, upaya diversifikasi penghidupan bukan suatu hal mustahil, bahkan bagi masyarakat yang telah lama akrab dengan ombak dan jaring.

Sekitar empat kolam yang tersebar di tiga dusun, akhirnya dapat dipanen. Diperkirakan, hasil panen perdana mencapai sekitar 700 kilogram ikan lele.

Hujan ringan dan rintik yang turun sesekali, tak menyurutkan antusiasme warga. Anak-anak ikut mengintip dari pinggir kolam. Sementara para ibu, sibuk mengamati ikan yang diangkat ke permukaan.

Bagi mereka, inilah bukti nyata. Bahwa, kerja tak menghianati hasil. Kerja sabar selama 40–60 hari, tak sia-sia.

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar, Suaka, berdiri di dekat kolam. Senyum terus mengembang. Sulit untuk disembunyikan.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan, atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujarnya tulus.

Ia berharap, adanya budidaya ikan air tawar di RT 3, dapat menjadi tolok ukur bagi kawan-kawan di dua dusun lainnya.

Suaka bercerita, perjalanan menuju panen perdana, tidak selalu mulus. Namun, ada pendampingan tenaga lapangan dari PT Dharma Inti Bersama (DIB).

Petugas lapang secara rutin memantau kualitas air, dan mengatur pemberian pakan agar tidak berlebihan. Tantangan itu bisa dilalui.

“Waktu paling menyenangkan itu, saat memberikan umpan,” katanya sambil tersenyum.

Rasanya, hari-hari itu kalau bisa kasih makan ikan lele terus, katanya melanjutkan.

Ia senang dan bangga. Tantangan memelihara lele, sungguh memberikan pengalaman baginya. Kadang air kurang bagus, ada timbul penyakitnya.

“Tapi, alhamdulillah. Untuk kolam yang kami kelola ini, ikan yang sakit hanya satu dua,” tutur Suaka.

Suaka berharap, program ini tidak berhenti di satu titik.

Ia secara terbuka, minta dukungan pemerintah daerah. Agar, budidaya ikan air tawar, dapat menjadi sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan, bagi masyarakat Pelapis.

Harapan Baru

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi yang turut memantau proses sosialisasi program, menyampaikan harapan serupa.

Ia menegaskan, mengubah pola pikir masyarakat nelayan tangkap bukan perkara mudah. Namun, ia bersyukur karena pendekatan bertahap, akhirnya membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, hasil budi daya ikan tawar ini bagus,” kata Mikrad.

Menurutnya, keberhasilan panen membuka peluang besar ke depan. Produk ikan lele bisa menjadi sumber penghasilan tambahan, saat cuaca laut tidak bersahabat.

PT DIB siap menjadi penyerap hasil produksi.

Ia optimistis, jika dikelola dengan serius, budidaya lele yang kini masih menjadi usaha sampingan, dapat berkembang menjadi andalan perekonomian rumah tangga warga.

“Kan tidak selalu ke laut karena cuaca. Seperti, saat sekarang ini,” tambahnya.

Jadi, budi daya lele ini bisa menjadi penghasilan tambahan. Perekonomian masyarakat bisa meningkat.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan menjadi berkah untuk semuanya,” tutunya melanjutkan.

Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Hendra, yang hadir langsung menyaksikan panen perdana tersebut.

Kolaborasi Para Pihak

Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Menurutnya, Dinas Perikanan siap menurunkan tenaga pendamping dan membantu penyediaan bibit ikan.

“Pemerintah daerah akan memperjuangkan masyarakat nelayan. Program Kampung Nelayan Merah Putih terus didorong,” ujarnya.

Ia mengapresiasi setinggi-tingginya, peran PT DIB dan tim CSR yang telah konsisten membina masyarakat Pelapis.

“Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” kata Hendra memberi motivasi.

Mudah-mudahan ke depannya, belajar dari kegagalan, kita bisa maju lagi, tuturnya.

Kolam Lele Terpal
Staf Corporate Social Responsibility PT Dharma Inti Bersama, berjalan di samping kolam terpal Budidaya Perikanan Air Tawar Kolam Terpal di Desa Pelapis.(Ist)

Menurutnya, Pelapis memiliki keunggulan yang belum tentu dimiliki peternak lele di wilayah lain. Apa itu? Kepastian pasar. PT DIB siap menampung dan membeli panen lele warga.

“Mari kita jadikan ini momentum,” ujarnya mengajak warga.

Kelebihan Pelapis adalah, kalau warga bekerja, yang membeli sudah ada, yaitu PT DIB.

“Alhamdulillah, yang membeli sudah ada, tinggal kesiapan masyarakatnya,” ujarnya menegaskan.

Ia pun mendorong agar program budi daya ini terus dikembangkan. Tak hanya pada tahap pembesaran, tapi juga ke arah pembibitan dan pembuatan pakan mandiri.

Dengan demikian, rantai nilai ekonomi bisa semakin panjang, dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

PT DIB Siap Tampung

Sebagai perwakilan perusahaan, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa hadir di tengah masyarakat Pelapis, pada momen penting tersebut.

Ia menyatakan sangat senang dan gembira, bisa hadir di tengah warga. “Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele. Alhamdulillah berhasil dengan baik,” ujarnya.

Seno menjelaskan, program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama pada musim paceklik.

“Tidak perlu khawatir, ikan lele ini akan dikemanakan,” tegasnya.

Seno menegaskan, PT DIB menjamin akan membantu sepenuhnya, terkait hasil panen.

“Ikan lele ini pasti akan kami serap,” tuturnya dengan serius.

Ia juga memaparkan inovasi pengolahan hasil panen. Berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB. Ikan lele akan dimarinasi, untuk memperpanjang masa simpan, mengingat keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau.

Ke depan, ibu-ibu di Pelapis tergabung dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, sehingga membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga.

Panen bukan hanya menandai keberhasilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri kolektif.

Dari kolam terpal sederhana di Dusun Kelawar, masyarakat Pelapis belajar. Bahwa, perubahan butuh proses. Namun, selalu mungkin, jika dijalani bersama.

Sebagai penutup, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Hendra melantunkan pantun. Warga menyambut dengan senyum dan tepuk tangan.

“Kalau ada sumur di ladang,
boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan,
kenapa tidak kita coba lagi.”(ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *