Belantikan Berbisik, Indikasi Emas Mengubah Peta Eksplorasi Tambang Pulau Kalimantan

tambang emas

LAMANDAU, borneoreview.co – Kabut tipis masih menyelimuti hutan belantara Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, pagi itu.

Di balik rimbunnya pepohonan, aktivitas eksplorasi PT Kapuas Prima Coal Tbk terus berdenyut.

Namun, dentang bor dan petak-petak tanah yang menganga kali ini membawa kabar berbeda. Sebuah temuan tak terduga mengemuka: indikasi mineralisasi emas.

Laporan resmi perseroan ke Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 16 Januari 2026, mencatatnya dengan jelas.

“Adanya indikasi beberapa zona mineralisasi Au,” ujar Direktur ZINC, Hendra Susanto William.

Temuan ini terpusat di Prospek Gojo, bagian dari IUP seluas 5.569 hektare di Desa Bintang Mengalih.

Biaya sebesar Rp421 juta dikucurkan untuk aktivitas pemetaan detail, test pit, hingga trenching, membuka tabir potensi baru di tanah yang semula dikenal untuk timbal dan seng.

Suara Resmi dari Gedung ESDM

Gema temuan itu sampai ke meja kerja Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno.

Di kantornya, ia menerangkan dengan tenang sekaligus tegas. Ini bukan fenomena luar biasa, melainkan sesuatu yang “normal” dalam dinamika geologi. Tri Winarno menegaskan, setiap tahap eksplorasi wajib dicatat dengan teliti.

“Kemudian apabila di dalam FS (feasibility study) itu ada mineral-mineral berharga lainnya, ya ditulis,” katanya kepada awak media.

Dia juga melanjutkan dengan penjelasan ilmiah yang meruntun, “Nah, kalau misalnya di sana ada, kalau terjadinya emas, perak itu kan satu pembentukan kan? Dia ada emas, perak, timbal, seng.”

Suaranya berirama pasti, mengukuhkan pemahaman. “Dan itu memungkinkan untuk terjadinya itu ada gitu loh, memungkinkan memang. Bukan ini kan bukan barang pabrik, bukan ini. Pada saat pembentukan ya memang ada.”

Pernyataan ini menjadi penegas bahwa temuan ZINC ialah bagian alamiah dari proses pembentukan mineral, bukan kejadian instan.

Kuncinya, menurut Tri Winarno, terletak pada laporan feasibility study. Studi kelayakan itu yang akan menentukan apakah potensi ini layak dikembangkan menuju produksi, atau tetap menjadi catatan dalam arsip geologi.

Jejak Lanjutan Masa Depan

Dengan temuan awal ini, narasi untuk Bintang Mengalih mulai berubah. ZINC telah menyusun rencana lanjutan.

Fokus kini tertuju pada pemetaan detail lebih mendalam, uji cebakan tambahan, serta relogging hasil pemboran sebelumnya.

Semua akan dibingkai dalam konsep model endapan baru, guna mengurai lebih jernih potensi yang tersembunyi.

Langkah ini mencerminkan siklus pertambangan yang penuh kejutan. Sebuah perusahaan yang berdiri sejak 2005 dan berkutat pada galena, timbal, seng, dan perak, kini berhadapan dengan kilau lain dari perut bumi yang sama.

Kisah Kapuas Prima Coal dan Belantikan Raya menjadi potret nyata bahwa bumi selalu menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terbaca.

Setiap lapisan tanah yang dibuka bukan sekadar urusan teknis dan laporan kuartalan, melainkan juga sebuah petualangan ilmiah yang menanti untuk dituturkan.

Temuan emas ini, bagaimanapun akhirnya, telah menambahkan satu ayat baru dalam epik panjang hubungan manusia dengan kekayaan alam Kalimantan.

Ia mengingatkan bahwa di bawah akar-akar pohon ulin dan aliran sungai purba, sejarah mineralisasi terus berbicara.

Menunggu untuk didengar, dicatat, dan dimaknai—baik sebagai berkah ekonomi maupun sebagai pelajaran tentang betapa dinamisnya perut ibu pertiwi.

Temuan indikasi emas oleh Kapuas Prima Coal di jantung Kalimantan Tengah ini bukan sekadar berita bisnis biasa.

Ia adalah sebuah narasi geologis yang hidup, sebuah fragmen dari epik panjang pembentukan bumi Nusantara.

Kisah ini menyentuh pada relasi tak terduga antara manusia, ekspektasi, dan alam yang selalu mampu mengejutkan.

Pertama, ada dimensi “kejutan geologis”. Tambang yang beroperasi dengan basis data timbal dan seng tiba-tiba menemukan kilau emas.

Ini mengonfirmasi kata Tri Winarno alam bukan pabrik, ia adalah entitas kompleks dengan sejarah panjang.

Proses magmatik dan hidrotermal jutaan tahun silam sering menghasilkan asosiasi mineral, di mana emas, perak, timbal, dan seng bisa terikat dalam satu sistem genetis yang sama.

Temuan di Belantikan Raya kemungkinan besar adalah bagian dari sistem epitermal atau tipe deposit logam dasar tertentu yang memang membawa emas sebagai by product.

Ini cerita tentang bagaimana para geolog dan penambang, dengan segala teknologi modern, tetap harus berhadapan dengan misteri bumi yang tak sepenuhnya terpetakan.

Kedua, aspek regulasi dan transparansi. Respons ESDM melalui Tri Winarno menunjukkan tata kelola pertambangan yang berusaha menyeimbangkan antara insentif eksplorasi dan akuntabilitas.

Penekanan pada kewajiban pencatatan dalam FS merupakan mekanisme pengawasan preventif.

Ia mencegah potensi penyembunyian data (concealment) sekaligus memastikan setiap sumber daya teridentifikasi untuk kepentingan perencanaan nasional.

Laporan ke BEI oleh ZINC juga mencerminkan peningkatan transparansi korporasi di sektor ekstraktif, sebuah langkah penting untuk membangun kepercayaan publik dan investor.

Ketiga, implikasi sosio-ekonomi lokal. Nama “Bintang Mengalih” dan “Belantikan Raya” mungkin asing di telinga banyak orang.

Namun, temuan ini berpotensi mengubah peta ekonomi wilayah. Eksplorasi lanjutan berarti aktivitas, lapangan kerja, dan perputaran ekonomi baru.

Namun, di balik itu, selalu ada bayangan kecemasan: akankah emas membawa kemakmuran berkelanjutan atau justru konflik dan degradasi lingkungan?

Cerita-cerita dari tambang emas lain di Indonesia menjadi referensi pahit manis yang tidak boleh diabaikan.

Keempat, dari sisi korporasi, ini adalah momen strategis bagi ZINC. Temuan ini bisa menjadi katalis untuk diversifikasi portofolio dan nilai perusahaan. Namun, jalan menuju produksi emas masih panjang dan penuh ongkos.

FS harus membuktikan kadar, tonase, dan ekonomi teknis yang viable. Ini adalah titik balik naratif perusahaan, dari “penambang timbal-seng” menjadi “perusahaan dengan potensi emas”.

Ini lebih dari sekadar temuan mineral. Ia adalah cerita tentang interaksi sains, kebijakan, bisnis, dan harapan.

Sebuah reminder bahwa di era algoritma dan data digital, kita masih sangat bergantung pada rahasia disimpan lapisan batuan purba.

Kisah emas Belantikan adalah satu babak lagi dalam dialog abadi antara manusia dan kekayaan alamnya dialog harus dijaga agar tetap beradab, transparan, dan berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *