Nadi Batu Bara: Napas Panjang Dua Tambang dalam Genggaman Darma Henwa

batu bara

TANAH LAUT, borneoreview.co – Angin pagi masih menyisakan dinginnya malam ketika matahari mulai menyapa lereng-lereng yang telah terkupas di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Di sana, di antara hamparan tanah overburden dan jejak roda raksasa alat berat, denyut nadi ekonomi terus berdetak.

Detak itu mendapatkan irama barunya, sebuah ritme yang dijamin untuk langkah-langkah panjang ke depan.

Sebuah dokumen, ditandatangani di suatu meja rapat pada Senin kelam di pertengahan Januari, menjadi lebih dari sekadar hitam di atas putih.

Ia adalah janji, adalah nafas, adalah cerita tentang keberlanjutan yang ditulis dengan tinta emas kepastian.

PT Darma Henwa Tbk, sang penyedia jasa, dan PT Arutmin Indonesia, sang pemegang kuasa, kembali mengikat tali kerja sama untuk proyek Kintap dan Asam Asam.
Nilainya fantastis Rp 10,5 triliun. Tapi, di balik angka menggurita itu, tersirat sebuah narasi ketekunan, kepercayaan, dan simbiosis industri di atas tanah yang kaya raya.

“Penandatanganan perjanjian perpanjangan kontrak life of mine memberikan kepastian jangka panjang atas kegiatan operasional perseroan serta berdampak positif terhadap kinerja dan kondisi keuangan perseroan,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Darma Henwa, Mukson Arif Rosyidi, dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu dini hari 21 Januari 2026.

Untaian kata itu terdengar lugas, teknis, khas dunia korporasi. Namun, bagi telinga peka, ada sebuah melodi ketenangan di baliknya.

Kepastian jangka panjang, frase itu bagai oase di tengah ketidakpastian iklim investasi global saat ini.

Ia bukan sekadar klausul hukum, melainkan pondasi untuk membangun mimpi-mimpi operasional, merencanakan strategi pembelian alat, hingga menjamin kontinuitas kerja bagi ribuan tangan yang menggantungkan hidup pada deru mesin tambang.
Kontrak life of mine ini adalah komitmen untuk menggarap hingga cadangan habis, sebuah pernikahan industri langgeng.

Estimasi volumenya mencengangkan 252 juta bank cubic meter overburden dan 50 juta ton batu bara akan dipindahkan dan diambil dari perut bumi Pulau Kalimantan bagian selatan itu.

Angka-angka itu bukan statistik mati. Ia adalah cerita tentang perjalanan bumi, dari kedalaman gelap ke terangnya permukaan, tentang energi akan menghidupkan roda-roda industri di tempat lain.

Proyek Asam Asam, dalam kontrak lama, rata-rata menyumbang 17,3 juta bcm overburden dan 2,8 juta ton batubara per tahun.

Sementara Kintap, lebih besar lagi: 25,3 juta bcm overburden dan 3,8 juta ton batubara tiap periode.

Ini adalah ritme produksi yang telah teruji, sebuah simfoni produktivitas kini mendapatkan konduktor untuk jangka waktu lebih panjang.

Buyback Sebagai Kepercayaan

Sebelum tinta tanda tangan di kontrak baru mengering, Darma Henwa telah memberikan sinyal lain tentang keyakinan terhadap masa depannya. Sinyal itu berupa aksi nyata di pasar modal.

Darma Henwa realisasikan buyback Rp 480 miliar hingga 19 Januari 2026, beli 867 juta saham dari dana Rp 950 miliar.

Aksi buyback agresif ini adalah bahasa pasar yang gamblang. Ia bisikan percaya diri manajemen bahwa harga saham perusahaan dianggap undervalued.

Ini sekaligus komitmen untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham. Dalam satu tarikan napas, perusahaan meraih kepastian pendapatan lewat kontrak baru dan sekaligus menunjukkan kekuatan finansial serta optimismenya lewat aksi di lantai bursa.

Dua langkah strategis ini berjalan beriringan, membentuk narasi korporasi yang solid dan forward looking.

Cerita di Balik Roda Raksasa

Ia ada di wajah operator ekskavator yang kini bisa merencanakan pendidikan anaknya hingga ke jenjang lebih tinggi karena kepastian kerja.

Ia ada di denyut ekonomi warung-warung makan di sekitar lokasi tambang, di pasar-pasar tradisional ramai oleh belanja karyawan.

Di sektor jasa logistik yang mengular mengangkut peralatan. Kontrak senilai triliunan ini adalah denyut kehidupan bagi seluruh ekosistem di sekitar Kabupaten Tanah Laut.

Ia memastikan bahwa roda ekonomi tidak hanya berputar, tetapi melaju dengan kecepatan konstan, menciptakan stabilitas sosial di tengah dinamika komoditas batu bara kerap fluktuatif.

Bumi Kalimantan memang memberikan kekayaan, tetapi yang mengubah kekayaan itu menjadi kemakmuran adalah keputusan-keputusan bisnis berani seperti perpanjangan kontrak ini.

Lahan Bekas Tambang

Dokumen perpanjangan kontrak itu kini disimpan rapi. Tapi efeknya bergema jauh melampaui lemari arsip.

Ia adalah awal babak baru dari sebuah hubungan kemitraan telah teruji. Ia adalah modal untuk berinovasi.

Meningkatkan produktivitas dengan teknologi lebih ramah lingkungan, dan tentu saja, memenuhi tanggung jawab reklamasi pascatambang dengan lebih terencana.

Life of mine bukan sekadar tentang mengeruk sampai habis, melainkan tentang komitmen mengelola satu siklus kehidupan lahan tambang secara utuh, dari eksplorasi hingga restorasi.

Pada akhirnya, berita ini bukan cuma tentang DEWA dan Arutmin. Ini tentang ketahanan industri pertambangan nasional.

Ini tentang kepercayaan investor, serta tentang puluhan ribu cerita kecil keluarga masa depannya turut diikat dalam ikatan kerja sama korporasi raksasa.
Di Kabupaten Tanah Laut, kontrak telah diperpanjang. Dan dengan itu, harapan pun diperbarui.

Sepanjang sungai, dari Kintap hingga Asam Asam, masa depan terus ditulis, satu hari kerja pada satu waktu, di atas tanah menjanjikan, di bawah langit Kalimantan yang sama.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *