Lubang Emas Nanggung Bogor Menelan Belasan Nyawa, Duka Dampak Tambang Tak Usai

Tambang emas

BOGOR, borneoreview.co – Angka kematian kembali bertambah. Lubang tambang emas wilayah Nanggung Kabupaten Bogor seolah menolak kata selesai.

Hingga Kamis (22/1/2026), korban meninggal dunia tercatat sebelas orang. Sebelas nyawa terhenti di ruang sempit tanah basah beraroma asap.

Emas berkilau tak lagi tampak berharga saat tubuh manusia terbaring sunyi. Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan memastikan seluruh korban telah dievakuasi.

Aparat menyerahkan jasad kepada keluarga. Proses pemakaman berlangsung tanpa sorot lampu berlebih.

Duka itu berbicara pelan, namun menggema lama. Kutipan resmi ia sampaikan di hadapan wartawan.

“Sudah kita selamatkan itu kurang lebih berjumlah 11 orang dari semuanya itu dan sudah diserahkan atau sudah kembali kepada keluarganya untuk selanjut dilakukan pemakaman,” kata Rudi Setiawan.

Kalimat pendek itu terdengar administratif. Namun di balik kata terlipat kisah pilu. Tangis keluarga bercampur tanah merah. Lubang emas berubah liang sunyi.

Peristiwa ini menampar nalar publik. Tambang emas rakyat sering disebut jalan hidup. Kenyataan di lapangan berubah lorong maut.

Keselamatan kerap kalah oleh kebutuhan. Kasus pahit ini lahir saat logam mulia justru memuliakan bahaya.

Evakuasi Aparat Bogor

Aparat kepolisian bersama pemerintah daerah turun langsung ke lokasi. Rudi mengaku menyaksikan proses lapangan. Posko pengaduan berdiri.

Posko operasi penyelamatan aktif sejak laporan warga masuk. Warga melapor adanya orang tak kembali dari lubang tambang.

“Saya melihat langsung bagaimana teman teman sudah mendirikan posko posko pengaduan posko operasi penyelamatan ini kami utamakan dalam peristiwa ini,” ujar Rudi.

Evakuasi berlangsung bertahap. Hambatan datang dari asap pekat keluar dari lubang. Tim SAR bergerak perlahan.

Keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama. Tambang sempit memerangkap oksigen. Setiap langkah memikul risiko.

Sejak Minggu 18 Januari lima korban lebih dulu terangkat. Data korban bertambah seiring pencarian lanjutan.

Polisi membuka posko orang hilang. Keluarga berdatangan membawa harap tipis. Nama disebut satu per satu. Tidak semua pulang bernyawa.

Di titik inilah mencatat ironi. Negara hadir setelah tragedi. Lubang emas terbuka lama.

Aktivitas berlangsung senyap. Pengawasan sering tertinggal. Ketika maut tiba barulah sirene berbunyi.

Asap Gas Tambang

Penyebab insiden masih diselidiki. Rudi menyampaikan laporan awal terkait kandungan karbon monoksida.

Gas CO terdeteksi. Namun menurut laporan sementara kadar masih berada ambang batas aman.

“Kita penyebabnya situasi di dalam yg dapat diinformasikan kepada saya bahwa masih ada asap yg mengandung CO dan itu masih di ambang batas aman,” kata Rudi.

Pernyataan ini memantik tanya. Ambang aman bagi siapa. Bagi alat ukur atau bagi paru manusia.

Tambang rakyat jarang memiliki ventilasi memadai. Gas beracun bekerja diam. Korban sering tak sempat berteriak.

Asap keluar dari lubang menjadi misteri. Sumber belum teridentifikasi. Bisa berasal dari pembakaran internal.

Bisa akibat reaksi kimia alami. Penyelidikan berjalan namun waktu telah merenggut nyawa.

Operasi pencarian akhirnya dihentikan sementara. Kapolsek Nanggung AKP Ucup Supriatna menyebut keputusan diambil Selasa sore 20 Januari 2026. Tim SAR gabungan tak menemukan korban tambahan.

“Hasil pencarian terakhir sore itu tidak menemukan korban lagi. Apa ditunjukkan oleh saksi pun tidak ada di lokasi pencarian,” kata Ucup.

Basarnas bersama Emergency Response Group PT Antam menyepakati penghentian. Meski demikian pendalaman informasi warga tetap dilakukan. Hingga kini laporan korban baru belum masuk.

Duka Warga Nanggung

Di balik data terdapat wajah manusia. Nanggung bukan sekadar titik peta. Ia rumah bagi keluarga penambang.

Banyak warga menggantungkan hidup pada lubang tanah. Pilihan terbatas mendorong langkah berani. Risiko sering disadari namun diabaikan.

Sebelas korban meninggalkan anak istri orang tua. Kehilangan berubah rutinitas baru. Meja makan kosong. Sawah sunyi. Duka menempel lama.

Masalah hidup muncul pahit. Negeri kaya sumber daya namun miskin perlindungan. Emas digali tanpa standar.

Soal keselamatan dianggap bonus. Ketika maut datang negara hadir membawa pita garis polisi.

Tragedi ini bukan sekadar insiden. Ia cermin tata kelola. Lubang ilegal tumbuh akibat pembiaran panjang.

Penegakan hukum sering hadir pascakejadian. Sejurus kemudian, publik bertanya sampai kapan pola berulang.

Tragedi Nanggung Bogor Jawa Barat menuntut lebih dari belasungkawa. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan.

Pengawasan tambang rakyat harus konkret. Edukasi keselamatan wajib berjalan. Aparat daerah tak boleh menunggu laporan duka.

Sebelas nyawa menjadi pengingat keras. Lubang emas tak boleh terus menelan manusia. Semua mencatat agar lupa tak berulang. Kata ditulis padat agar pesan sampai.

Peristiwa ini mengakhiri hari dengan duka. Namun harap tetap disematkan. Semoga tak ada lubang baru membuka cerita sama. Semoga emas tak lagi dibayar nyawa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *