Green Mining Bukan Cuma Gincu IWM 2026, Uji Nalar Tambang Nasional

Indonesia Weekend Miner 2026

JAKARTA, borneoreview.co – Sabtu ceria akhir pekan kerap identik rehat pikiran. Namun Sabtu ini berbeda.

Di tengah kota Senayan Jakarta, ketika ekonomi nasional merapatkan jaket akibat cuaca global tak bersahabat, para pelaku tambang memilih berkumpul.

Bukan pesta. Bukan pula seremoni kosong. Indonesia Weekend Miner 2026 justru hadir membawa kegelisahan kolektif.

Forum ini berlangsung sederhana. Tanpa panggung berlebihan. Tanpa jargon berkilau. Namun percakapan mengalir tajam.

Isu tak disapu karpet. Justru dikuliti pelan pelan. Tema besar industri pertambangan tak lagi sekadar laba. Green mining naik ke meja utama.

Direktur Jenderal Mineral Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, membuka diskusi tanpa basa basi. Nada bicara tenang. Namun makna pernyataan menekan kesadaran.

“Komunikasi intens sangat diperlukan dan harus diperluas dengan stakeholder lainnya. Terhadap isu isu akhir akhir ini kita komunikasikan agar ada penyelesaian atau solusinya,” ucap Tri Winarno.

Kutipan itu bukan sekadar formalitas pejabat. Ia terdengar sebagai pengakuan jujur. Industri tambang tengah menghadapi krisis kepercayaan.

Kini publik juga semakin kritis. Pasar global makin selektif. Lingkungan tak lagi objek kompromi.

Tri Winarno juga menekankan komunikasi lintas aktor. Pemerintah tak bisa berdiri sendiri.

Pelaku usaha tak bisa berjalan tanpa koreksi. Masyarakat lokal tak boleh kembali menjadi penonton.

Dalam narasi ini green mining bukan cat tembok belaka. Bukan cuma pula gincu laporan tahunan.

Ia berubah menjadi ujian nalar. Apakah industri sanggup berbenah saat tekanan ekonomi meningkat.

Ketua Umum API IMA, Rachmat Makassau, memotret tahun 2025 sebagai fase berat. Lanskap global berubah cepat. Harga komoditas fluktuatif. Kebijakan hilirisasi memaksa adaptasi.

“IWM 2026 kami hadirkan sebagai momentum refleksi bersama untuk menemukan langkah strategis. API IMA sebagai mitra pemerintah berkomitmen mendukung sektor pertambangan nasional berdaya saing berkelanjutan,” kata Rachmat Makassau.

Pernyataan ini terdengar normatif. Namun konteks forum memberi bobot lain. API IMA sadar industri tak bisa mengulang pola lama.

Hilirisasi memerlukan investasi besar. Kesalahan kecil berdampak panjang. Refleksi kolektif menjadi kata kunci.

Forum ini tak menjanjikan jawaban instan. Namun membuka ruang jujur. Diskusi lintas pelaku menjadi kebutuhan mendesak.

Hilirisasi bukan sekadar pabrik. Ia juga menyentuh rantai pasok. Menyentuh serap tenaga kerja.

Menyentuh relasi daerah pusat. Tanpa tata kelola bersih hilirisasi berisiko menjadi beban baru.

Investasi Tambang Hijau

Perwakilan Kementerian Investasi Hilirisasi, Mohamad Faizal, memaparkan perihal data menarik.

Minat investasi tetap tumbuh. Pemerintah menawarkan karpet merah melalui insentif fiskal non fiskal.

Tax holiday. Tax allowance. Fasilitas masterlist impor bahan baku. Semua disiapkan dengan rapi.

Namun begitu, Mohamad Faizal tak menutup mata. Investasi padat modal butuh kepastian jangka panjang.

Di titik ini masalah muncul pelan. Insentif berlimpah kerap kontras realitas lapangan. Perizinan berlapis. Konflik sosial laten. Isu lingkungan terus menghantui.

Forum IWM 2026 mencoba menjembatani jurang tersebut. Investasi hijau bukan sekadar angka presentasi. Ia menuntut kepastian regulasi konsisten. Menuntut pengawasan nyata.

Green mining tak lahir dari baliho. Ia tumbuh dari disiplin panjang. Dari keberanian menolak praktik lama.

ESG Industri Tambang

Diskusi bergeser ke prinsip ESG. Environmental Social Governance. Istilah ini sering terdengar megah. Namun implementasi kerap tertatih.

Para peserta sepakat ESG bukan tambahan kosmetik. Ia fondasi daya saing. Pasar global memberi sinyal jelas. Produk tambang tanpa jejak etika bakal ditinggalkan.

Komitmen perlindungan lingkungan menjadi benang merah. Reklamasi pascatambang. Pengelolaan limbah. Keterlibatan masyarakat lokal. Semua masuk satu tarikan napas.

Dalam suasana mendayu dayu forum ini ESG diperlakukan sebagai nurani industri. Bukan kewajiban administratif. Bukan pula sekadar laporan keberlanjutan.

Ketika ekonomi melambat godaan memotong standar muncul. IWM 2026 justru menantang kebiasaan itu. Bertahan jangka panjang membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan lahir dari konsistensi.

Dialog Tambang Publik

Forum dihadiri sekitar 150 peserta. Angka kecil. Namun intensitas diskusi tinggi. Tidak ada jarak kaku antara pejabat pengusaha analis.

Casual Mining Dialogue menjadi ruang aman. Kritik disampaikan tanpa marah. Aspirasi diserap tanpa defensif.

API IMA sebagai asosiasi tertua memikul tanggung jawab moral. Bukan hanya memperjuangkan kepentingan anggota. Namun menjaga wajah industri di mata publik.

Indonesia Weekend Miner 2026 menjadi kelanjutan Indonesia Mining Summit 2023 2024. Namun nuansanya berubah. Lebih reflektif. Lebih membumi.

Di tengah morat-marit kondisi ekonomi nasional forum ini menjadi pengingat. Tambang bukan sekadar bisnis.

Ia menyentuh hajat hidup. Ia meninggalkan jejak panjang. Soal ini terasa halus. Green mining disebut berulang.

Seolah bertanya diam diam. Apakah industri siap menepati janji. Di akhir forum tak ada deklarasi bombastis.

Tak ada janji muluk. Namun satu pesan mengendap. Masa depan pertambangan ditentukan hari ini.

IWM 2026 menutup Sabtu ceria dengan pekerjaan rumah berat. Industri tambang diuji. Bukan oleh harga komoditas. Melainkan oleh nurani kolektif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *