Aula LPHD Sungai Jawi, Jejak Sunyi SAMPAN Kalimantan Pesisir Desa

Aula LPHD

KUBU RAYA, borneoreview.co – Siang terasa teduh di Desa Sungai Jawi. Angin sungai bergerak pelan. Warga berkumpul tanpa hiruk.

Di titik itulah sebuah aula berdiri. Bukan sekadar bangunan. Ia menjadi penanda niat bersama.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, hadir meresmikan Aula Lembaga Pengelola Hutan Desa LPHD Sungai Jawi, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Peristiwa pada Senin, 26 Januari 2026 itu juga tercatat sederhana namun bermakna panjang.

“Mudah mudahan aula ini bisa dimaksimalkan dalam rangka untuk multifungsi pertemuan rakyat setiap saat,” ucap Sujiwo di hadapan warga.

Makna Peristiwa Penting

Peresmian berlangsung singkat. Gestur politik terasa tipis. Substansi sosial justru menebal.

Aula hadir sebagai ruang temu. Warga desa memperoleh tempat musyawarah tanpa sekat. Pemerintah daerah memberi sinyal dukungan nyata.

Sumbangan triplek serta perangkat tata suara diserahkan langsung kemudian harinya. Kalimat terima kasih terucap singkat.

“Terima kasih kepada SAMPAN,” kata Bupati Sujiwo.

Sungai Jawi Berdaya

Sungai Jawi menjadi nadi hidup. Air mengalir membawa cerita hulu hingga pesisir. Desa tumbuh dari arus itu.

Sejarah Kalimantan Barat lekat bersama sungai. Mobilitas ekonomi bergantung perahu. Relasi sosial terajut lewat air.

Aula LPHD berdiri tidak terpisah dari konteks tersebut. Ia mengikat ingatan kolektif tentang perhutanan desa.

Ada Peran LPHD

LPHD Sungai Jawi berfungsi sebagai pengelola hutan desa. Mandat publik melekat kuat. Kelola hutan berbasis warga menuntut ruang deliberasi.

Aula menjawab kebutuhan itu. Rapat warga dapat berlangsung rutin. Pendidikan lingkungan memperoleh panggung.

Resolusi konflik lahan dapat dibahas terbuka. Transparansi tumbuh perlahan.

Nama SAMPAN Kalimantan hadir dalam setiap jejak awal. Perkumpulan Sahabat Pesisir Pantai lahir 5 Juni 2009.

Organisasi sipil ini berakar dari kesadaran ekologis. Pulau Kalimantan dikenal sebagai pulau seribu sungai. Sampan menjadi simbol mobilitas rakyat. Dari simbol itu lahir kerja nyata.

SAMPAN Kalimantan berkiprah mendampingi masyarakat daerah aliran sungai serta wilayah pesisir.

Fokus utama terletak pada pengelolaan sumber daya alam adil berkelanjutan. Kerja lapangan menjadi napas.

Pendampingan desa berlangsung konsisten. Studi serta dokumentasi dikerjakan telaten. Model kelola alternatif dipromosikan lintas ruang.

Visi SAMPAN Kalimantan menegaskan sistem adil berkelanjutan bagi daerah aliran sungai serta pesisir.

Kesejahteraan rakyat menjadi tujuan akhir. Prinsip keadilan ekologis menuntun langkah. Kelestarian alam ditempatkan setara kebutuhan sosial ekonomi.

Misi organisasi menekankan penguatan daya lenting masyarakat. Pemberdayaan menjadi metode utama.

Pengetahuan lokal dihargai. Praktik tradisi dirawat. Riset partisipatif melengkapi advokasi kebijakan. Upaya adaptasi mitigasi perubahan iklim mendapat perhatian serius.

Sungai Jawi Bergerak

Kehadiran aula ini juga mempertegas kolaborasi. Pemerintah daerah bertemu organisasi sipil. Menyatu. Melaju.

Warga desa menjadi subjek utama. Sinergi terbangun tanpa retorika berlebih. Agenda pembangunan desa memperoleh ruang konkret. Hutan desa tidak lagi wacana abstrak.

Peresmian membawa pesan kebijakan. Dukungan fasilitas publik memberi legitimasi program perhutanan sosial.

Desa Sungai Jawi menjadi contoh praktik baik. Pemerintah daerah menunjukkan keberpihakan. Organisasi masyarakat sipil memperoleh mitra setara.

Ruang aula membuka peluang interaksi lintas generasi. Pemuda desa dapat berkegiatan kreatif.

Perempuan desa memiliki ruang aman berdiskusi. Kelompok tani hutan dapat menyusun rencana kerja. Keputusan kolektif lahir dari dialog.

Ada Dimensi Ekologi

Pengelolaan hutan desa menuntut keseimbangan. Ekonomi lokal bertumbuh seiring konservasi. Aula berfungsi pusat edukasi.

Materi restorasi mangrove pesisir dapat dipresentasikan. Pengawasan hutan berbasis warga diperkuat.

Sungai membentuk logika sebab akibat. Hulu memengaruhi pesisir. Kerusakan hulu berdampak banjir serta sedimentasi.

SAMPAN Kalimantan membaca relasi itu sejak awal. Program kerja disusun menyeluruh. Desa Sungai Jawi menjadi simpul penting.

Etos Kerja Penyemangat

Kerja sunyi menjadi ciri. Tidak banyak spanduk. Tidak banyak seremoni. Hasil terasa nyata. Aula berdiri. Warga berkumpul. Dialog berlangsung. Nilai partisipasi tumbuh.

Ini mencerminkan praktik pembangunan berbasis komunitas. Fakta lapangan berbicara lebih lantang. Aula LPHD Sungai Jawi menjadi arsip hidup. Ia mencatat relasi negara warga alam.

Di tepi paret itu, aula berdiri tenang. Kayu triplek menyatu suara warga. Tata suara menguatkan pesan musyawarah.

Desa Sungai Jawi melangkah pelan namun pasti. SAMPAN Kalimantan menorehkan jejak konsisten.

Pemerintah daerah hadir memberi dukungan. Dari ruang sederhana, masa depan hutan desa dirundingkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *