Cisarua Menuai Duka

Cisarua

Oleh: Tri Budiarto

Cisarua menuai duka

Daging tubuhnya menganga dihias luka

Derasnya hujan membawa petaka

Alam sedang murka kata mereka

Sulitnya mengaku peristiwa itu ulah manusia

Menilai hutan dan segala isinya hanya sumber harta

Tebing dan bukit indah sekadar bermakna panorama

Manusia lupa bahwa ia penjaga keselamatan kita

Air hujan menggerojog dari atas tak dapat ditahan

Semua yang di bawah disiram dengan merata

Berlari hanya sia-sia, seolah tak bermakna

Berucap doapun mereka lupa

Teriakan korban tak sempat menggema

Tangisannya hanya bersuara sementara

Semua tenggelam dalam pusara

Tinggalkan keluarga yang masih di desa

Ratusan orang berdiri di tepi jalan

Matanya mengarah pada tumpukan tanah basah yang menggunung

Doa dipanjatkan, shalawat dikumandangkan

Berharap tak ada korban barang seorang

Banyak yang tak menyangka saat mendengar berita

Puluhan nyawa tak dapat diselamatkan walau sedetik

Menambah panjang masa kita untuk berduka dan berkabung

Orang saling berbantah dan mencari siapa yang bersalah

Alam mempunyai kemampuan dan daya tahan yang terbatas

Ia ingin hidup seimbang dan alami tanpa diganggu manusia

Biarkan pucuk Pinus terus menjulang mencapai awan

Bebaskan rantingnya melebar kemana ia mau

Pahami alam seperti alam memahami kita

Lindungi alam seperti alam melindungi kita

Jagalah alam seperti alam menjaga kita

Cisarua berhentilah berduka, kami akan merawatmu

(Jakarta, 27 Januari 2026)

*Penulis merupakan (Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *