JAKARTA, borneoreview.co – Gawat benar nasib nikel. Di saat komoditas global berpesta kenaikan harga, logam perkasa ini justru terjungkal.
Data Trading Economics membuktikan harga nikel ambles 2,90 persen dalam sepekan ke posisi US$ 17.227,88 per ton. Dramatis? Tentu. Tapi ini fakta pahit yang harus ditelan pelaku pasar.
Saksikan bagaimana saham-saham tambang nikel berjatuhan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) paling mengenaskan—terperosok 21,52 persen ke Rp 6.200.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ikut limbung 16,37 persen. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) pun tak berdaya dengan pelemahan 11,69 persen.
PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) melengkapi daftar panjang korban.
Apa gerangan yang terjadi? Mengapa logam andalan Indonesia ini mendadak kehilangan pesona?
Analisis Riset
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, membuka tabir misteri. Para investor global tengah demam pindah haluan. Mereka berbondong-bondong meninggalkan sektor logam dasar.
“Akhir-akhir ini fokus investor beralih ke aset safe haven dan energi seperti emas dan migas lantaran memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah,” ungkap Wafi.
Logika sederhana, ketika dunia memanas, pelarian modal ke aset aman adalah keniscayaan. Nikel yang sangat sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi ditinggalkan begitu saja.
Ironis memang, di tengah isu perang, orang lebih percaya emas ketimbang logam industri.
“Mereka pun meninggalkan sektor logam dasar seperti nikel yang relatif sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Tapi tunggu, bukankah pemerintah sedang gencar membenahi tata kelola tambang? Bukankah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sempat diperketat?
Nyatanya, semua itu belum cukup mengangkat harga nikel dari kubangan oversupply.
“Sebab, masih ada kondisi oversupply struktural nikel global dan perlambatan adopsi kendaraan listrik,” Wafi mengingatkan.
Kombinasi mematikan. Pasokan berlebih di tingkat global plus mimpi kendaraan listrik yang belum sepenuhnya terwujud.
Ada Fase Tunggu
Kiswoyo Adi Joe, Co-Founder AP Trading Insight Singapore, menyebut pasar nikel sedang galau. Para spekulan memilih menepi, mengamati dari kejauhan.
“Investor perlu kepastian seperti apa situasi dan kondisi pasar nikel setelah diberlakukannya kebijakan pengurangan produksi,” kata Kiswoyo.
Kegalauan makin menjadi karena ada kabar smelter lokal kesulitan bahan baku. Ironi negeri tambang produksi dibatasi, smelter kelaparan, harga tetap jeblok. Sungguh skenario yang tak berpihak pada siapa pun.
Di tengah kepanikan massal, Kiswoyo justru melihat secercah harapan untuk INCO. Model bisnis terintegrasi dan pengembangan tiga smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi tameng di tengah badai.
Wafi sependapat. Emiten dengan integrasi hulu-hilir, cash cost rendah, dan fokus nikel kelas 1 (Mixed Hydroxide Precipitate/MHP) bakal bertahan lebih kuat.
Ditambah akses energi murah, margin mereka terjaga meski harga komoditas limbung.
Bagi investor nekat yang masih kepincut sektor ini, Wafi memberikan target harga spesifik:
– INCO: Rp 8.500 per saham
– NCKL: Rp 2.000 per saham
– MBMA: Rp 700 per saham
Satu hal menggelitik dari drama ini investor disebut menanti dampak pemangkasan produksi nikel nasional. Mereka ingin bukti, bukan sekadar janji manis.
Sementara di sisi lain, kabar smelter kesulitan pasokan justru memicu kekhawatiran baru.
Bukankah ini paradoks? Kita memproduksi nikel, kita membangun smelter, tapi pasokan malah tersendat.
Lalu harga dunia tetap anjlok karena oversupply global. Pertanyaannya sekarang: siapa sebenarnya yang paling dirugikan dari kebijakan pengurangan produksi ini?
Smelter lokal? Investor? Atau justru negara sendiri? Di pasar modal, ketidakpastian adalah monster paling ditakuti.
Dan hingga saat ini, sektor nikel Indonesia sedang dikepung monster itu dari berbagai arah.***
