JAKARTA, borneoreview.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alat bernama EroSlide untuk memantau berbagai parameter, seperti curah hujan, limpasan permukaan (runoff), infiltrasi, serta jumlah sedimen secara terintegrasi dan real time berbasis Internet of Things (IoT).
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN Nendaryono Madiutomo dalam keterangan di Jakarta, Minggu, (26/4/2026), menjelaskan EroSlide dilengkapi berbagai sensor, antara lain sensor curah hujan tipe tipping bucket, sensor beban (load cell) untuk mengukur sedimen, serta sensor aliran untuk menghitung limpasan air.
“Data yang dihasilkan kemudian dikirim dan diolah secara terpusat, sehingga dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut, termasuk pemetaan potensi erosi dan longsor,” katanya.
Nendaryono menyebutkan alat ini telah diuji di lahan miring dengan kemiringan cukup terjal dan menunjukkan kemampuan dalam merekam data secara kontinu. Ke depan, sistem ini akan dikembangkan dengan penambahan sensor lain, seperti kelembapan tanah, pH, dan suhu, guna meningkatkan akurasi analisis.
Ia menambahkan teknologi ini berpotensi dikembangkan menjadi sistem peringatan dini longsor. Hal ini didasarkan pada keterkaitan erat antara intensitas erosi dan potensi terjadinya longsor di suatu wilayah.
Dengan pemahaman ilmu yang mendalam yang didukung teknologi inovatif seperti EroSlide, Nendaryono berharap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif dan bijaksana.
“Data yang akurat menjadi dasar penting dalam memprediksi potensi bencana serta mengidentifikasi nilai ekonomi suatu wilayah, sehingga pembangunan dapat berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Nendaryono mengungkapkan proses pengayaan mineral dan pelapukan tanah di lahan miring sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, serta kondisi lingkungan.
Erosi, khususnya erosi air, berperan sebagai agen utama yang mempercepat degradasi lahan sekaligus mengirim material dari hulu ke hilir.
Ia menilai unsur hara tanah, baik makro seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium, maupun mikro seperti besi, mangan, seng, boron, tembaga, molibdenum, dan klorin, sangat rentan hilang akibat proses erosi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kesuburan tanah dan produktivitas lahan.
“Erosi tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas tanah di bagian hulu, tetapi juga memicu pengayaan mineral di daerah hilir akibat proses transportasi dan pengendapan material.” tutur Nendaryono Madiutomo.(Ant)
