Kecelakaan Bis ALS dan Truk Tangki, Ikhtiar Antar Korban Pulang ke Keluarga

Tabrakan Bis ALS dan Tangki

PALEMBANG, borneoreview.co – Isak tangis pecah di pelataran Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (7/5/2-26) pagi.

Sejumlah ambulans tiba membawa 16 kantong jenazah korban kecelakaan maut bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

Keluarga korban tak mampu membendung duka, ketika satu per satu kantong jenazah diturunkan dari ambulans.

Di antara belasan kantong itu, mereka tak tahu mana yang berisi jasad orang tercinta.

Harapan untuk mendengar kabar baik telah pupus. Kini, yang tersisa adalah perjuangan panjang untuk mengidentifikasi para korban.

Proses identifikasi menjadi tantangan berat bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatera Selatan.

Kondisi tubuh korban yang mengalami luka bakar parah menuntut ketelitian tinggi, agar tidak terjadi kesalahan dalam proses penyerahan jenazah kepada keluarga.

Kabid Dokkes Polda Sumsel AKBP Andrianto mengatakan, seluruh jenazah langsung ditempatkan di ruang pendingin (freezer) setibanya di rumah sakit, sebelum menjalani tahapan pemeriksaan medis.

Demi mempercepat proses identifikasi, Polda Sumsel juga mendapat bantuan dokter forensik dari Jakarta.

Total sebanyak 30 personel diterjunkan dan langsung bekerja sejak 16 kantong jenazah tiba di rumah sakit.

Tim DVI Polri mengedepankan ketepatan saintifik dibanding sekadar kecepatan dalam proses identifikasi korban.

Tahapan yang dilakukan meliputi pemeriksaan ciri fisik primer, kemudian dilanjutkan dengan rekonsiliasi, atau pencocokan data medis dengan data dari pihak keluarga.

“Ini bukan soal lama atau cepat, tetapi soal ketepatan. Hingga saat ini diperkirakan sudah ada lima jenazah yang mendekati hasil identifikasi pasti, namun kami masih menunggu keputusan pimpinan untuk diumumkan secara resmi,” katanya.

Polda Sumsel juga telah mendirikan posko di RS Bhayangkara Palembang untuk memfasilitasi keluarga korban.

Polisi mengimbau keluarga korban segera datang dengan membawa dokumen identitas resmi, catatan gigi, maupun rekam medis lainnya guna mempercepat pengambilan sampel DNA dan proses rekonsiliasi data.

Korban Tabrakan Bis ALS dan Truk Tangki
Suasana para keluarga korban kecelakaan bus ALS di Muratara di RS Bhayangkara Palembang, Kamis (7/5/2026). ANTARA/M Imam Pramana

Kronologi Tragedi Karang Jaya

Kecelakaan tragis yang merenggut 16 nyawa itu terjadi di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), pada Rabu (6/5) sekitar pukul 12.39 WIB.

Berdasarkan data awal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara, insiden bermula saat bus ALS melaju dari arah Lubuklinggau menuju Medan.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono, mengatakan sempat muncul percikan api dari bagian bus sebelum benturan terjadi.

Sopir bus ALS kemudian berusaha mengarahkan kendaraan ke sisi kanan jalan guna menghindari risiko yang lebih besar. Namun, pada saat bersamaan, sebuah mobil tangki melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi, sehingga tabrakan hebat tak dapat dihindarkan.

Laporan awal mencatat, 14 penumpang bus ALS serta sopir dan kenek mobil tangki meninggal dunia di lokasi kejadian.

Korban dari pihak truk tangki diketahui bernama Aryanto (48), warga Lubuklinggau, dan Martono (47), seorang petani asal Desa Belani. Keduanya dilaporkan meninggal dunia akibat terbakar di dalam kendaraan.

Sementara itu, tiga korban lainnya berasal dari pihak bus ALS, yakni pengemudi bus Alif (44) asal Jawa Tengah, serta dua kru bus, Saf (50) dan Maleh (42), yang keduanya berasal dari Medan.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya mengatakan proses identifikasi korban dilakukan secara intensif sejak pukul 07.30 WIB di Posko DVI Instalasi Forensik RS Bhayangkara.

“Proses identifikasi dilakukan secara profesional dan transparan untuk memberikan kepastian identitas kepada keluarga korban,” katanya.

Ia menjelaskan kecelakaan terjadi pada Rabu (6/5) sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Muratara.

Peristiwa tersebut melibatkan Bus ALS bernomor polisi BK-7778-DL dan mobil tangki R6 bernomor polisi BG-8196-QB.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kecelakaan diduga terjadi saat bus ALS yang melaju dari arah Lubuk Linggau menuju Jambi berupaya menghindari lubang jalan.

Namun, kendaraan kehilangan kendali, masuk ke jalur berlawanan dan menabrak truk tangki hingga menyebabkan kebakaran hebat.

Data sementara kepolisian mencatat total 20 korban dalam kejadian tersebut, terdiri atas 16 korban meninggal dunia, tiga korban luka berat, dan satu korban luka ringan.

Korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi antara lain Aryanto (49), pengemudi truk tangki asal Lubuklinggau; Martono (48), penumpang truk tangki warga Muratara; Alif (44), pengemudi bus ALS asal Jawa Tengah; serta Saf (50) dan Maleh (42), kru bus ALS asal Medan.

Selain itu, polisi juga telah mengidentifikasi sejumlah penumpang bus ALS, yakni Relodo, Zulkifli, Aldi Sulistiawan, Rani, dan Bela. Sementara enam korban lainnya masih menjalani proses identifikasi lanjutan oleh Tim DVI Polri.

Adapun korban selamat yakni Jumiatun (35) dan Ngadiono (44), warga Pati, Jawa Tengah, serta Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal. Ketiganya mengalami luka bakar dan saat ini dirawat di RSUD Rupit.

Sementara itu, M Fadli bin Ibrahim (30), kenek bus ALS asal Riau, dilaporkan mengalami luka ringan.

Di lokasi kejadian, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa bangkai kendaraan yang terbakar, tabung gas, mesin sepeda motor, hingga barang-barang pribadi milik penumpang.

Petugas loket bus Antar Lintas Sumatera (ALS) perwakilan Palembang, Dewi, memastikan tidak ada warga asal kota tersebut yang menjadi korban dalam kecelakaan maut itu.

Menurut dia, sebelum kejadian sopir sempat menghubungi kantor perwakilan untuk memastikan keberadaan penumpang asal Palembang.

“Kami pastikan saat itu tidak ada manifes penumpang yang naik maupun turun di Palembang,” ujar Dewi.

Ia menjelaskan bus tersebut melayani rute jarak jauh dari Semarang menuju Medan melalui jalur lintas tengah Sumatera.

Namun, karena tidak ada agenda penjemputan maupun penurunan penumpang di Palembang, bus langsung melanjutkan perjalanan tanpa singgah ke pool ALS di Jalan Soekarno-Hatta, Palembang.

Bantuan Pemprov Sumsel

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memastikan memberikan pendampingan dan bantuan penuh kepada keluarga korban kecelakaan maut bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki, yang kini menunggu proses identifikasi di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, bantuan tersebut mencakup kebutuhan makan, minum, hingga tempat tinggal bagi keluarga korban selama proses identifikasi berlangsung.

“Kami ingin mereka fokus urus keluarga tanpa harus terbebani masalah biaya selama di Palembang,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian besar keluarga korban berasal dari luar daerah, seperti Sumatera Utara dan Jawa Tengah, sehingga membutuhkan dukungan selama berada di Palembang.

Pemerintah provinsi juga telah menyiapkan skema bantuan, agar keluarga korban memperoleh tempat tinggal yang layak, sambil menunggu proses pencocokan data oleh tim forensik.

Kini, di balik pintu ruang forensik yang dingin, para ahli terus bekerja dalam senyap, berupaya menyatukan kepingan identitas yang terserak.

Sementara bagi keluarga yang menanti, kepastian nama bukan sekadar prosedur administratif.

Itu adalah penghormatan terakhir agar orang-orang terkasih dapat dipulangkan dan dimakamkan dengan layak.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *