Kemenhut Perkenalkan Habitat Kodok Merah Ciremai

kodok merah

KUNINGAN, borneoreview.co – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkenalkan habitat kodok merah ciremai (Leptophryne javanica) yang menjadi salah satu indikator kualitas kesehatan lingkungan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuningan, Jawa Barat.

Melansir Antara, Rabu (13/5/2026), pengenalan kodok merah ciremai sebagai salah satu spesies endemik Taman Nasional Gunung Ciremai itu merupakan salah satu agenda dari kegiatan forum “Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030” Kementerian Kehutanan.

“Kodok merah ciremai ini sangat istimewa karena belakangan baru diketahui memiliki keunikan spesies yang berbeda dari jenis di gunung-gunung lainnya,” kata Ghina Habibah, salah peserta kegiatan itu.

“Melihat langsung kehidupan mereka di alam membangun kedekatan emosional dan kesadaran bahwa ada kehidupan yang harus kita lindungi,” tambahnya.

Ghina yang juga merupakan Tim Media Sosial Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata ini mengakui mengenal satwa endemik memberikan perspektif baru bagi mereka mengenai pentingnya menjaga ekosistem yang unik dan spesifik.

Keberadaan amfibi berukuran 2-4 cm dengan warna kulit didominasi hitam dan bercorak bintil merah kekuningan tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa pariwisata berkelanjutan dapat menjadi alat untuk meningkatkan rasa ingin melindungi destinasi, sebagaimana yang diterapkan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Ghina juga mengapresiasi kegiatan terapi alam atau forest healing yang dilakukan di bawah tegakan pohon pinus TNGC.

Menurut dia, interaksi dengan rimbunnya tutupan pohon beserta satwa-satwa yang ada memberikan ketenangan, sekaligus bisa mengenal lebih jauh bagaimana pohon sangat bermanfaat bagi manusia.

Adapun berdasarkan informasi dari ahli dari TNGC, zat tersebut salah satunya adalah Fitonsida (Phytoncides) yang merupakan zat alami berupa senyawa antimikroba yang dilepaskan pohon pinus, terutama dari daun, batang, dan getahnya.

Zat tersebut membantu menekan bakteri dan jamur di udara, menenangkan sistem saraf manusia, berikut menurunkan stres dan tekanan darah, meningkatkan daya tahan tubuh.

“Jadi hakikatnya manusia berasal dari alam, sehingga apa yang dikeluarkan oleh alam sangat matching dengan kebutuhan kita. Melalui forest healing, kita diajarkan untuk hadir secara utuh dan sadar penuh terhadap lingkungan sekitar,” kata Ghina.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Toni Anwar mengatakan bahwa taman nasional ini merupakan habitat dari spesies prioritas yang selain Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili juga Kodok Merah Ciremai, jadi keberadaan satwa-satwa itu menjadi indikator kesehatan lingkungan di gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

Kondisi tersebut dinilai tidak lepas dari upaya kementerian kehutanan menjaga kelestarian hutan di kawasan TNGC yang saat ini upaya rehabilitasi tutupan vegetasinya sudah 90 persen.

Menurut dia, dengan terjaganya kelestarian vegetasi hutan kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare itu maka peran ekologisnya tetap terjaga dan begitupun komponen keanekaragaman hayatinya.

“Itu tadi ada 97 titik mata air gunung ciremai dengan kemurniannya, jadi karena kita menjaga hutannya fungsi hidrologisnya baik, semua mendapat manfaatnya,” kata dia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *