Rupiah Melemah, Wisatawan Malaysia Ramai Berbelanja ke Indonesia, Ekonomi Perbatasan Ikut Bergeliat

penukaran uang

PONTIANAK, borneoreview.co – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia ternyata membawa dampak yang berbeda di kawasan perbatasan. Di tengah kekhawatiran terhadap melemahnya mata uang nasional, sejumlah daerah justru merasakan peningkatan kunjungan wisatawan asal Malaysia yang memanfaatkan kurs menguntungkan untuk berbelanja dan berwisata di Indonesia.

Fenomena ini terlihat jelas di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Pelaku usaha penukaran uang atau money changer mengaku jumlah warga Malaysia yang menukarkan ringgit ke rupiah meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Dengan nilai tukar yang lebih menguntungkan, wisatawan Malaysia merasa daya beli mereka meningkat saat berkunjung ke Indonesia.

Menurut pelaku usaha penukaran uang setempat, wisatawan Malaysia kini tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar untuk menikmati liburan. Jika beberapa tahun lalu mereka membawa hingga 1.000 ringgit, kini sekitar 400 hingga 500 ringgit sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, belanja, hingga berwisata selama beberapa hari di Pontianak.

Kondisi tersebut memberikan dampak positif bagi sektor perdagangan, kuliner, perhotelan, hingga pelaku UMKM lokal. Banyak wisatawan Malaysia datang untuk berburu produk lokal, menikmati kuliner khas daerah, hingga berbelanja berbagai kebutuhan yang dinilai lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.

Sebaliknya, masyarakat Indonesia yang ingin bepergian ke Malaysia kini harus mengeluarkan biaya lebih besar. Menguatnya ringgit membuat ongkos perjalanan dan belanja di negeri jiran menjadi lebih mahal dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan terbaru, nilai tukar ringgit Malaysia terhadap rupiah berada di kisaran Rp4.500 per ringgit. Kondisi ini membuat wisatawan Malaysia memperoleh keuntungan lebih besar ketika menukarkan mata uang mereka di Indonesia.

Pengamat menilai fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan nilai tukar dapat memengaruhi arus konsumsi lintas negara. Di satu sisi, pelemahan rupiah menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia, namun di sisi lain mampu meningkatkan daya tarik destinasi wisata dan pusat perdagangan di wilayah perbatasan.

Bagi daerah seperti Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia, peningkatan kunjungan wisatawan asing berpotensi menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Jika dimanfaatkan secara optimal, sektor perdagangan, pariwisata, dan UMKM dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas belanja wisatawan mancanegara.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *