Data Center dan Solar Panel Bakal Dorong Permintaan Timah

timah

JAKARTA, borneoreview.co – Perusahaan BUMN sektor pertambangan PT Timah Tbk (TINS) melihat sejumlah sektor baru diproyeksikan akan menjadi pendorong permintaan (demand) timah di tingkat global ke depan.

Melansir Antara, Kamis (11/6/2006), Wakil Direktur Utama PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta mengungkapkan kedua sektor tersebut yaitu data center (pusat data) dan berkaitan dengan solar panel.

“Di solar panel, kemudian di data center itu yang menjadi driver pertumbuhan kebutuhan timah,” ujar Harry dalam sesi diskusi bersama media di Jakarta, Kamis.

Harry memastikan bahwa kebutuhan timah global selama ini relatif stabil, karena sebagian besar digunakan untuk kebutuhan industri, khususnya elektronik.

Dari sisi sumber daya, Ia menyebut Indonesia masih menjadi salah satu wilayah utama penghasil timah global, yang mana jalur mineralisasi timah membentang dari Kepulauan Bangka Belitung hingga Kepulauan Riau menjadi keunggulan strategis yang tidak dimiliki banyak negara.

“Di Indonesia ini yang ada timahnya cuma di Bangka, Belitung sedikit di Kundur, di Indonesia enggak ada lagi tempat lain. Urat timahnya itu dari Bangka sedikit ada di Kalimantan di Kalimantan Barat, kemudian nanti di Myanmar baru naik ke China, itu urat timah dan enggak ke mana-mana,” ujar Harry.

Di tengah prospek yang tetap positif, Ia memastikan perseroan akan berfokus menjaga keberlanjutan pasokan melalui eksplorasi dan penambahan cadangan.

Harry mengungkapkan, saat ini perseroan tengah mengevaluasi pengembangan pertambangan laut yang lebih dalam dan pengembangan pertambangan primer di daratan, sebagai upaya menjaga kelanjutan produksi di masa mendatang.

Selain meningkatkan eksplorasi, lanjutnya, perseroan juga menyiapkan berbagai kajian teknologi sebagai upaya mendukung penambangan yang lebih kompleks.

“Kita ke depannya akan menambang di laut dengan mungkin lebih dalam, kita lagi evaluasi untuk kapal-kapal kita untuk bisa menambang lebih dalam di laut kemudian di darat kita masuk ke tambang primer,” ujar Harry.

Perseroan saat ini memiliki Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 30 ribu ton, yang dalam jangka panjang menargetkan peningkatan produksi seiring upaya penambahan cadangan dan sumber daya yang dimiliki.

Pada kuartal I 2026, PT Timah Tbk membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun, atau setara setara 595 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp252 miliar.

Laba bersih perseroan ditopang oleh kenaikan harga timah global serta peningkatan volume produksi dan penjualan.

Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp5,47 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 160,5 persen (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp2,10 triliun.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *