Film Horor Lobang Buaya, Cara Hanung Mengintepretasikan Peristiwa 65

Poster film Lobang Buaya karya Hanung Bramantyo.

JAKARTA, borneoreview.co – Sutradara Hanung Bramantyo merilis film berlatar horor-sejarah, “Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah” pada 1 Oktober 2026. Melanjutkan stigma perempuan dalam genre sinema horor Indonesia.

Jauh sebelum film dirilis, Hanung memberikan catatan bahwa ini bukan remake -apalagi pelurusan sejarah- dari film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer tahun 1984.

Hanung malah menjelaskan bahwa semua atribut film seperti seragam militer dan bentuk lubang buaya sengaja dibuat berbeda dari sejarah aslinya. Ini semacam film berlatar sejarah tapi dibangun dengan imiaji yang lain dari sejarah itu.

Pancasila, Sejarah Panjang Peradaban Bangsa dan Politik di Indonesia

Hanung mengklaim cara itu dilakukan demi keamanan.

“Film ini unik. Saya riset, saya mengetahui, tapi saya buat salah. Contoh zaman itu Angkatan Darat menggunakan apa seragamnya. Kita salahin saja. Karena kalau bener, repot saya nanti,” kata Hanung.

Selama proses pembuatan film “Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah” Hanung mengaku bisa mengakses semua arsip Negara terkait peristiwa tersebut. Dia bisa melihat banyak foto dan video terkait G30S/PKI yang tidak boleh diakses publik.

“Gatel saya. Pengen buat (film) yang sama dengan dokumentasi arsip-arsip itu. Tujuan riset saya untuk mengetahui kejadian yang bener. Tapi ketika di lapangan saya (buat) salah.”

Sebagai sutradara Hanung punya hak kreatif untuk menginterpretasikan kejadian sejarah ke dalam film. Apalagi dia punya alasan yang sahih untuk mengaburkan detail peristiwa sejarah 65: Keamanan.

Hingga hari ini, isu peistiwa 65 masih tabu dibahas. Teror hantu komunis masih hidup, meski film Pengkhianatan G30S/PKI sudah tidak lagi diputar di TV setiap menjelang 30 September.

Tapi yang cukup meragukan, apa Hanung luput memperkirakan, bahwa merilis film tanggal 1 Oktober -bertepatan Hari Kesaktian Pancasila- malah terlihat menegaskan stigma PKI dalam peristiwa kelam itu.

KPK Gaungkan Antikorupsi Lewat Festival Film di Kalbar

Film ini seperti penumpang gelap yang ikut menunggang ombak kontroversi. Sebab menjelang 30 September biasanya isu komunis – yang katanya sedang berusaha bangkit dari kubur- biasanya ramai dibahas.

Belum jelas pelurusan sejarah 65 di kurikulum sekolah, malah terbit film triler pembunuhan berantai berlatar peristiwa G30S/PKI. Jadi agak sangsi film ini bakal memantik diskusi yang lebih dalam terkait peristiwa 65.

Apalagi film ini malah berpotensi melanjutkan stigma perempuan dalam sinema horor. Sebuah penelitian menyebutkan, selama periode 1970 hingga 2019 tayang sekitar 599 film horor.

Sebanyak 338 film atau 60,47 persen menampilkan perempuan sebagai hantu utama, 135 film atau 24,15 persen hantu utama laki-laki, dan 86 film atau 15,38 persen menghadirkan laki-laki dan perempuan sebagai hantu utama.

Penelitian menunjukkan ketimpangan representasi antara hantu perempuan dan laki-laki dalam film horor Indonesia. Dominasi itu bukan kebetulan, tapi punya tujuan.

Cerita horor tidak hanya menutup ruang berbagi pengalaman perempuan sebagai korban. Tapi juga mengubah arah kemarahan mereka menjadi ancaman. Seolah perempuan yang marah -karena menjadi korban- adalah sesuatu yang harus dijauhi dan dibungkam.

Perempuan Dalam Gerakan Sosial, Antara Keberanian dan Keteguhan Hati

Hal ini menunjukkan bagaimana patriarki bekerja dalam ranah budaya. Budaya patriarki mengubah rasa bersalah kolektif menjadi cerita-cerita yang menyeramkan.

Perempuan yang mati dibunuh tidak diingat sebagai korban kekerasan, tapi menjadi teror yang menakutkan di jalanan ketika malam hari. Perempuan yang diperkosa tidak dibela, tapi diubah jadi simbol horor yang menghantui ruang publik.

Trauma mereka tidak dibicarakan, hanya diulang sebagai cerita yang menegaskan bahwa perempuan yang tidak sesuai norma akan menerima kutukan. Keadilan hanya datang kepada perempuan sebagai balas dendam.

Sekali lagi, Hanung Bramantyo punya hak kreatif untuk menginterpretasikan kejadian sejarah dalam film. Dan justru dari interpretasinya kita bisa menilai siapa Hanung.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *