JAKARTA, borneoreview.co – Sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan mendeteksi 18.576 titik panas di seluruh Indonesia.
Titik panas paling banyak terdapat di Kalimantan Tengah sebanyak 5.179 titik. Mengikuti Sumatera Selatan 2.823 titik dan Papua Selatan 2.135 titik panas.
Sebanyak 1.424 titik panas terdeteksi di Papua Barat, Maluku Utara mengikuti dengan 1.172 titik panas, serta Maluku dan Kalimantan Selatan masing-masing 849 dan 823 titik panas.
Total jumlah titik panas ini bertambah 3.491 titik dari periode sebelumnya. Pemerintah agar tetap waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Sebab kebakaran lahan gambut masih berisiko terjadi di tengah cuaca panas dan kering. Indonesia sedang berjuang menghadapi kebakaran hutan dan lahan paling parah selama 11 tahun terakhir.
Kebakaran hutan dan lahan semakin parah karena dampak kenaikan suhu akibat fenomena cuaca El Nino. Kabut asap menyebabkan lonjakan kasus gangguan pernapasan yang melanda Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Menurut aktivis Pantau Gambut, Putra Septian, potensi kebakaran lahan gambut masih tetap tinggi. “Karakteristik kebakaran lahan gambut berbeda dengan kebakaran di tanah mineral, kata Putra Septian.
“Sifat kebakaran (lahan gambut), yang merambat melalui material organik di bawah permukaan tanah, dapat memicu bara yang terus membara dan menciptakan potensi kembali munculnya titik api.”
Pantau Gambut mengingatkan dari 24 juta hektare lahan gambut di Indonesia, 16 juta hektare di antaranya lebih rentan terhadap kebakaran akibat kerusakan ekosistem.
Deforestasi besar-besaran dan penurunan muka air tanah juga menambah parah risiko kebakaran lahan gambut.
Menurut studi Pantau Gambut, hanya 3 persen dari luas lahan gambut yang rusak akibat kebakaran selama periode 2015-2019 kembali pulih menjadi hutan. Mereka mendesak pemerintah berbuat lebih banyak untuk mengatasi degradasi lahan gambut.
Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa pihaknya tetap dalam status siaga tinggi. Dan akan terus berupaya memadamkan kebakaran, khususnya kebakaran di lahan gambut.
Di Sumatra Selatan, kabut asap pekat akibat kebakaran lahan gambut mengubah warna langit menjadi kuning. Tingkat polusi udara digambarkan “sangat mengerikan”.
“Debu menempel pada pakaian kami. Bayangkan dampaknya terhadap paru-paru kami,” kata Kartika aktivis lingkungan yang mengadvokasi wilayah Sumatera Selatan.
Indeks polusi udara di Palembang melampaui angka 1.000 pada hari Senin kemarin. Angka itu jauh melebihi ambang batas tingkat polus udara “berbahaya” 300.
Kelompok lingkungan Greenpeace mendesak pemerintah menindak perusahaan-perusahaan yang diduga terkait dengan kebakaran. Termasuk perusahaan yang berbasis di Malaysia namun menjalankan bisnis di Indonesia.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, mengingatkan bahwa “kondisi terburuk belum terjadi”, mengingat cuaca panas dan kering akan terus berlanjut hingga awal tahun 2027.***
