SUMBAWA BARAT, borneoreview.co – Ahmad Tarmizi Pane mengawasi pekerja menjalin serat aren menjadi lembaran ijuk blanket. Bahan penting dalam proses reklamasi lahan bekas tambang emas dan tembaga di areal Batu Hijau.
Lelaki berjanggut putih itu sesekali turun tangan memberi contoh cara menjalin serat aren sehingga rapat dan kokoh.
Ahmad Tarmizi Pane sejak lama menggeluti usaha pengolahan ijuk serat aren menjadi bahan keset dan atap. Dia juga mengolah sabut kelapa menjadi coconet.
Sekitar tahun 2024 Tarmizi mendapat tawaran dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara untuk membuat bahan pelapis tanah di lahan reklamasi bekas tambang.
Bahan organik ijuk blanket dan coconet cocok untuk menahan erosi tanah pada lahan bekas tambang yang sebagian besar berupa lereng-lereng bukit.
Ijuk blanket adalah lembaran anyaman yang terbuat dari serat pohon aren. Jalinan serat ijuk membentuk semacam selimut tebal.
Setelah selesai penataan lahan bekas tambang, selimut ijuk menutup permukaan tanah agar tidak terjadi erosi.
Mencegah Erosi
Selain mencegah erosi, selimut ijuk menjaga kelembapan tanah agar bibit tanaman bisa tumbuh dengan baik.
Serat ijuk menahan biji atau bibit tanaman penutup agar tidak hanyut terbawa air.
Pohon kelapa dan aren banyak tumbuh di sekitar tempat tinggal Tarmizi di Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Bahan yang berlimpah dapat menekan biaya produksi selimut ijuk dan coconet.
“Kami sudah lama jadi UMKM mitra PT Amman untuk produksi coconet dan ijuk blanket,” kata Ahmad Tarmizi Pane.
Tarmizi mendapat pelatihan teknis cara membuat selimut ijuk untuk lahan reklamasi tambang.
Dia memperoleh pengetahuan standar pengendalian mutu agar kualitas produk konsisten.
Menurut Tarmizi, PT Amman membutuhkan selimut ijuk maupun coconet dalam jumlah besar. Dalam satu tahun, area reklamasi membutuhkan sekitar 7.000 selimut ijuk.
Tarmizi mengaku pernah menerima pesanan senilai lebih dari Rp2 miliar setahun.
Belakangan jumlah pesanan menurun karena PT AMMAN juga membeli selimut ijuk dari pengusaha lain.
Pemberdayaan Warga
Dari usaha ini Ahmad Tarmizi Pane memberdayakan lebih dari 20 orang pekerja. Mereka adalah warga Jereweh, terutama para ibu-ibu.
Para pekerja yag berstatus tenaga lepas menerima upah borongan. Dari setiap lembar selimut ijuk ukuran kecil, pekerja menerima bayaran Rp19.000. Ijuk ukuran besar dihargai Rp35.000 per lembar.
Rata-rata setiap hari pekerja mampu membuat lima selimut ijuk. “Alhamdulilah dari pekerjaan ini kami bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah anak-anak,” kata Fatimah, salah seorang pekerja pemintal selimut ijuk.
Vice President Corporate Communications PT Amman, Kartika Octaviana mengatakan, pelibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama program reklamasi perusahaan.
Perusahaan bekerja sama dengan komunitas perawatan tanaman di Desa Tongo dan Desa Sekongkang untuk menyediakan bibit tanaman lokal.
Masyarakat juga terlibat sebagai pemasok material pendukung produksi coconet dan ijuk blanket.
“PT Amman memberikan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas agar program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi bagi masyarakat sekitar tambang,” kata Kartika Octaviana.
Bibit Tanaman Lokal
Hingga akhir 2024, PT Amman membuka areal operasional tambang di Batu Hijau seluas 3.584,64 hektare.
Luas lahan itu menjadi bagian dari areal yang dikelola dan direhabilitasi secara bertahap sesuai rencana reklamasi.
Luas reklamasi lahan bekas tambang PT Amman hingga Mei 2026 mencapai 881 hektare.
Pada tahun 2025, korporasi mencatat capaian reklamasi tahunan terbesar di Batu Hijau yaitu 92,67 hektare.
Luas reklamasi lahan bekas tambang akan terus bertambah seiring perkembangan operasional perusahaan.
Penghijauan kembali mengutamakan menanam bibit lokal Sumbawa Barat untuk mengembalikan karakter ekosistem alami. Antara lain bibit ipil atau merbau, binong, rotan, dan aren.
Secara keseluruhan, PT Amman mengembangkan lebih dari 99 jenis tanaman asli untuk mendukung kegiatan reklamasi.
Sebagian besar kebutuhan bibit reklamasi dipenuhi oleh persemaian masyarakat.
Hingga akhir 2024, lebih dari 575.197 bibit pohon dari community nursery ditanam di area reklamasi.
“Pada tahun 2025, dua community nursery di Tongo dan Sekongkang mampu memasok hampir 82 persen kebutuhan bibit reklamasi dengan kapasitas produksi 300.000 bibit per tahun,” ujar Kartika Octaviana.***
