JAKARTA, borneoreview.co – Lanskap tambang dalam bisikan. Sabtu sore itu, langit Jakarta terasa berat.
Di sudut Hutan Kota Senayan, para pelaku industri tambang duduk melingkar. Suara mereka sayup-sayup, tak hendak menambah riuh ibu kota sedang lunglai.
Tri Winarno, Dirjen Minerba, memandang tajam ke arah para pemangku kepentingan.
“Komunikasi intens sangat diperlukan,” ucapnya, pelan namun penuh tekan.
“Terhadap isu-isu terjadi akhir-akhir ini, kita komunikasikan agar ada penyelesaian,” tuturnya mengingatkan.
Kalimat itu menggantung di udara, seolah mengingatkan bahwa di luar sana, tanah-tanah tambang menanti keputusan manusia.
Bukan sekadar urusan ekskavator dan conveyor belt, melainkan tentang masa depan alam yang setiap hari dikikis.
Gelas Kopi dan Data Ekonomi
Rachmat Makassau, Ketua Umum API-IMA, menyentuh gelas kopinya. “Sepanjang 2025, sektor pertambangan telah melewati berbagai tantangan besar,” katanya.
Suaranya terdengar seperti seorang pendongeng yang merangkai narasi panjang tentang batubara, nikel, dan bijih besi.
Tema IWM 2026, “Strategi Industri Pertambangan: Inovasi, Investasi, dan Daya Saing dalam Era Hilirisasi,” menjadi semacam mantra baru.
Di ruang itu, angka investasi dipaparkan dengan rapi oleh perwakilan Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Mohamad Faizal.
Tax holiday, tax allowance, masterlist impor semua terdengar seperti syair penyelamat di tengah morat-marit ekonomi.
Tapi, di balik data, terselip sebuah pertanyaan, apakah hilirisasi cukup hanya dengan insentif fiskal?
Tak Hanya di Brosur
Forum ini tak sekadar bicara keuntungan. Green Mining, Good Mining Practices, ESG tiga kata itu disebut berulang seperti sebuah litani.
Komitmen terhadap lingkungan disebut sebagai fondasi utama. Tapi, dalam dunia tambang, kata hijau kerap jadi pewarna di antara hitamnya batu bara dan merahnya laterit.
Seorang peserta berbisik, “Kami sudah rehabilitasi lahan seluas 500 hektare.” Lainnya menambahkan, “Kami gunakan teknologi rendah emisi.”
Cerita-cerita itu terdengar manis, seperti dongeng pengantar tidur untuk alam yang tengah terluka dalam.
Namun, dalam senyap, tersirat harapan mampukah hijau ini menjadi nyata, bukan sekadar pencitraan di laporan tahunan?
Kolaborasi Masih Ditulis
API-IMA, sebagai asosiasi tertua, berharap forum ini jadi titik awal penyusunan langkah nyata.
Tapi, dalam dunia yang kompleks, kolaborasi kerap terasa seperti tarian di atas tambang ranjau.
Pemerintah, pengusaha, masyarakat, dan alam semua punya suara sendiri. Tri Winarno mengangguk-angguk.
Intensitas komunikasi, katanya, harus diperluas. Bukan hanya dengan pemangku kepentingan lama.
Tapi, juga dengan suara-suara baru aktivis lingkungan, akademisi, dan generasi muda mempertanyakan keberlanjutan.
Indonesia Weekend Miner 2026 berakhir saat senja mulai turun. Para peserta beranjak, membawa pulang draft solusi dan secangkir harapan.
Di luar kota Jakarta, Pulau Kalimantan terus bernafas terengah-engah dengan irama sendiri.
Industri tambang Indonesia hari ini dengan segala dilemanya, seperti sebuah novel panjang bersambung.
Bab hari ini bercerita tentang hilirisasi dan hijau. Besok, mungkin tentang rehabilitasi dan keadilan.
Tapi, satu hal pasti di balik semua data dan dialog, bumi tetap mencatat setiap lubang digali.
Setiap pohon yang ditanam, dan setiap janji diucapkan. Ia tak butuh kata-kata indah. Ia hanya butuh bukti nyata. Setara.***
