Hilirisasi Bauksit Mempawah Diklaim Mesin Baru Ekonomi Kalimantan Barat

Hilirisasi bauksit

MEMPAWAH, borneoreview.co – Proyek hilirisasi bauksit alumina aluminium Mempawah disebut memicu lonjakan kerja usaha lokal serta arus investasi besar. Klaim negara daerah bertemu realitas lapangan sosial ekonomi.

Pagi pesisir Mempawah terasa ramai. Debu proyek berbaur aroma laut. Negara hadir lewat papan nama besar.

Hilirisasi bauksit menjadi mantra pembangunan terbaru. Kata kunci itu terus diulang pejabat pusat daerah. Janji ekonomi berlapis disajikan rapi.

Grup MIND ID menggerakkan orkestrasi besar. INALUM ANTAM PTBA masuk satu panggung. Narasi terintegrasi hulu hilir dikedepankan.

Bauksit tidak lagi berlayar mentah. Alumina aluminium diproduksi dekat sumber. Mempawah dijadikan simpul penting.

Data resmi BPS Kalimantan Barat 2025 disodorkan. Pertumbuhan ekonomi disebut 5,39 persen.

Angka itu melampaui 2024 tercatat 4,90 persen. Sektor pertambangan penggalian mencatat lonjakan 31,48 persen. Statistik tampil sebagai legitimasi.

Namun angka selalu perlu cerita. Siapa bergerak siapa tertinggal. Di titik itu, perlu masuk. Di balik grafik naik terdapat denyut hidup warga. Ada harap ada cemas.

Bupati Mempawah, Erlina, mengeklaim proyek hilirisasi sebagai motor transformasi anyar. “Ini peluang ekonomi baru”.

Daerah sebelumnya bergantung bahan mentah. Kini diarahkan menuju industri bernilai tambah.

Fokus utamanya juga disebut penyerapan tenaga kerja. Arus pendatang mendorong aktivitas ekonomi.

Dalam pernyataan usai seremoni peletakan batu pertama pekan ini, Erlina, mengeklaim prioritas kerja lokal.

Kehadiran pekerja luar memicu kebutuhan hunian pangan jasa. Usaha kecil tumbuh. Rumah kos homestay warung kuliner bermunculan.

Klaim itu juga dampak awal terasa. Warga sekitar kawasan industri merasakan peluang baru.

Penghasilan alternatif muncul. Namun suara lapangan tidak selalu seirama panggung. Harga tanah naik cepat. Biaya hidup ikut terdorong. Tantangan adaptasi hadir bersamaan.

Program tanggung jawab sosial perusahaan disampaikan sebagai penyeimbang. Operator proyek PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) menjalankan kegiatan sosial.

Pendidikan menjadi fokus harapan. Dari dasar sampai tinggi. Tujuan mencetak tenaga lokal siap industri.

Harapan itu besar. Akses mutu pendidikan menjadi kunci. Tanpa kesiapan sumber daya lokal industri berpotensi menjadi enclave. Produksi jalan manfaat bocor keluar.

Industri Aluminium Nasional

Smelter Grade Alumina Refinery fase pertama telah beroperasi. Fasilitas ini mengolah bauksit menjadi alumina. Rantai pasok nasional sebelumnya terputus kini disambung. Negara mengurangi ketergantungan impor.

Melalui peletakan batu pertama lanjutan Grup MIND ID menambah fase kedua SGAR. Smelter aluminium baru direncanakan. Integrasi penuh dikejar. Dari tambang sampai logam jadi.

CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengeklaim, “Kontribusi hilirisasi meningkat. Investasi 2025 disebut mencapai Rp580,4 triliun”.

Porsi sekitar 30 persen total nasional. Kenaikan 43,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka itu diposisikan sebagai bukti arah tepat.

Arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, menjadi payung politik. Hilirisasi dipercepat. Alasan utama manfaat langsung daerah.

Pemerataan wilayah ditekankan. Tidak terpusat Maluku Sulawesi. Kalimantan Barat masuk peta.

Narasi nasional kuat. Namun tantangan struktural tetap ada. Ketergantungan komoditas berisiko siklus harga global.

Industri aluminium padat energi. Isu lingkungan menjadi pertanyaan senyap. Limbah energi air udara perlu pengawasan ketat.

Bagi Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat proyek ini ibarat pintu besar. Membuka ruang peluang sekaligus ujian tata kelola.

Lapangan kerja perlu kualitas bukan sekadar jumlah. Usaha lokal perlu naik kelas bukan sekadar pelengkap mencatat klaim.

Publik menunggu pembuktian. Hilirisasi bukan sekadar kata indah. Ia mesti terasa di dapur rumah warga. Di sekolah anak. Di udara bersih. Di pantai tetap hidup.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *