BOGOR, borneoreview.co – Kabut tebal masih menyelimuti perbukitan Nanggung, Bogor, Rabu (14/1/2026) petang itu. Namun, kabut alamiah itu kalah pekat dibanding kabut informasi yang mendadak menyergap ruang digital.
Sebuah narasi mengerikan berhembus gas beracun, 700 nyawa terjebak, tragedi di tambang emas. Dunia maya gempar, pesan berantai berdesir penuh kecemasan.
Tapi, di balik hiruk-pikuk viral, tersembunyi cerita lebih kelam, lebih manusiawi, serta lebih runyam dari sekadar angka. Ini bukan sekadar berita hoaks yang diluruskan.
Ini tentang salah kaprah. Ini tentang kehidupan di tepi jurang, tentang perjuangan di mulut lobang gelap, serta tentang bagaimana sebuah istilah teknis “Level 700” menjelma menjadi monster digital yang menelan kebenaran.
Kabut Asap Pembawa Duka
Faktanya, seperti dituturkan Kapolsek Nanggung AKP Ucup Supriatna dengan kalimat lugas, “Belum tentu gas beracun, belum tentu.
Kalau jelas bukan longsor serta bukan karyawan Antam.” Kalimat ini menjadi kunci pembuka peti kebenaran.
Lokasi kejadian bukan arena pertambangan resmi PT Antam berstandar keselamatan ketat. Titik masalah ialah liang-liang gelap, “lubang tikus” ilegal, yang dijarah para Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) atau Gurandil.
Mereka, para Gurandil, adalah sosok nyata di balik angka-angka viral. Bukan angka 700.
Tapi, seperti diperkirakan saksi lapangan di komunitas tambang, sekitar 60 nyawa. Enam puluh manusia yang mempertaruhkan segalanya di terowongan sempit, tanpa sirkulasi udara memadai, tanpa prosedur keselamatan.
Mereka mencari sisa-sisa emas, remah-remah rezeki, di kegelapan bumi. Lalu, sesuatu terjadi.
Dugaan sementara, akumulasi gas atau asap dari aktivitas ilegal memerangkap mereka.
Asap pekat itu pula yang menghalangi tim penyelamat, menjadikan upaya evakuasi serta verifikasi korban jiwa sebagai proses lambat, penuh bahaya.
“Informasi beredar di media sosial serta beberapa pemberitaan terkait ledakan di area tambang serta klaim ratusan orang terjebak di dalam tambang tidak benar,” tegas Corporate Secretary PT Antam Wisnu Danandi.
Pernyataan resmi ini memutus mata rantai disinformasi. Video yang beredar, jelasnya, ialah dokumentasi penanganan kondisi teknis rutin, telah diantisipasi sesuai prosedur.
“Tidak ada karyawan ANTAM terjebak di area tambang,” pintanya tegas. Operasional perusahaan tetap terkendali.
Melahirkan Kepanikan Massal
Lalu, dari mana muncul angka 700 yang mengguncang itu? Inilah titik penting pemutaran salah kaprah menjadi badai disinformasi.
Dalam kosakata pertambangan, “Level 500” serta “Level 700” merujuk pada titik kedalaman atau ketinggian area kerja, diukur dalam satuan meter.
Bukan jumlah personel. Narasi masyarakat awam, ditambah kecepatan share media sosial, kemudian mengubah istilah teknis dingin itu menjadi jumlah korban mengerikan. Sebuah Misleading Content atau konten menyesatkan sempurna tercipta.
Fakta ini menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan informasi publik saat berhadapan dengan terminologi khusus.
Angka 700, yang seharusnya sekadar penanda kedalaman bumi, menjelma jadi hantu digital yang membayangi ratusan keluarga, memicu kepanikan tidak perlu.
Polisi serta Antam pun harus bekerja ekstra, bukan hanya menangani krisis di lapangan, tetapi juga membereskan kekacauan di dunia maya.
Di Bawah Bayang Maut
Kembali ke lapangan, ke Nanggung. Medan berat, akses jalan jauh, serta kondisi lobang tidak stabil menjadi tantangan nyawa.
Petugas kepolisian serta tim perusahaan bersiaga, namun keselamatan penyelamat menjadi prioritas.
Memasuki terowongan tanpa pengetahuan pasti kondisi gas berarti bunuh diri. Jadi, mereka menunggu, memantau, berusaha mencari celah aman untuk menjangkau siapa pun yang mungkin masih bertahan di kegelapan.
Kisah ini, pada hakikatnya, ialah cerita klasik manusia versus alam, kemiskinan versus regulasi, serta harapan versus bahaya.
Gurandil, dengan segala risiko, menggali lubang ke dalam perut bumi, mencari cahaya rezeki.
Sementara, di atas permukaan, kita semua sibuk membangun narasi berdasarkan angka salah, berdasarkan ketakutan, berdasarkan informasi setengah matang.
“Antam mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi belum terverifikasi serta merujuk pada informasi resmi disampaikan perusahaan maupun pihak berwenang,” ucap Wisnu Danandi.
Imbauan ini penting, bukan sekadar protokoler. Di era banjir informasi, verifikasi menjadi tindakan paling manusiawi.
Menahan jari sebelum share, mencari sumber resmi, ialah bentuk partisipasi publik mencegah kepanikan serta menghormati setiap nyawa, baik yang berjuang di level 700 kedalaman bumi, maupun keluarga mereka yang menanti di atas.
Tragedi Nanggung, dalam faktanya yang pahit, mengingatkan pada dua dunia yang bertolak belakang dunia tambang resmi dengan prosedur ketat.
Serta dunia gelap tambang ilegal penuh risiko. Di antara kedua dunia itu, terselip puluhan nyawa, terjepit kabut asap pekat serta kabut informasi sama-sama mematikan.***
