JAKARTA, borneoreview.co – Di sebuah sore di Jakarta, udara terasa berat membawa pertanyaan. Dari balik meja kerjanya, seorang ahli menyibak data.
Angka-angka itu tak cuma digit. Ia cerita tentang pasir hitam pembangkit listrik, tentang negeri nun jauh matanya tertuju pada lengkung grafik ekspor.
“Jadi seandainya di tahun 2026 ini China dan India kembali menurunkan impor volume batu baranya dari pasar internasional,” kata Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Sudirman Widhy.
Maka, bukan tidak mungkin penurunan volume produksi batu bara dari Indonesia juga tidak banyak mempengaruhi untuk kenaikan harga batu bara di pasar internasional.
Suara Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Sudirman Widhy, mengambang di ruang konferensi baru-baru ini.
Kata-katanya sederhana, namun sarat gemuruh. Ia bicara soal dua raksasa peminta batu bara, China dan India.
Kedaulatan energi mereka, kata Sudirman, dapat menggoyang pasar. Faktor penyebabnya berlapis, dari peningkatan produksi domestik hingga transisi gencar menuju energi baru terbarukan.
“Jangan dilupakan juga kemungkinan mereka mengalihkan impor batu baranya dari negara produsen batu bara lain selain Indonesia, seperti misalnya dari Rusia, Mongolia, Australia, maupun negara-negara eksportir batu bara lainnya,” ucapnya kembali mengingatkan.
Ucapannya itu bagai isyarat. Sebuah peringatan halus. Saat Indonesia memilih mundur selangkah, mengerek bendera pengetatan produksi, mata para pembeli besar telah berpindah.
Rusia dengan sumberdaya melimpah. Australia dengan jaringan logistik mapan. Mongolia dengan lokasi strategis. Mereka semua, dalam diam, siap merebut ruang ditinggalkan.
Strategi Mangkas Produksi
Lantas, apa alasan di balik langkah mundur ini? Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyodorkan alasan klasik sekaligus visioner harga dan masa depan.
“Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita,” kata dia.
Ungkapannya di konferensi pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM itu menggambarkan dua sisi mata uang.
Di satu sisi, logika pasar kurangi pasok, harap harga naik. Di sisi lain, naluri nenek moyang jaga warisan untuk generasi mendatang.
Target pemerintah tegas produksi batu bara domestik dipangkas drastis. Dari puncak 790 juta ton pada 2025, diturunkan hingga sekitar 600 juta ton pada 2026.
Data Kementerian ESDM membeberkan realitas. Produksi turun jadi 790 juta ton (2025). Dari angka ini, 65,1 persen atau 514 juta ton diekspor, mendominasi pasar global yang capai 1,3 miliar ton.
Sisa 254 juta ton untuk dalam negeri, seperti pembangkit listrik, pabrik semen, dan smelter. Sebuah porsi cukup signifikan.
Analisis Dinamika Pasar
Potret ini bukan hitam putih. Di balik strategi pemerintah, tersembunyi risiko. Analisis mendalam menunjukkan pasar batubara internasional ibarat samudera luas.
Gelombangnya ini juga ditentukan banyak angin. Kebijakan Indonesia hanyalah satu hembusan.
Angin terkuat justru berasal dari arah permintaan. China dan India, dua raksasa ekonomi itu, tengah dalam transisi energi besar-besaran.
Target net zero emission mendorong mereka mengurangi ketergantungan pada batu bara itu.
Laporan-laporan internasional mencatat, investasi mereka pada energi surya, angin, dan nuklir meningkat pesat.
Bila permintaan dari dua negara ini menyusut, penurunan produksi Indonesia mungkin hanya jadi pembenaran statistik, tanpa daya angkat cukup untuk harga.
Faktor lain ialah peningkatan kapasitas produksi negara pesaing. Rusia, pasca konflik geopolitik, mencari pasar baru di Asia.
Australia terus meningkatkan efisiensi logistik. Mongolia memperkuat infrastruktur ekspor.
Mereka semua memiliki insentif kuat untuk mengisi kekosongan pasokan. Pasar, pada akhirnya, akan berpihak pada penawaran paling efisien dan konsisten.
Dilema Indonesia nyata. Di satu sisi, ada desakan global dan komitmen nasional untuk transisi energi bersih.
Di sisi lain, batubara masih menjadi penyumbang devisa dan penopang ketahanan energi domestik yang nyata.
Keputusan memangkas produksi adalah upaya mencari titik tengah. Ia adalah sinyal bagi dunia bahwa Indonesia serius mengelola sumberdaya, namun juga merupakan taruhan besar di papan catur perdagangan global.
Masa depan akan menjawab. Apakah langkah ini akan mengerek harga, mengamankan cadangan, sekaligus menjaga pasar?
Atau justru membuka peluang bagi negara lain untuk merebut panggung, meninggalkan Indonesia dengan rencana yang harus dikaji ulang?
Hanya waktu dapat membuktikan. Apakah potret pasir hitam ini akan berubah menjadi lukisan kemandirian energi atau sekadar catatan kaki dalam sejarah gejolak komoditas global.***
