Oleh: Tri Budiarto
PONTIANAK, borneoreview.co –
Tak sempat menyebut asma Tuhan
Tak mungkin kabarkan duka pada kolega
Tak mungkin berkirim berita walau sebait kata
Tak sempat memohon pertahankan nyawa walau sekedip mata
Sukma itu telah terlepas tinggalkan raganya
Antar keduanya tak pernah setia apalagi abadi selamanya
Raga itu kini menjadi jasad yang tergeletak kaku tak bernyawa
Diselimuti lumpur pekat bercampur daun dan kulit kayu
Makna tragedi, buatku melebihi kata dahsyat
Kematian bukan sekadar angka penyusun lembaran data belaka
Tapi kematian adalah mengabarkan tentang siapa kita
Bagaimana manusia memaknai rimba raya dan satwa di dalamnya
Buatku, satu nyawa hilang adalah sebuah tragedi
Tak mungkin terganti dengan sekadar ungkapan prihatin belaka
Apalagi berebut kamera dan berjanji hampa
Banjir bandang itu, telah membuat banjir air mata di mana-mana
Yang tersisa hanyalah kehancuran dan luka yang menganga
Harta tak lagi tersisa, harapan dan asa tak lagi dipunya
Ramai orang berceloteh tentang karma alam terhadap manusia
Walau biasa hanya sekejap, kemudian segera lupa
Murkanya manusia, bila ia memporak porandakan rimba
Sekadar membalak, sirnakan rimba, tuk segera meraup harta
Tanah dan bebatuan digali, temukan emas dan batu berharga
Semangatnya sama, menjual semua isi didalamnya
Murkanya alam, bila air mencari arah alirannya sendiri
Bila bebatuan menggelinding kebawah mengikuti gravitasi
Bila hancurkan rumah dan ladang padi di bawahnya
Bila teriakan dan tangisan saling bersahutan, getarkan hati
Buatku, satu nyawa hilang adalah sebuah tragedi
Satu nyawa hilang adalah penanda, alam sedang meronta
Satu nyawa hilang adalah adalah bukti rakusnya manusia
Itulah makna nyawa yang hilang, bukan sekadar angka dan kata
(Tepian Sungai Kapuas, 4 Januari 2025)
*Penulis merupakan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode 1980-1982
