Pasar Modal Tumbuh Sunyi, Menyapa Publik Indonesia

Pasar Modal

PONTIANAK, borneoreview.co- Investor terus bertambah. Tahun 2025 menutup lembaran pasar modal Indonesia dengan nada stabil, bertumbuh, serta mencerminkan perubahan perilaku finansial publik.

Angka partisipasi meningkat tajam, menandai pergeseran cara pandang masyarakat terhadap instrumen keuangan jangka panjang.

Data resmi mencatat total investor pasar modal mencapai 20,3 juta akun, tumbuh 36,67 persen dibandingkan akhir 2024.

Komposisi meliputi investor saham, obligasi, serta reksa dana. Lonjakan terasa kuat pada segmen saham serta surat berharga lain, bertambah lebih dari 2,2 juta akun hingga mencapai 8,59 juta investor.

Pertumbuhan ini bukan peristiwa instan. Proses panjang literasi finansial, pendekatan komunitas, serta akses informasi terbuka menjadi fondasi utama.
Pasar modal tidak lagi terasa eksklusif. Ia hadir dekat, terjangkau, serta relevan bagi generasi produktif.

Edukasi Menyentuh Akar

Bursa Efek Indonesia (BEI) memegang peran sentral dalam perubahan lanskap tersebut. Sepanjang 2025, melalui kantor perwakilan serta Galeri Investasi, tercatat 29.474 kegiatan literasi, inklusi, serta aktivasi pasar modal.

Kegiatan berlangsung luring maupun daring, menjangkau 2.820.702 peserta dari beragam latar sosial.

Pendekatan digital memperluas jangkauan. Melalui media sosial, terselenggara 17.575 kegiatan edukasi virtual.

Jangkauan audiens menembus 24.092.031 partisipan lintas wilayah. Angka tersebut menggambarkan skala nasional, meretas batas geografis, mempercepat distribusi pengetahuan finansial.

Literasi tidak berhenti pada pemahaman teknis. Ia menanamkan kesadaran pengelolaan dana, perencanaan masa depan, serta tanggung jawab ekonomi personal. Di titik ini, pasar modal menjelma ruang pembelajaran publik.

Pencatatan Efek Meluas

Dari sisi emiten, pasar modal menunjukkan daya tarik kuat. Sepanjang 2025, tercatat 26 saham baru melalui penawaran umum perdana. Dana terhimpun mencapai Rp18,1 triliun. Total perusahaan tercatat meningkat menjadi 956 entitas.

Instrumen lain mencatat aktivitas tinggi. Terdapat 181 emisi obligasi serta sukuk, tiga Exchange Traded Fund, satu Efek Beragun Aset, serta 647 waran terstruktur.

Ragam instrumen memperkaya pilihan pendanaan korporasi sekaligus alternatif investasi publik.

IHSG menanjak stabil. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang 2025 mencerminkan dinamika ekonomi global serta domestik. IHSG ditutup menguat 22,10 persen secara year to date pada level 8.644,26.

Volume transaksi harian menyentuh 30,27 miliar lembar saham.Memasuki 2026, Bursa Efek Indonesia menetapkan sasaran terukur.

Pertumbuhan investor ditargetkan bertambah dua juta akun baru. Rata rata nilai transaksi harian dipatok Rp15 triliun.

Pencatatan efek baru ditargetkan 555 instrumen, mencakup saham, obligasi, sukuk, ETF, DINFRA, DIRE, serta berbagai skema Kontrak Investasi Kolektif.
Pencapaian target memerlukan sinergi pemangku kepentingan.

Otoritas, pelaku industri, media, komunitas, serta dunia pendidikan menjadi satu ekosistem. Pasar modal tidak berdiri sendiri. Ia hidup melalui kolaborasi.

Kalbar Ikut Bertumbuh

Dinamika nasional tercermin jelas pada wilayah Kalimantan Barat. Kepala Pelaksana Harian BEI wilayah setempat, Ardhy Anto, memaparkan lonjakan signifikan jumlah investor sepanjang 2025.

“Tercatat 258.248 investor. Ada penambahan 71.173 investor baru,” ujar Ardhy Anto dalam Media Update Kalbar 2026 bersama Forum Jurnalis Ekonomi Khatulistiwa di Kota Pontianak, Jumat 6 Februari 2026.

Lonjakan ini didukung aktivitas edukasi intensif.Infrastruktur literasi berkembang seiring pertumbuhan investor.

Sepanjang 2025, terdapat penambahan enam Galeri Investasi baru. Total mencapai 32 galeri tersebar pada berbagai kabupaten kota.

Galeri berfungsi sebagai pusat informasi, edukasi, serta konsultasi investasi publik.

Keberadaan galeri memperpendek jarak antara pasar modal serta masyarakat. Ia menghadirkan pasar modal dalam ruang nyata, dekat dengan kampus, komunitas, serta pusat aktivitas warga.

Menuju Go Public

Sebagai bagian strategi penguatan ekosistem, BEI Kalbar menyelenggarakan Workshop Go Public bertema Go Big With Go Public.

Kegiatan berlangsung melalui kolaborasi bersama Gabungan Perusahaan Alat Alat Kesehatan Kalbar, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Kalbar, serta HIPMI Kota Pontianak.

Forum ini menghadirkan narasumber berpengalaman. Listyorini Dian Pratiwi selaku Vice Director Listed Company Development Division BEI memaparkan tahapan strategis menuju pencatatan saham.

Mari Fransiska selaku Head of Investment Banking PT KGI Sekuritas menjelaskan aspek pembiayaan korporasi.

Hansen Teguh selaku Head of Investor Relation PT Jayamas Medica Industri Tbk berbagi pengalaman transformasi perusahaan pasca IPO.

Materi mencakup manfaat, proses, kesiapan internal, serta kisah sukses perusahaan tercatat.

Forum ini membuka perspektif baru bagi pelaku usaha daerah. Pasar modal hadir sebagai jalan tumbuh, bukan sekadar opsi pendanaan.

Pasar modal Indonesia memasuki fase kedewasaan baru. Partisipasi publik meningkat. Edukasi menjangkau akar rumput.

Emiten bertambah. Infrastruktur menguat. Di daerah, geliat terasa nyata. Tantangan tetap ada.

Volatilitas global, literasi lanjutan, perlindungan investor menjadi pekerjaan berkelanjutan. Namun fondasi telah terbangun.

Pasar modal tidak lagi berdiri di menara gading. Ia berjalan bersama rakyat setara, tumbuh perlahan, kokoh, serta berjangka panjang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *