PONTIANAK, borneoreview.co – Tirta Arifin baru saja dilantik di Prokopim Pemkot Pontianak. Amanah baru pengabdian sebagai ASN.
Senyum simpul terpancar. Senyum itu tak lahir dari kebetulan. Ia tumbuh perlahan, seiring perjalanan panjang pengabdian.
Pagi itu, Aula Sutan Syarif Abdurrahman (SSA) Kantor Wali Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu akhir tahun, menjadi saksi bisu.
Perjalanan dan perubahan hidup seorang aparatur sipil negara, bernama Tirta Arifin sedang terjalin dan menapak.
Pria berpostur tenang itu, berdiri rapi saat pelantikan 32 pejabat administrator, setingkat eselon tiga berlangsung khidmat.
Pelantikan dipimpin langsung Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Prosesi berjalan tertib. Tidak ada gestur berlebihan.
Momentum terasa lebih personal. Nama Tirta Arifin dipanggil. Amanah baru disematkan. Jabatan Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi, Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Pontianak, resmi berada di pundaknya.
Riwayat pengabdian bukan catatan singkat. Mantan Lurah Siantan Hulu dan Lurah Sungai Bangkong tersebut, telah lama bersentuhan langsung bersama denyut warga.
Pengalaman lapangan membentuk naluri komunikasi. Ia terbiasa mendengar sebelum bicara. Terbiasa membaca situasi sebelum memberi pernyataan.

Namun, dari sorot mata Tirta Arifin tersimpan tekad baru. Usai pelantikan, ia menyampaikan pernyataan lugas tanpa berputar.
“Supaya informasi kebijakan dan program Pemerintah Kota Pontianak tersampaikan secara jelas, akurat serta berimbang kepada masyarakat,” tutur Tirta Arifin.
Kalimat singkat namun sarat arah. Ia sadar peran Prokopim bukan sekadar pengatur jadwal pimpinan. Lebih jauh menjadi jembatan komunikasi kebijakan publik.
Komunikasi Pimpinan Daerah
Era keterbukaan informasi menuntut kecepatan sekaligus ketepatan. Tirta Arifin memahami perubahan lanskap komunikasi publik.
Media digital bergerak cepat. Arus informasi mengalir deras. Kesalahan kecil berpotensi menimbulkan tafsir luas.
Dalam pandangannya Prokopim memegang fungsi strategis. Bukan hanya penyampai pesan, tapi pengelola makna. Bukan sekadar rilis, tapi penutur kebijakan.
Tirta Arifin menegaskan, langkah awal berfokus pada penguatan koordinasi lintas perangkat daerah, serta insan pers.
Kolaborasi dinilai kunci, agar pesan pemerintah tersaji faktual, dan mudah dipahami warga lintas latar.
“Peran Prokopim menjadi semakin strategis, dalam menjembatani komunikasi antara pimpinan daerah dan publik,” ucapnya menjelaskan.
Pengalaman sebagai lurah, memberinya perspektif unik. Ia pernah berdiri di garis terdepan menghadapi pertanyaan warga.
Tirta Arifin paham sekali, soal kegelisahan muncul seketika, saat informasi tidak utuh. Dari situ lahir komitmen, membangun komunikasi responsif, terbuka dan adaptif.
Kedepan, ia mendorong pemanfaatan teknologi informasi secara bijak. Bukan sekadar cepat, tapi tetap terverifikasi. Bukan sekadar viral, tapi tetap berimbang.
“Sehingga kebijakan Wali Kota, serta Wakil Wali Kota dapat diketahui masyarakat, secara luas tepat sasaran,” kata Tirta Arifin menggarisbawahi.
Narasi kepemimpinan, menurutnya, harus menyentuh nalar publik. Bahasa sederhana menjadi pilihan. Diksi tidak berjarak. Pesan tidak berlapis.
Kepercayaan Publik Terjaga
Di balik setiap kebijakan terdapat harapan warga. Tirta Arifin melihat komunikasi sebagai fondasi kepercayaan.
Tanpa komunikasi efektif, kebijakan rawan disalahpahami. Tanpa kejelasan informasi, ruang spekulasi terbuka lebar.
Ia menegaskan, kesiapan mendukung arahan Wali Kota Pontianak, dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. Informasi cepat akurat menjadi bagian dari pelayanan itu sendiri.
Citra pemerintah tidak dibangun lewat pencitraan kosong. Citra lahir dari konsistensi pesan, serta tindakan nyata. Prokopim bertugas memastikan pesan publik, mencerminkan kerja lapangan.
“Komunikasi efektif dinilai menjadi kunci, dalam merespons setiap persoalan secara cepat tepat, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah,” ujar Tirta Arifin.
Dalam diam, ia menata langkah. Amanah baru bukan tujuan akhir. Jabatan hanya alat. Pengabdian tetap orientasi utama.
Sebagai Kabag Prokopim, ia berhadapan langsung bersama ritme pimpinan daerah. Jadwal padat. Agenda berlapis. Tekanan publik tinggi. Namun, ia memilih melihatnya, sebagai ruang belajar lanjutan.
Pengalaman sebagai lurah, memberinya sensitivitas sosial. Pengalaman birokrasi memberinya ketepatan prosedur. Kombinasi itu menjadi modal penting.
Pontianak, kota multikultural menuntut pendekatan komunikasi inklusif. Tirta Arifin menyadari, pesan pemerintah harus mampu menjangkau seluruh lapisan warga tanpa sekat. Bahasa publik mesti netral dan jernih.
Pelantikan hari itu, bukan sekadar rotasi jabatan. Ia menjadi penanda bab baru, perjalanan pengabdian. Dari kelurahan menuju pusat komunikasi pimpinan kota.
Senyum semringah pagi itu, kini berubah menjadi kesadaran tanggung jawab. Tirta Arifin melangkah dengan tenang. Ia tahu kepercayaan bukan hadiah instan.
Kepercayaan tumbuh lewat kerja dan konsistensi.
Di ruang Prokopim Sekretariat Daerah Kota Pontianak, kisah baru mulai ditulis. Sebuah kisah tentang komunikasi publik, berdaya jangkau luas, berakar fakta dan berorientasi pelayanan kepada warga.
Kini, Tirta Arifin memilih berada di balik layar. Mengatur ritme. Menjaga kata. Merawat makna dalam bingkai harmoni sunyi. Senyap. (Aceng Mukaram).***
