PONTIANAK, borneoreview.co – Sebanyak 89 pemuda terbaik, termasuk 14 putra-putri asal Kabupaten Kayong Utara, resmi diberangkatkan ke Cina, untuk mengikuti pelatihan teknologi pengolahan aluminium dalam program Operations Development Program yang diinisiasi PT Dharma Inti Bersama (DIB).
Pelepasan peserta dilakukan di Bandara Supadio, Pontianak, Senin (18/5/2026), disaksikan keluarga peserta, pemerintah daerah, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Program ini bertujuan menyiapkan sumber daya manusia lokal, untuk mendukung operasional industri di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara.
Salah satu peserta, Yusril Damara, mengaku bersyukur dapat lolos setelah menjalani pelatihan Bahasa Mandarin selama empat bulan melalui program kolaborasi Universitas Tanjungpura dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama.
“Saya tentu sangat senang sekali. Perjuangan dan usaha saya selama empat bulan ini akhirnya terbayarkan,” ungkap Yusril.
Ia berharap ilmu yang diperoleh selama di Cina dapat digunakan untuk membangun daerah asalnya.
“Saya ingin membangun daerah asal saya, Kayong Utara. Saya berharap daerah kita bisa semakin maju dengan adanya keberadaan smelter ini,” katanya.
Peserta lainnya, Zainir Oktaviani, sarjana Fisika Murni Fakultas MIPA, mengatakan keberangkatannya ke Cina menjadi motivasi bagi keluarganya, khususnya adik-adiknya.
“Saya ingin menjadi inspirasi bagi adik-adik saya karena saya anak pertama. Dukungan penuh dari orang tua sejak kecil hingga sekarang adalah kekuatan terbesar saya,” ujar Zainir.
Ia berharap pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi bekal untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
“Saya ingin menjadikan Kayong Utara lebih maju, berkembang pesat, hingga suatu saat nanti bisa menjadi kota yang maju seperti Pontianak ini,” katanya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kayong Utara, A. Azahari, mengatakan para peserta diharapkan tidak hanya mempelajari teknologi industri, tetapi juga disiplin dan etos kerja selama berada di Cina.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Mengapa harus Cina? Secara historis, di sanalah peradaban Lembah Sungai Kuning menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan tertua di dunia,” ujar Azahari.
Menurutnya, pengalaman internasional tersebut akan menjadi modal penting bagi generasi muda Kalbar dalam menghadapi kebutuhan tenaga kerja industri di masa depan.
“Cina itu etos kerjanya tinggi, disiplinnya luar biasa, dan mereka tetap mengedepankan adab serta sopan santun. Hal-hal positif itulah yang harus anak-anak kita serap di sana,” tambahnya.
Anggota DPD RI perwakilan Kalimantan Barat, Daud Yordan, menilai program tersebut menjadi peluang besar bagi generasi muda daerah untuk memperoleh pekerjaan dan pengalaman internasional.

“Hari ini, jujur saja, mencari pekerjaan secara itu sulit. Tapi adik-adik ini luar biasa, pulang dari sana informasinya akan langsung dipekerjakan sesuai keahlian masing-masing. Ini kesempatan yang tidak datang dua kali,” tutur Daud.
Ia juga berpesan agar seluruh peserta kembali ke daerah untuk ikut membangun Kalimantan Barat.
“Menuntut ilmu boleh setinggi-tingginya, ambil ilmunya sebanyak-banyaknya. Tugas kalian adalah kembali dan membangun daerah kita, Kalimantan Barat,” tegasnya.
Program pengiriman peserta ke Cina ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas tenaga kerja lokal guna mendukung pengembangan industri aluminium di Kawasan Industri Pulau Penebang.***
