YOGYAKARTA, borneoreview.co – Ada beberapa jenis kudapan tradisional yang tidak perlu tampil mencolok untuk membuat orang berhenti dan penasaran. Kue Bingke khas Pontianak salah satunya.
Bentuknya menyerupai bunga berkelopak enam, teksturnya lembut, dan rasanya merupakan pertemuan manis gula dengan gurih santan dan telur. Di Pontianak, Kalimantan Barat, bingke telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat, terutama saat Ramadan.
Soal asal-usulnya, bingke khas Pontianak menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terang. Penelitian tentang gastronomi bingke mencatat tidak ada sumber tertulis yang dapat memastikan kapan dan di mana kue ini pertama kali dibuat.
Ada cerita yang menghubungkannya dengan tradisi Melayu dan kisah Putri Junjung Buih dari Kerajaan Daha. Tetapi kisah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai cerita warisan kuliner, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Ada pula penelitian yang menemukan keterangan bahwa bingke baru mulai dijual secara komersial di pasar dan toko-toko di Pontianak sekitar tiga dekade terakhir. Dalam perkara ini kita wajib menyebut bingke Al-Fajar sebagai salah satu toko awal yang menjualnya.
Ketidakpastian sejarah itu justru menunjukkan bahwa bingke kemungkinan tumbuh dari tradisi dapur masyarakat, sebelum berubah menjadi komoditas kuliner. Jika dulu hanya bisa dibeli saat Ramadhan, lama-lama bingke bisa dijumpai di luar bulan suci.
Seiring perubahan zaman, bingke kini dibuat dalam berbagai varian rasa. Mulai bingke biasa, bingke berendam, pandan, susu, keju, cokelat hingga rasa-rasa lainnya. Perubahan itu membuat bingke semakin mudah diterima oleh konsumen yang lebih luas.
Pemerintah Kota Pontianak kini memasukkan bingke dalam daftar kuliner khas daerah. Dalam kajian gastronomi, bingke bahkan disebut telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pontianak.
Bagi wisatawan, posisinya juga bergeser dari sekadar jajan camilan menjadi buah tangan. Orang datang ke Pontianak tidak hanya mencari makanan berat atau kopi, tetapi juga membawa pulang bingke sebagai pengingat perjalanan.
Di Pontianak, keberadaan bingke tidak berdiri sendiri. Kota ini memiliki tradisi kuliner yang dibentuk oleh perjumpaan berbagai komunitas bangsa. Dalam konteks itu, bingke menjadi contoh bagaimana makanan berkembang mengikuti lingkungan sosial.
Resepnya sederhana, tetapi memberi ruang bagi para pembuatnya untuk menjaga karakter dasar sambil mengembangkan rasa baru.
Yogyakarta memberi cerita berbeda. Bingke tidak diperkenalkan oleh jaringan industri besar, melainkan oleh orang-orang yang membawa ingatan tentang kampung halaman.
Bang Syarif, pemilik kedai Bingke Pontianak Permata adalah mahasiswa perantauan asal Kalimantan Barat. Ketika kuliah, resep dan kebiasaan makan itu ikut berpindah. Dari kebutuhan mencari penghasilan, bingke kemudian menjadi cara mereka memperkenalkan makanan daerah.
Enam pilihan rasa yang dijual Bingke Pontianak Permata memperlihatkan proses adaptasi tersebut. Rasa original tetap dipertahankan. Sementara cokelat, keju, susu, dan kombinasi memberi pilihan bagi pembeli yang mungkin belum mengenal bingke sebelumnya.
Kedai Binke Pontianak Permata biasanya mulai ramai selepas Asar. Lokasinya di Jalan Sultan Agung, tepat di seberang eks Bioskop Permata Jogja.
Menurut Bang Syarif, usaha tersebut dirintisnya sejak tahun 2006. Para penjual awalnya merupakan mahasiswa asal Kalimantan Barat yang sedang kuliah di Yogyakarta. Bang Briko menjadi orang pertama yang berjualan, kemudian dilanjutkan Bang Tomy dan Bang John. Sejak 2013, Bang Syarif meneruskan usaha itu.
Pada akhirnya, perjalanan bingke adalah cerita tentang mobilitas manusia. Mahasiswa perantau asal Kalimantan menuju Yogyakarta, membawa resep dari rumah, lalu menjajakannya di tanah rantau. Konsumen kemudian menjadi bagian dari perjalanan berikutnya.
Dari sini perjalanan bingke menjadi menarik. Ia tidak lahir sebagai produk industri besar. Tapi tumbuh dari resep, kebiasaan makan, dan tangan para pembuat kue yang mempertahankan bentuk serta rasa, sambil menyesuaikannya dengan selera zaman.
Karena itu bingke sanggup bertahan menyeberang jauh dari Pontianak ke Yogyakarta. Ia membawa nama daerah, tetapi tidak membawa rasa yang asing.
Di Yogyakarta -kota yang punya tradisi kuliner sendiri- bingke justru menemukan ruang baru: Menjadi kudapan sore, buah tangan, sekaligus pengingat bahwa sebuah makanan bisa meninggalkan kampung halamannya tanpa kehilangan identitas.
