JAKARTA, borneoreview.co – Pariwisata modern pasca kolonial melihat budaya tradisonal sebatas objek eksploitasi. Menjual kehidupan masyarakat lokal dalam kemasan eksotis.
Dapur tradisional, petani yang bekerja di sawah, hingga makanan yang dibuat menggunakan peralatan seadanya, dapat berubah menjadi komoditi ketika dilihat dari sudut mata wisatawan.
Semakin sederhana, semakin dianggap autentik. Semakin jauh dari kehidupan modern, semakin menarik untuk difoto.
Pada titik ini pariwisata tidak lagi sekadar orang bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Tapi menjadi persoalan siapa yang berhak menentukan bagaimana sebuah tempat harus dilihat, dan kehidupan yang dianggap layak untuk dipertontonkan.
Gagasan Edward W Said dalam bukunya “Orientalism” (1978) membantu membongkar persoalan tersebut. Dia menetapkan tiga konsep analisa yang menunjukkan adanya relasi kuasa dalam -industri-pariwisata: Imperialist nostalgia, tourist gaze, dan spasialisasi kolonial.
Jebakan Wisata Pengalaman
Imperialist nostalgia menjelaskan bahwa para pemburu wisata rindu pada kehidupan yang tidak pernah mereka jalani. Sering kali ini dimaknai sebagai kerinduan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai masa lalu.
Wisatawan dari kota besar datang ke sebuah desa untuk mencari makanan tradisional, melihat rumah kuno, menikmati suasana kampung, atau mencicipi masakan yang dibuat dengan cara lama.
Mereka menyebutnya autentik. Pertanyaannya, autentik menurut siapa?
Di sinilah konsep imperialist nostalgia menjadi relevan. Nostalgia semacam ini bukan sekadar kerinduan terhadap masa lalu, melainkan kecenderungan untuk mengidealkan kehidupan tradisional yang sebenarnya lahir dari relasi sejarah dan ketimpangan.
Masyarakat lokal seolah-olah dianggap menarik justru ketika mereka baru separo modern. Kemiskinan dapat terlihat romantis ketika dialami hanya selama dua jam sebagai pengalaman wisata.
Dapur sederhana menjadi eksotis karena wisatawan dapat kembali ke hotel setelah mencicipi makanan. Jalan kampung yang becek terasa autentik karena wisatawan tidak harus tinggal di sana seumur hidupnya.
Bilik kumuh tanpa pendingin udara terlihat menarik karena pengunjung dapat meninggalkannya setelah seleasi sesi foto.
Masalahnya bagi masyarakat lokal, kesederhanaan yang mereka jalani belum tentu merupakan pilihan budaya. Bisa jadi konsekuensi keterbatasan ekonomi.
Komoditas Wisata
Ketika kondisi tersebut dijual sebagai pengalaman autentik, kemiskinan berisiko mengalami perubahan makna, dari persoalan sosial menjadi komoditas wisata.
Tourist gaze kemudian mengubah kehidupan menjadi tontonan. Kehidupan masyarakat lokal tidak hadir begitu saja di hadapan wisatawan. Tapi direkonstruksi menjadi sesuatu yang layak ditonton.
Wisatawan tidak sekadar berkunjung ke sebuah kampung. Mereka datang dengan ekspektasi tentang apa yang akan mereka temukan.
Mereka ingin melihat petani bekerja, perempuan memasak di tungku tradisional, anak-anak bermain di halaman, pedagang menjajakan makanan khas, atau warga mengenakan pakaian tradisional.
Semua itu kemudian dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. Kehidupan sehari-hari berubah menjadi semacam panggung pertunjukan.
Masyarakat Jadi Objek
Di sinilah muncul pertanyaan penting. Apakah masyarakat lokal masih menjadi subjek? Atau perlahan berubah menjadi objek tontonan?
Kuliner memperlihatkan persoalan ini dengan jelas. Makanan tidak hanya dijual sebagai makanan. Ia dapat dikemas bersama cerita tentang tradisi, kemiskinan, kesederhanaan, dongeng leluhur, dan kehidupan masa lalu.
Cerita tersebut membuat makanan memiliki nilai lebih tinggi di mata wisatawan. Pada saat yang sama, masyarakat lokal dapat terjebak memainkan kembali identitas yang disukai pasar -bukan yang mereka pilih untuk dijalani.
Warga lokal dituntut tetap terlihat tradisional karena itulah yang diburu wisatawan. Sehingga pariwisata bukan hanya mengonsumsi makanan atau pemandangan, tapi juga mengunyah representasi kehidupan orang lain.
Persoalan menjadi lebih serius ketika kita melihat ruang. Dalam konteks spasialisasi kolonial, siapa yang mendapatkan ruang paling nyaman?
Pariwisata membutuhkan ruang untuk bekerja: Hotel, restoran, jalan, kawasan heritage, pasar, desa wisata, tempat parkir, hingga titik swafoto.
Ruang tersebut tampak netral. Padahal pembangunannya selalu berkaitan dengan kepentingan tertentu.
Inilah yang dibaca melalui konsep spasialisasi kolonial. Dalam perspektif ini, ruang tidak sekadar tempat berlangsungnya kegiatan.
Ruang dapat menjadi instrumen yang mengatur siapa, berada di mana. Siapa yang bergerak dengan bebas, dan siapa yang harus menyesuaikan diri.
Kawasan wisata dirancang sangat nyaman bagi wisatawan. Jalan diperbaiki, trotoar dibangun, fasad rumah diperindah, restoran ditata, dan kawasan heritage dipoles.
Tetapi pada saat yang sama, kebutuhan masyarakat yang tinggal di sana belum tentu menjadi prioritas. Kampung yang sebelumnya merupakan ruang hidup bisa berubah menjadi ruang pertunjukan.
Rumah menjadi latar foto. Gang menjadi jalur wisata. Warung menjadi bagian dari paket pengalaman. Bahkan aktivitas sehari-hari dapat diarahkan mengikuti ritme kedatangan wisatawan.
Di sini, batas antara ruang hidup dan ruang konsumsi menjadi semakin samar. Persoalannya bukan berarti pariwisata selalu buruk atau wisatawan tidak boleh menikmati kehidupan lokal.
Relasi Kuasa
Masalahnya terletak pada relasi kuasa di balik pengalaman tersebut. Siapa yang menentukan apa yang disebut autentik? Siapa yang memperoleh keuntungan dari ke-autentikan itu?
Dan siapa yang harus mempertahankan kehidupan tertentu agar tempat tersebut tetap menarik bagi wisatawan?
Tiga konsep tersebut akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan bahwa pariwisata bukan hanya perjalanan menuju suatu tempat. Tapi juga cara memproduksi tempat dan manusia yang ada di dalamnya.
Imperialist nostalgia menjelaskan mengapa kehidupan sederhana dapat dirindukan. Tourist gaze merinci bagaimana kehidupan tersebut kemudian dijadikan tontonan.
Sementara spasialisasi kolonial menjelaskan bagaimana ruang diatur agar tontonan sekaligus konsumsi wisata itu dapat berlangsung.
Sebab itu kritik terhadap pariwisata pascakolonial bukan terutama pada pertanyaan apakah wisatawan boleh datang. Tapi ketika sebuah tempat menjadi destinasi, apakah masyarakat yang tinggal di dalamnya ikut memiliki hak untuk menentukan bagaimana tempat itu dilihat, diceritakan, dan dijual?
Sebab destinasi yang tampak autentik di mata wisatawan, belum tentu menjadi ruang yang adil bagi orang-orang yang menyebutnya rumah.
