JAKARTA, borneoreview.co – Fenomena bapak-bapak kumpul Minggu pagi hanya untuk motoran bareng sedang ramai di beberapa daerah. Sekadar mengisi waktu senggang atau cara bertahan dari stres akibat timbunan pekerjaan?
Pagi ini sebuah unggahan video lewat di beranda Instagram. Ajakan kepada siapapun kaum bapak untuk bareng-bareng motoran.
Beberapa isi pesannya lucu: “Senggang bukan berarti pengangguran.” “Tidak ada struktural.” “Hidup sudah sulit, jangan dipersulit dengan organisasi.”
Mahasiswa Miliki Tekanan Mental Paling Tinggi, Jangan Tunggu Sampai Parah
Bapak-bapak Senggang mendaku sebagai gerakan sosial, tapi menolak bentuk kelompok yang hierarkis. Tidak kaku, tapi juga bukan komunitas yang cair.
Komunitas ini tanpa ketua. Meniru bentuk pemerintahan desa, mereka memilih istilah perangkat dusun untuk menyebut anggota komunitas yang memiliki tugas tertentu.
Tanggung jawab perangkat dusun lebih kepada fungsi, bukan atasan bagi Warga Senggang -begitu mereka memanggil anggota komunitas.
Tidak ada perangkat dusun yang posisinya lebih tinggi dari perangkat dusun lainnya. Sekali lagi, perangkat dusun ditunjuk semata-mata untuk memudahkan pengorganisiran kegiatan.
Bapak-bapak Senggang hadir sebagai ruang kebersamaan yang positif untuk menjaga kesehatan mental bersama. Tujuan itu terlihat dari unggahan video dan foto-foto mereka di Instagram yang kelihatan sumringah.
Cara menghibur diri kayaknya kok nggak perlu repot-repot amat ya.
Tanpa bermaksud keminter menerjemahkan suasana santai kegiatan itu, ada teori serius yang menjelaskan fenomena bapak-bapak senggang.
Pemkab Kubu Raya Dorong Gen Z Manfaatkan Ruang Publik untuk Akses Kerja dan Ekonomi Kreatif
Penulis Ray Oldenburg dalam bukunya “The Great Good Place” membagi ruang sosial manusia dalam tiga kategori: Rumah sebagai tempat pertama, lingkungan kerja sebagai tempat kedua, dan interaksi sosial menjadi tempat ketiga.
Third place menurut Oldenburg merupakan komponen penting dari infrastruktur sosial suatu wilayah. Ruang itu bisa berupa tempat hunian, fasilitas, infrastruktur, lingkungan permukiman, lanskap jalan, atau komunitas yang memfasilitasi hubungan sosial antar warga.
Dia menyebut ruang ketiga itu sebagai tempat-tempat yang hebat dan menyenangkan. Pokoknya segala kegiatan yang menopang kehidupan sosial termasuk dalam “ruang ketiga”.
Bahkan tempat usaha komersial seperti kedai kopi, kafe, bar, salon kecantikan, tempat pangkas rambut, yang memiliki ciri khas bersahaja dan tidak mencolok serta -biasanya- terjangkau untuk sekadar tempat berkumpul, termasuk kategori ruang ketiga.
Lingkungan ini menghadirkan lebih dari sekadar interaksi sosial tingkat individu yang terjadi sesekali. Tapi dapat menghasilkan perasaan kolektif berupa kebanggaan warga, penerimaan terhadap keberagaman, kepercayaan, dan rasa kebersamaan.
Di Amerika, tempat ketiga -third places- telah lama menjadi bagian penting dari budaya mereka. Perpustakaan bahkan barbershop misalnya, terbuka bagi masyarakat umum tanpa memandang usia atau status sosial.
Presiden Amerika Barack Obama, salah satu politikus yang pernah sukses menggunakan “ruang ketiga” sebagai strategi kampanye. Dia berhasil memenangkan suara di South Carolina —meskipun dengan selisih tipis.
Bupati Kubu Raya Sulap Dermaga Rasau Jaya Jadi Ruang Publik
Selama berbulan-bulan, tim kampanye Barack Obama menjalankan strategi akar rumput untuk merangkul para penata rambut dan tukang cukur kulit hitam di South Carolina. Mereka mengandalkan sosok Danyelle America —pemilik Salon Fabulous yang ceria dan vokal— untuk memikat hati para pelanggannya.
Dari nongkrong di barbershop, materi kampanye Barack Obama sampai ke para calon pemilih. Melibatkan tim relawan kampanye muda yang penuh semangat untuk mendatangi setiap salon kecantikan dan tempat pangkas rambut.
Mereka berbagi tugas menjawab pertanyaan, mendaftarkan pelanggan sebagai pemilih, serta membagikan pamflet, tiket rapat umum, bahkan poster yang menampilkan Barack Obama saat sedang memangkas rambutnya.
Ruang sub kultur di kota-kota, menjamur seiring pola hidup yang semakin individualis. Kesibukan kerja menuntut jeda.
Sekadar berkumpul dan motoran menjadi suaka kesehatan mental para bapak untuk mempertahankan ruang interaksi sosial mereka. Yuk ikut kalau senggang!
