MOROWALI, borneoreview.co – Fenomena El Nino menyebabkan penurunan jumlah produksi nikel di Sulawesi. Kemarau panjang mulai berdampak pada dunia industri.
Sejumlah smelter nikel di Sulawesi, Maluku, dan Papua kesulitan memperoleh air yang diperlukan untuk proses peleburan.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno menyebutkan fenomena El Niño memberi dampak buruk bagi penambang nikel. Turunnya produksi smelter di Sulawesi berdampak pada permintaan biji nikel.
Percepat Proyek Strategis Nasional, PT Vale Indonesia Datangkan Alat Pengolahan Nikel
Djoko Widajatno belum dapat memperkirakan jumlah penurunan permintaan biji nikel tersebut. Djoko menegaskan penurunannya tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah tersebut, tetapi tetap memberikan dampak bagi sektor hulu.
“El Nino sudah menurunkan serapan nikel, karena smelter sulit memperoleh air yang dibutuhkan untuk proses peleburan. Penurunan produksi yang signifikan ditambah dengan masalah internal dalam tata kelola,” kata Djoko.
Menurut Djoko jumlah penurunan produksi tidak linear, tetapi berdampak pada wilayah pengolahan nikel di Sulawesi, Maluku, Papua.
PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengakui produksi nikel saat ini terdampak kemarau akibat El Nino. Kondisi itu berpotensi menurunkan produksi smelter sekitar 30 persen-40 persen.
Smelter Melaju Kencang, Cadangan Bauksit RI Tinggal Hitungan
Head of Media Relations PT IMIP, Dedy Kurniawan menyebutkan fenomena El Nino mengakibatkan kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah. Sehingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Cadangan air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel berbasis high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy.
Dedy mmenegaskan dampak El Nino tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP erhenti total atau melakukan pengurangan tenaga kerja. “Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja.”
Smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional akibat turunnya pasokan listrik. Pasokan listrik terganggu karena pembangkit listrik tenaga air (PLTA) kekurangan air.
Smelter nikel BMS tercatat memiliki izin usaha industri (IUI) yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian. Tidak terintegrasi langsung dengan kepemilikan izin usaha pertambangan (IUP) di bawah Kementerian ESDM.
Akibat kondisi tersebut PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja. Meski dirumahkan, para pekerja tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.
Turunnya pasokan listrik akibat kekuarangan air di PLTA, menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.
Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya mencatat kekeringan yang terjadi di wilayah Luwu membuat pasokan air di wilayah tersebut terbatas. Kebutuhan air untuk PLTA menjadi tidak mencukupi.
Di wilayah lainnya seperti di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku. Kekeringan di wilayah itu disebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan itu.
Kementerian ESDM menetapkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 di rentang 260—270 juta ton. Jumlah itu mengalami penurunan signifikan dibandingkan target RKAB tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.
