PONTIANAK, borneoreview.co – Gong berbunyi. Bukan tanda pertempuran, melainkan penanda persaudaraan yang baru saja dipupuk.
Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik III Kota Pontianak, berakhir Sabtu (19/9/2026). Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menutup acara. Donata Dirasig Krisantus Kurniawan mengapresiasi peserta. Ajang ini memperkuat iman, persaudaraan, kerukunan dalam keberagaman.
Aula Rumah Dinas Wakil Gubernur Kalimantan Barat bergema. Bukan hiruk politik, melainkan kidung pujian.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menutup acara. Ia memukul gong. Tanda rangkaian perlombaan usai. Hadiah diserahkan. Cerdas cermat, mazmur, dan cabang lain tuntas.
Donata Dirasig Krisantus Kurniawan hadir. Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Provinsi Kalimantan Barat itu mengapresiasi peserta.
“Yang terpenting bukan hanya siapa yang menjadi juara,” ucapnya. “Tetapi, bagaimana anak-anak dan seluruh peserta dapat belajar bekerja sama, berlatih dengan disiplin, berani tampil, serta membangun semangat persaudaraan.”

Lebih dari Sekadar Lomba
PESPARANI bukan ajang biasa. Edi Rusdi Kamtono menegaskan maknanya. “PESPARANI bukan hanya tentang mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu yang indah serta membangun harmonisasi,” ujarnya.
Lebih dari itu, PESPARANI menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan, mempererat persaudaraan, dan membangun tali silaturahmi.
Pontianak heterogen. Suku, agama, budaya, kelompok sosial bertemu. “Keberagaman tersebut merupakan cerminan Indonesia,” kata Edi.
Edi menegaskan, “Kehidupan yang damai, sejuk, sejahtera dan harmonis harus terus kita rawat bersama.”
Donata sepakat. Ia berharap pengalaman peserta menjadi bekal positif. “Setiap perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang belum mendapatkan juara,” ungkapnya.
Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar, berlatih dan memberikan yang terbaik, lanjutnya.
Merawat Kerukunan di Era Digital
Era digital menguji kerukunan. Media sosial cepat. Informasi deras. Edi mengingatkan.
“Di era digital seperti sekarang, kita harus semakin dewasa dalam menggunakan media sosial,” katanya, “Jangan sampai perbedaan membuat kita saling menjatuhkan atau menghina.”
PESPARANI menjadi sarana moderasi beragama. Khususnya generasi muda. “Kegiatan seperti PESPARANI ini, dapat menjadi sarana untuk mencerdaskan kehidupan beragama, dan memperkuat kerukunan,” kata Edi.
Dia berharap semangat persaudaraan berlanjut. “Saya berharap semangat kebersamaan yang dibangun dalam PESPARANI ini terus dibawa dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Edi menegaskan, orang boleh berbeda agama, suku maupun latar belakang, tetapi kita tetap satu sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Donata menutup dengan apresiasi. “Penutupan PESPARANI Katolik III ini diharapkan semakin memperkuat peran lembaga tersebut dalam membina generasi muda,” ujarnya.
Juga mengembangkan potensi umat, serta mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis di Kota Pontianak.
PESPARANI III usai. Juara telah diraih. Namun pesan utama bergaung. Iman, persaudaraan, kebersamaan, kerukunan. Warisan berharga bagi Pontianak. Rawat keberagaman. Mulai dari diri sendiri.***
