NAGASAKI, borneoreview.co – Tidak banyak yang tersisa dari Pulau Gunkanjima, kota mati yang pernah menjadi pusat penambangan batu bara di Jepang. Suram dan terisolir di lepas pantai Nagasaki.
Nama lain dari pulau kecil yang menyerupai benteng ini adalah Hashima. Dalam bahasa Jepang artinya ‘Pulau Kapal Perang’. Pulau tersebut dikelilingi oleh tembok penahan ombak
Bangunan-bangunan berhimpitan yang kini benar-benar kosong. Pulau ‘kota hantu’ ini tak lagi berpenghuni selama lebih dari 40 tahun.
Mitsubishi Corporation membeli Pulau Gunkanjima tahun 1890 sebagai pusat penambangan batu bara bawah laut. Selama lebih dari 80 tahun, tambang membentang hingga ke dasar laut.
Hasil tambang batu bara dikapalkan ke pulau induk Kyushu untuk diolah menjadi bahan bakar ekspansi industri Jepang. Pada tahun 1941, pulau yang luasnya kurang dari satu kilometer persegi itu memproduksi 400.000 ton batu bara per tahun.
Banyak dari pekerja tambang bawah laut adalah tenaga kerja paksa yang didatangkan dari Korea. Sejak 29 Agustus 1910 hingga 15 Agustus 1945 Jepang menjajah Korea melaui perjanjian aneksasi.
Untuk menampung para penambang, Mitsubishi Corporation membangun kompleks apartemen sepuluh lantai di pulau batu yang mungil itu. Labirin bangunan tinggi saling terhubung oleh halaman, koridor, dan tangga.
Di pulau juga dibangun sekolah, restoran, dan tempat perjudian. Semuanya dikelilingi oleh tembok penahan ombak sebagai pelindung.
Pulau Gersang
Pulau ini kemudian diberi nama “Midori nashi Shima”: Pulau tanpa tanaman hijau. Secara alami, pulau ini hanya sebuah punggungan batu karang yang telanjang di tengah laut.
Pulau ini tidak memiliki lapisan tanah subur maupun pasir yang dapat menjadi media tumbuh bagi pepohonan atau tanaman liar. Untuk memperluas wilayah operasional tambang, Mitsubishi melakukan reklamasi di sekeliling batu karang menggunakan timbunan sisa-sisa batu bara, batuan limbah tambang, abu, dan semen.
Pada pertengahan tahun 1950-an, pulau ini dihuni oleh hampir 6.000 orang. Menjadikan Pulau Gunkanjima sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi yang pernah tercatat di dunia.
Namun, akhirnya cadangan batu bara di Pulau Gunkanjima habis. Mitsubishi menutup tambang tersebut dan semua orang pergi.
Kota pulau itu ditinggalkan begitu saja, hingga kembali menyatu dengan alam. Bangunan apartemen mulai runtuh dan untuk pertama kalinya, tanaman hijau mulai tumbuh di halaman-halaman yang sebelumnya gersang.
Sekarang setelah 50 tahun terbengkalai, kondisi pulau itu persis sama seperti saat Mitsubishi baru saja meninggalkannya. Sebuah kota mati di tengah lautan.
Lokasinya yang unik pernah menjadi latar sejumlah film layar lebar. Salah satu yang terkenal adalah film James Bond tahun 2012, “Skyfall” yang menyebabkan pulau ini terkenal.
Protes Korea Selatan
Jepang pernah sama sekali melarang kunjungan ke Pulau Gunkanjima antara tahun 1974 hingga 2009. Belakangan situs yang memikat ini dibuka kembali untuk kunjungan wisata terorganisir.
Pada 5 Juli 2015, UNESCO menyetujui situs Pulau Gunkanjima masuk dalam daftar Warisan Dunia. Pulau ini masuk dalam kelompok Situs Revolusi Industri Meiji Jepang: Besi dan Baja, Pembuatan Kapal, serta Pertambangan Batu Bara.
Penetapan Pulau Gunkanjima sebagai situs warisan dunia memicu protes dari pemerintah Korea Selatan. Mereka mengecam penetapan pulau sebagai warisan dunia tanpa menyebut sejarah kerja paksa ribuan warga Korea selama Perang Dunia II adalah bentuk pengabaian sejarah.
Jepang akhirnya sepakat mendirikan pusat informasi yang secara jujur mengakui adanya kerja paksa warga Korea dan China di situs penambangan batu bara itu selama tahun 1940-an.***
