JAKARTA, borneoreview. co – Indonesia meningkatkan jumlah impor biji nikel dari Filipina sebesar 50 persen. Peningkatan impor terjadi setelah Kementerian ESDM memperketat kuota produksi biji nikel lewat pemangkasan RKAB perusahaan tambang.
Berdasarkan data World Bureau of Metal Statistics (WBMS), sejak Januari hingga Juli 2026, jumlah impor biji nikel dari Filipina mencapai 11,4 juta ton. Jumlah itu mendekati total impor setahun kemarin, sebesar 15,3 juta ton.
Tidak hanya dari Filipina, World Bureau of Metal Statistics mencatat arus impor dalam jumlah lebih kecil juga masuk secara rutin dari Kepulauan Solomon.
Tragisnya lonjakan jumlah impor itu terjadi saat Indonesia berhasil memantapkan posisi sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia.
Lebih dari 60 persen produksi nikel yang dipakai oleh produsen baja tahan karat maupun baterai kendaraan listrik (EV), berasal dari Indonesia.
Surpus nikel Indonesia merupakan hasil dari kebijakan pelarangan ekspor biji nikel pada tahun 2020. Memaksa pelaku usaha untuk membangun kapasitas pengolahan di dalam negeri.
Jika seluruh pabrik pengolahan nikel di Indonesia beroperasi pada kapasitas penuh, membutuhkan 315 juta ton biji nikel per tahun.
Di tengah pengurangan kuota produksi, memenuhi jumlah tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah yang berat.
Pemerintah punya alasan logis membatasi produksi biji nikel lewat pemangkasan kuota pertambangan.
Alasannya menyesuaikan harga biji nikel untuk mengendalikan sektor nikel yang sebelumnya tumbuh tidak terkendali.
Akhirnya kuota pertambangan nikel dipangkas dari 379 juta metrik ton tahun lalu, menjadi kisaran 250 juta hingga 260 juta ton di tahun 2026.
Kebijakan itu sempat mendorong harga nikel di London Metal Exchange mencapai level tertinggi sebesar US$20.000 per ton pada bulan Mei 2026.
Kini Kementerian ESDM menghadapi dilema terkait cara mengurangi volume produksi tambang, tanpa merugikan perusahaan pengolahan nikel.
Pemerintah belakangan mengoreksi kebijakan dengan meloloskan pengajuan penambahan kuota produksi dalam RKAB. Sebagian perusahaan baru saja mulai meningkatkan kapasitas produksi tahun ini.
Perusahaan tambang nikel asal Prancis Eramet (ERMT.PA) misalnya, kembali beroperasi di tambang Weda Bay, setelah sempat menghentikan kegiatan pada bulan Mei akibat habisnya kuota tahun 2026.
Perusahaan pengolahan nikel lainnya memilih menyesuaikan diri mengatasi pasokan biji nikel dalam negeri yang berkurang. Jalan paling logis beralih ke pasokan impor, terutama dari Filipina.
Pasar nikel sempat menaruh harapan besar bahwa pemerintah akan mengambil langkah mencegah terjadinya surplus pasokan global.
International Nickel Study Group merevisi perkiraan keseimbangan pasar tahun 2026 pada bulan April untuk memperhitungkan penurunan produksi di Indonesia.
Lembaga tersebut memproyeksikan defisit tipis 32.000 ton pada tahun ini. Bandingkan dengan perkiraan surplus sebesar 261.000 ton saat mereka mengadakan pertemuan sebelumnya pada Oktober 2025.
Tapi nyatanya stok nikel olahan di bursa global terus merangkak naik secara stabil.
Shanghai Futures Exchange mencatat jumlah pasokan biji nikel saat ini mencapai 478.000 ton. Cukup untuk memasok kebutuhan pasar global selama tujuh minggu.
Nilai surplus bisa jadi lebih tinggi daripada yang terlihat dari data stok yang tercatat. Ada indikasi kuat Tiongkok menimbun nikel untuk memanfaatkan kondisi harga yang rendah saat ini.
Tiongkosk mengimpor 170.000 ton nikel olahan selama tujuh bulan pertama tahun ini. Naik 28 persen secara tahunan dan merupakan tingkat impor tertinggi sejak 2016.
Mengingat produksi nikel olahan Tiongkok sendiri sedang tumbuh berkat pasokan bahan baku dari Indonesia, bisa disimpulkan bahwa sebagian impor tersebut dipakai untuk tujuan strategis, bukan sekadar tujuan komersial.***
