Waspada Super El Nino, Berpotensi Mengganggu Komoditas Pangan

Ilustrasi Super El Nino yang menyebabkan kekeringan.

JAKARTA, borneoreview.co – Fenomena El Nino tahun ini diperkirakan menjadi yang paling kuat selama sejarah dan berpotensi menganggu produksi komoditas pangan.

El Nino yang terjadi akibat reaksi atmosfer terhadap pemanasan di Samudra Pasifik akan meningkatkan suhu di garis Katulistiwa.

Suhu panas dan kekeringan mungkin meningkat di sejumlah wilayah, sementara curah hujan dan banjir bertambah di wilayah lainnya.

Perubahan cuaca ekstrem menimbulkan ancaman terhadap produksi komoditas pangan dan energi. Situasi itu berisiko memicu lonjakan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

El Nino tahun ini terjadi bersamaan dengan musim monsun India yang melemah. Memperparah kebakaran hutan di Indonesia, serta mengancam produksi gula dan kopi di Brasil.

Pada September 2026, suhu di wilayah Samudra Pasifik tercatat naik 4 derajat celsius di atas normal. Kenaikan suhu tersebut menjadi anomali cuaca paling aneh selama hampir 8 dekade.

Para peramal cuaca di Amerika Serikat memperkirakan peluang 83 persen El Nino akan semakin parah pada akhir tahun. Menjadi yang terparah sejak pencatatan fenomena El Nino pertama kali tahun 1950.

Super El Nino

El Nino teridentifikasi melalui pemantauan suhu di Samudra Pasifik, terutama di wilayah yang dikenal sebagai Nino 3.4.

Menurut standar Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut naik setidaknya 0,5 derajat celsius di atas rata-rata.

Kategori El Nino kuat, jika selisih suhu mencapai setidaknya 1,5 derajat celsius. Sedangkan El Nino sangat kuat mensyaratkan selisih kenaikan suhu minimal 2 derajat celsius.

Pada September 2026, suhu di wilayah Nino 3.4 Samudera Pacifik tercatat 2,1 derajat celsius di atas normal.

Super El Nino bukan istilah resmi yang digunakan oleh lembaga peramalan cuaca seperti NOAA atau Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Istilah Super El Nino semakin populer tahun ini seiring munculnya perkiraan bahwa fenomena perubahan cuaca ekstrem yang sangat kuat akan terjadi.

El Nino yang sangat kuat jarang terjadi. Sejak 1950, hanya terjadi beberapa kali fenemona serupa, terakhir pada tahun 2015–2016.

Mempengaruhi Produksi Pangan

Sejumlah tanaman dapat memperoleh manfaat dari El Nino. Curah hujan yang lebih tinggi di California misalnya, dapat meningkatkan hasil panen alpukat dan almon.

Namun, banyak komoditas pangan utama termasuk beras, gandum, minyak sawit, kopi, dan gula, ada di wilayah yang berpotensi mengalami cuaca panas ekstrem.

Selain memengaruhi daratan, El Nino juga dapat mengganggu kehidupan ikan laut. Aliran air hangat Pasifik ke arah timur menahan naiknya air laut yang lebih dingin dan kaya nutrisi ke permukaan.

Akibatnya, jumlah fitoplankton yang menjadi makanan ikan berkurang. Sejumlah jenis ikan, seperti ikan teri di lepas pantai Peru, dapat berpindah ke perairan yang lebih dingin dan lebih dalam.

Penurunan hasil panen, berkurangnya tangkapan ikan, dan kematian ternak akibat cuaca ekstrem dapat mengancam ketahanan pangan global serta mendorong kenaikan harga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *