KOTAWARINGIN BARAT, borneoreview.co – Pekebun swadaya sawit di Kelurahan Raja Seberang, Arut Selatan, Kotawaringin Barat kehilangan puluhan hektare lahan sawit akibat kebakaran hutan dan lahan, karhutla.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat mendata, luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 176,27 hektare.
Selama periode Januari hingga Oktober terdapat 7.956 titik panas di Kotawaringin Barat.
Kelurahan Raja Seberang merupakan wilayah yang paling parah terdampak karhutla. Tercatat 348 titik panas dan 50 hektare lahan sawit terbakar sejak 1 hingga 11 Oktober 2026.
Terparah Sejak 2007
Kotyo petani sawit warga Raja Seberang mengaku kehilangan 3 hektare lahan kelapa sawit akibat kebakaran hutan dan lahan. Menurut dia, karhutla tahun ini yang terparah sejak tahun 2007.
Kerusakan tanaman sawit akibat kebakaran menyebabkan Kotyo kehilangan sumber pendapatan keluarga. Pemulihan tanaman membutuhkan waktu dan biaya yang besar.
Petani gagal panen akibat kebun sawit rusak dilahap api. Pemulihan lahan sangat bergantung tingkat kerusakan yang otomatis akan mengganggu jumlah produksi pada musim panen berikutnya.
Kabupaten Kotawaringin Barat adalah salah satu pusat produksi kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Jumlah perkebunan sawit rakyat mencapai 82.598 hektare.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, total luas areal tanaman kelapa sawit di wilayah ini mencapai 277.303,93 hektare.
Penurunan Produksi
Tidak hanya dampak kerusakan langsung, kabut asap dari karhutla mengganggu proses fotosintesis tanaman dan pembentukan buah. Menyebabkan penurunan produktivitas sekitar 0,2 persen hingga 5,5 persen.
Jika kebakaran hutan dan lahan dibarengi kekeringan parah, potensi penurunan produktivitas kebun sawit melonjak hingga 41 persen.
Kerugian petani sawit akibat penurunan produktivitas dapat mencapai Rp12 juta hingga Rp15 juta per hektare. Petani yang kebunnya ikut terbakar langsung, menderit kerugian jauh lebih besar.***
