JAKARTA, borneoreview.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bakal melanjutkan peningkatan produksi batu bara selama masa relaksasi kuota terbatas.
Peningkatan produksi didorong oleh kenaikan harga batu bara kalori tinggi sekitar US$154 per ton.
“Hari ini (harga batu bara) mencapai US$154 per ton untuk kalori 6.322. Harapan kita memang harganya bagus, produksinya kita naikkan. Sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand,” kata Bahlil.
Devisa Negara
Bahlil berharap kebijakan relaksasi produksi batu bara secara terbatas mendongkrak devisa negara. “Kita juga ingin dalam waktu dekat, bagaimana devisa kita bisa masuk.”
China tercatat masih menjadi negara tujuan utama ekspor batu bara Indonesia. Ekspor batu bara ke China lewat jalur laut pada September 2026 mencapai 12,42 juta metrik ton.
Kenaikan harga justru terjadi saat jumlah ekspor batu bara ke China turun 15,48 persen dari periode yang sama tahun 2025.
Jumlah ekspor batu bara ke China jika dihitung secara tahunan juga turun sebesar 32,97 persen.
Ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada September 2026 tercatat 36,45 juta metrik ton. Naik tipis 0,52 persen dari bulan sebelumnya dan turun 18,11 persen dari angka tahunan.
Sedikit kenaikan ekspor secara bulanan tersebut karena terjadi pemulihan permintaan dari India dan Filipina. Tapi melambatnya permintaan dari China dan Malaysia justru membebani ekspor secara keseluruhan.
Sepanjang Januari hingga September 2026 jumlah ekspor batu bara melalui jalur laut mencapai 338 juta metrik ton. Jumlah itu turun 6,16 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Produksi Nasional
Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM melaporkan capaian produksi batu bara nasional hingga Juli 2026 tembus angka 423,71 juta metrik ton.
Dari total jumlah produksi tersebut, porsi ekspor mendominasi sebesar 63,82 persen atau 270,40 juta metrik ton.
Sementara pemenuhan kebutuhan dalam negeri menyerap 26,86 persen (113,40 juta metrik ton) dan sisanya sebesar 9,32 persen (39,51 juta metrik ton) merupakan stok nasional.
Jumlah realisasi produksi batu bara selama 7 bulan tersebut, rata-rata berada di kisaran 60 juta metrik ton per bulan. Kementerian ESDM memperkirakan produksi batu bara mencapai 720 juta metrik ton hingga akhir 2026.***
