Defisit Pasokan Domestik, Kamerun Tertarik Impor Minyak Sawit dari Indonesia

Ilustrasi ekspor sawit ke Kamerun.

JAKARTA, borneoreview.co – Kamerun membuka peluang impor minyak kelapa sawit dari Indonesia. Negara di Afrika tengah itu juga menjajaki peluang kerja sama bidang penelitian dan pengembangan teknologi sawit.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengaku menerima pernyataan ketertarikan untuk impor sawit dari pihak-pihak di Kamerun.

Menurut Agung ketertarikan tersebut harus ditindaklanjuti sebelum menjadi bentuk kerja sama perdagangan yang konkret. “Saya mendapat berbagai pertanyaan dan interest untuk mengimpor kelapa sawit dari Indonesia,” kata Agung.

Agung saat ini mengumpulkan informasi mengenai tata kelola ekspor kelapa sawit dari Indonesia. Informasi tersebut akan disampaikan kepada calon mitra importir di Kamerun.

“Saya bilang, saya ke Jakarta dulu. Saya mencari amunisi dulu. Nanti saya bisa jawab mereka. Saya akan kumpulkan mereka,” kata Agung Cahaya Sumirat.

Potensi Ekspor

Namun, hingga kini Agung belum dapat memastikan berapa perkiraan potensi ekspor minyak sawit ke Kamerun.

Selain berpotensi menjadi pasar ekspor, beberapa pihak di Kamerun menyatakan ketertarikan untuk melakukan kerja sama penelitian dan teknologi sektor sawit.

Kementerian Riset Kamerun menunjukkan ketertarikan untuk terus mempelajari teknologi pengembangan kelapa sawit di Indonesia.

Sejumlah perusahaan Indonesia juga telah menandatangani nota kerja sama dengan pemerintah Kamerun terkait penelitian perkebunan kelapa sawit.

Keuntungan bagi Indonesia kerja sama semacam ini berpotensi memperluas jangkauan kemitraan industri sawit ke pasar Afrika. Sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan komoditas tersebut.

Minus Produksi Domestik

Kamerun adalah produsen minyak sawit terbesar di Afrika Tengah. Mereka saat ini sedang mengalami defisit pasokan domestik sehingga berencana melakukan impor tambahan pada paruh kedua tahun 2026.

Berkurangnya pasokan minyak sawit dalam negeri akibat pengetatan aturan ekspansi perkebunan. Industri kelapa sawit di Kamerun disebut sebagai penyebab hilangnya kawasan hutan.

Pemerintah memperketat aturan pembukaan lahan, pengelolaan limbah, serta kepatuhan terhadap standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Produksi minyak sawit Kamerun mencapai 450.000 ton per tahun. Namun negara ini tetap memerlukan impor sekitar 60.000 ton setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dua industri besar produsen minyak sawit di Kamerun adalah La Société Camerounaise des Palmeraies (Socapalm) dan Cameroon Development Corporation (CDC)

Socapalm menguasai hampir 41 persen total produksi minyak sawit di Kamerun. Koorporasi ini salah satu yang tertua, berdiri sejak tahun 1968.

Sedangkan CDC menghasilkan sekitar 18.000 hingga 19.000 ton minyak sawit rendah asam lemak bebas per tahun. Perkebunan utama mereka berada di kawasan Mondoni, Idenau, dan Illoani.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *