MUSI BANYUASIN, borneoreview.co – Asap mengepul dari corong ketel uap pabrik pengolahan kelapa sawit di Desa Beruge, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin.
Di luar bangunan tinggi bercat oranye itu, beberapa truk antre menunggu bongkar muatan tandan buah segar.
Bertahun-tahun pekebun kelapa sawit di Kecamatan Babat Toman dan sekitarnya menggantungkan nasib menjual hasil panen ke pabrik-pabrik swasta.
Harganya tidak pernah pasti. Kadang di atas harga pasar, lebih sering dibeli murah. Petani tidak pernah paham bagaimana harga tandan buah segar ditetapkan.
Tapi mereka tak punya pilihan. Hukum ekonomi di lingkungan perkebunan sawit menempatkan para pekebun di luar lingkaran pengambil keputusan.
Pabrik Milik Koperasi
Cerita itu berubah sejak Agustus lalu. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono meresmikan berdirinya pabrik crude palm oil (CPO) milik KUD Sejahtera.
Pendirian pabrik CPO dengan modal Rp100 miliar itu membuktikan petani sawit mampu mengambil peran lebih besar dalam industri pengolahan.
Pabrik dengan kapasitas pengolahan 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam itu mengakhiri ketergantungan petani menjual hasil panen ke pabrik milik pihak lain.
“Kami ingin para pekebun tidak hanya menjual tandan buah segar. Tapi juga ikut memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan dan industri kelapa sawit,” kata Menteri Koperasi, Ferry Juliantono.
KUD Sejahtera memiliki lebih dari 1.500 anggota. Luas kebun sawit yang menjadi pemasok pabrik mencapai 3.074 hektare.
Sekitar 76 persen kebutuhan bahan baku pabrik berasal dari kebun milik anggota. Pabrik juga menerima pasokan buah sawit dari kebun mitra yang luasnya hampir 6.000 hektare.
Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan operasional pabrik. Koperasi memiliki kendali lebih mapan atas rantai pasokan, mulai dari produksi tandan buah segar hingga pengolahan CPO.
Pendapatan Petani Meningkat
Bagi petani, pabrik tidak hanya menjadi tempat menjual hasil panen. Pengolahan melalui usaha milik koperasi memungkinkan nilai tambah yang sebelumnya dinikmati pabrik swasta.
Rata-rata pendapatan petani meningkat 30 persen setelah bergabung menjadi anggota KUD Sejahtera. Sebagian anggota memperoleh pendapatan belasan juta rupiah per bulan dari hasil kebun.
Ketua KUD Sejahtera, Thamrin, mengatakan pembangunan pabrik merupakan bagian dari cita-cita panjang memperluas usaha hingga ke sektor hilir.
“KUD bisa berkembang dan tumbuh sampai ke hilir. Minimal sampai pada tahap pengolahan CPO melalui pendirian pabrik. Keyakinan itu terus kita sampaikan ke anggota,” kata Thamrin.
Petani juga mendapat manfaat ekonomi dari pembagian keuntungan usaha koperasi. Dalam enam bulan pertama, dividen yang dihasilkan pabrik mencapai hampir Rp 6 miliar.
“Dividen ini terpisah dari sisa hasil usaha. Kami bagikan ke anggota pada akhir tahun,” ujar Thamrin.
Proses Panjang
KUD Sejahtera berdiri tahun 1984. Pada 1995 koperasi memperoleh Kredit Koperasi Primer untuk Anggota yang dipakai sebagai modal membangun kebun plasma.
Koperasi Unit Desa Sejahtera kemudian mendapat dukungan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Petani anggota koperasi menggunakan dana bantuan untuk peremajaan kebun sekaligus merevitalisasi kantor dan fasilitas pendukung.
Baru pada tahun 2018–2019, pengurus koperasi mulai merancang membangun pabrik pengolahan sawit. Mereka menyadari butuh fondasi perkebunan yang tertata dan produktif.
Koperasi kemudian mengintensifkan penanaman kebun pada tahun 2020. Dua tahun kemudian rapat anggota menyetujui pembangunan pabrik.
Produksi Minyak Goreng
Modal terkumpul sedikit demi sedikit hingga rencana pembangunan pabrik terwujud. “Koperasi masih punya ambisi memproduksi minyak goreng. Rencana itu membutuhkan tambahan modal dan dukungan regulasi,” kata KUD Sejahtera, Thamrin.
Menurut Menteri Koperasi, Ferry Julianton, pengembangan pabrik CPO oleh koperasi dapat membuka jalan menuju industri pengolahan yang lebih kompleks.
Setelah menguasai pengolahan tandan buah segar menjadi CPO, koperasi berpotensi mengembangkan kilang minyak sawit hingga bisa memproduksi minyak goreng, biodiesel dan oleokimia.
“Tahun ini kita targetkan sekitar 20 koperasi yang dapat mendaftar untuk mendirikan pabrik minyak sawit mentah,” ujar Ferry.***
