Diplomasi ‘Koboi’, Telaah Wacana Menteri ESDM Stop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

JAKARTA, borneoreview.co – Ancaman Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyetop ekspor gas ke negara tetangga, tidak terlontar dari ruang diplomasi politik yang hampa.

Memang Bahlil tidak secara eksplisit menyebut negara tetangga yang ia maksud. Tapi beberapa kalimatnya mengarah pada Singapura dan Malaysia.

Belakangan, kedua negara terlibat perang urat syaraf dengan Indonesia, terkait kasus kebakaran hutan dan lahan.

“Saya akan evaluasi. Saya tidak segan-segan mempertimbangkan, tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.

Diduga ancaman Bahlil merespon sikap politikus Malaysia dan Singapura yang makin keras mencecar Indonesia terkait kasus kebakaran hutan dan lahan.

Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq, secara terbuka mengajak Singapura memberikan tekanan finansial di tingkat ASEAN terhadap perusahaan-perusahaan pembakar hutan di Indonesia. “Putus akses mereka. Hantam dompet mereka.”

Syed Saddiq mendesak penindakan hukum tegas terhadap para pelaku pembakar hutan. Pernyataan itu boleh jadi ditangkap sebagai tudingan Indonesia yang tidak tegas mengatasi karhutla.

Bahasa Diplomasi yang Ganjil

Anggota dewan Malaysia lainnya, Kalam Salan bahkan menggunakan bahasa Jawa untuk “menyentil” Presiden Prabowo Subianto. Dia mendesak bencana karhutla segera dipadamkan dan tidak dijadikan bahan “lelucon”.

“Di sana (Indonesia), kebanyakan orang Jawa tidak memahami bahasa Melayu. Oleh karena itu, izinkan saya dengan persetujuan parlemen, menyampaikan pidato dalam bahasa Jawa,” kata Kalam memulai membacakan pesannya di depan ruang sidang.

Pesan berbahasa Jawa yang disampaikan Kalam Salan jelas ditujukan untuk Presiden Prabowo. Apakah Kalam Salan menganggap Presiden tidak bisa memahami bahasa Melayu?

Atau bisa jadi Kalam Salan yang punya darah keturunan Jawa, merasa lebih akrab menyampaikan pesan kepada Presiden menggunakan bahasa ibu, ketimbang bahasa yang umum dipakai dalam komunikasi diplomatik.

Api dari lahan gambut dan hutan di Indonesia mulai merembet “membakar” hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Singapura. Hubungan luar negeri dengan negara jiran jadi lebih “hangat”.

Terdesak oleh tembakan kritik dan tekanan politik Malaysia dan Singapura, Bahlil balik menyerang menggunakan “kartu As”: dominasi pasokan energi.

Berlindung di belakang dalih kepentingan energi nasional, Menteri ESDM mengancam balik para pengritik.

Komunikasi Ancaman

Dalam perspektif komunikasi diplomatik, pernyataan bernada ancaman tidak selalu efektif untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

Menurut teori diplomasi koersif yang dikembangkan Alexander L George dan Thomas C Schelling, tekanan terhadap negara lain membutuhkan ancaman yang kredibel.

Ancaman harus berisi tuntutan yang jelas dan ada jaminan tekanan akan berhenti jika tuntutan terpenuhi. Tanpa unsur tersebut, ancaman justru berisiko memperbesar ketidakpastian dan mendorong pihak sasaran melawan tekanan.

Risiko tersebut dijelaskan melalui konsep provocation dalam studi hubungan internasional. Koersi dan provokasi sering menunjukkan ancaman tidak melemahkan tekad pihak sasaran.

Ancaman justru memperkuat keinginan pihak lain untuk melawan demi mempertahankan kehormatan dan reputasi.

Dalam konteks pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal ekspor gas ke negara tetangga, yang perlu diuji bukan semata-mata ketegasan pesan.

Melainkan menjawab pertanyaan: apakah pilihan retorika tersebut memperkuat posisi tawar Indonesia? Atau justru mempersulit terwujudnya kesepakatan yang saling menguntungkan.

Gaya Komunikasi Bahlil

Diluar konteks diplomasi Indonesia dengan Malaysia dan Singapura, analis komunikasi politik, Hendri Satrio pernah menyebut gaya penyampaian pesan Bahlil cenderung tidak berpihak kepada masyarakat.

Sehingga komunikasi yang disampaikan Bahlil kerap menimbulkan sentimen negatif dari publik.

“Saya melihat cara komunikasi Bahlil terlalu mewakili elit. Cenderung menyebabkan publik memberikan sentimen negatif,” kata Hendri Satrio.

Beda lagi pandangan Ketua Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar, Nurul Arifin.

Menurut Nurul Arifin, gaya komunikasi Bahlil merupakan model komunikasi politik modern yang dekat dengan rakyat.

Gaya komunikasi politik Menteri ESDM ini dianggap tidak bertele-tele dan to the point. “Sangat otentik khas dirinya. Itu kekuatan yang membuat masyarakat mudah menangkap pesannya,” kata Nurul Arifin.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *