Air Mata Terakhir Bocah Tujuh Tahun di Lubang Tambang Samarinda

Dinas ESDM

SAMARINDA,borneoreview.co – Namanya Muhammad Andi Rizki. Usianya baru tujuh tahun. Tubuhnya kecil, tapi nyali dan rasa ingin tahunya sebesar langit Samarinda Kalimantan Timur.

Selasa sore itu, seperti bocah-bocah lain di Sempaja Utara, ia berlarian di tepian kolam bekas tambang yang airnya jernih terlalu jernih untuk sesuatu yang menyimpan maut.

Air itu memang jernih. Ibu-ibu di kampung mengambilnya untuk memasak, mencuci, menyiram tanaman.

Musim kemarau datang, sumur mengering, dan kolam raksasa itu berubah menjadi mata air satu-satunya. Warga menyebutnya berkah. Tak ada yang menyebutnya kuburan.

Lalu Rizki terpeleset. Atau mungkin terpana. Atau mungkin sekadar ingin menyentuh permukaan air yang berkilau diterpa senja. Dalam hitungan detik, riak kecil itu menghilang.

Bocah tujuh tahun itu tenggelam di lubang yang digali perusahaan, ditinggalkan tanpa penutup, tanpa pagar, tanpa papan peringatan.

Enam hari kemudian, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, berdiri di tepi void itu.

Ia berbicara tentang koordinasi, tentang inventarisasi, tentang skema pompa air.

“Yang terpenting, jangan sampai kembali terjadi korban,” katanya.

Kalimat itu menggema di atas permukaan air yang diam air yang sudah menelan Rizki, dan mungkin akan menelan bocah lain.

Izin PT Dunia Usaha Maju (PT DUM membeku. Tapi Rizki sudah lebih dulu membeku di dasar kolam.

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur mencatat ia sebagai korban ke-55.

Lima puluh lima nyawa melayang di lubang-lubang yang sama, di tanah yang sama, di provinsi yang sama. Angka itu bukan statistik. Itu deretan nama yang tak sempat dewasa.

Menampung Air Mata

Muhammad Kacong, ketua LPM setempat, hanya bisa menatap kolam itu dengan mata berkaca.

“Karena musim kemarau, masyarakat mengambil air di sini untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian,” ucapnya pelan. Suaranya seperti berbisik pada tanah yang tak lagi bisa menampung air mata.

Di Sempaja Utara, senja kali ini berbeda. Seorang ibu duduk di beranda, memeluk seragam sekolah anaknya yang tak akan pernah dipakai lagi.

Di kejauhan, air kolam itu masih berkilau. Masih jernih. Masih mematikan. Biarkan dunia tahu bahwa lubang tambang bukan sekadar void ia adalah liang lahat menunggu korban berikutnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *