Atasi Isu Sampah dan Metana, Menteri LH Kumpulkan Potensi Teknologi Transisi

sampah

JAKARTA, borneoreview.co – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengatakan pihaknya tengah mengumpulkan potensi teknologi transisi untuk mengelola sampah dan mengatasi isu gas metana.

Melansir Antara, Jumat (8/5/2026), hal ini selagi menunggu pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Menteri LH Jumhur mengatakan ini saat menjawab pertanyaan wartawan usai pertemuan dengan mantan Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim di Jakarta, kemarin.

Menteri LH Jumhur mengatakan pemerintah mempersiapkan pembangunan PSEL di sejumlah lokasi termasuk rencananya akan dibangun di Jakarta demi menekan sampah yang berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

“Tapi pertanyaannya sekarang adalah menunggu 2-3 tahun ke depan itu apa yang boleh dikerjakan. Ini juga menjadi PR kita, makanya kita juga harus ada semacam teknologi transisi ya, yang bisa memastikan metana itu berkurang tanpa harus menunggu mesin itu jalan,” kata Jumhur.

Gas metana sendiri dihasilkan dari sampah organik yang tertimbun tanpa pengelolaan lanjutan. Metana sendiri menjadi salah satu jenis gas rumah kaca yang berkontribusi menyebabkan perubahan iklim dan dapat memicu kebakaran TPA jika terjadi fenomena suhu panas ekstrem.

Penggunaan teknologi transisi itu diperlukan mengingat timbulan sampah terus muncul setiap harinya. Untuk itu sembari menunggu pembangunan PSEL maka diperlukan implementasi teknologi alternatif demi mengurangi tumpukan sampah.

“Ini yang kita lagi mematangkan langkah apa. Di antaranya teknologi-teknologi yang dikembangkan anak bangsa yang bisa segera menghilangkan itu, terutama gas metana itu ya kita kerjakan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Jumhur juga mengatakan membahas isu sampah tersebut bersama Emil Salim. Terutama karena sampah menjadi salah satu persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat serta melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Dia menyebut dalam audiensi pada hari ini, keduanya tidak hanya membicarakan upaya pengurangan sampah tapi juga pengelolaannya agar dapat menghasilkan nilai tambah.

Tidak hanya itu, turut dibicarakan juga masyarakat yang terlibat langsung dalam pengelolaan sampah seperti pemulung dan penggunaan inovasi yang mengubah sampah menjadi produk lain seperti paving block.

Jumhur juga menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan nasihat dari Menteri Lingkungan Hidup pertama Indonesia itu untuk menggandeng kelompok masyarakat dalam berbagai gerakan lingkungan hidup.

“Gerakan lingkungan tidak boleh menjadi milik Kementerian Lingkungan Hidup, tapi gerakan lingkungan menjadi milik semua. Terutama kita harus menghormati teman-teman yang secara sukarela bergerak dalam menyelamatkan bumi, menyelamatkan lingkungan,” demikian Jumhur Hidayat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *