BANJARMASIN, borneoreview.co – Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan terus mempertahankan tradisi bernuansa religi setiap bulan Rabiul Awal atau bertepatan bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, yakni baayun maulid.
Melansir Antara, Senin (7/9/2026), pada bulan Rabiul Awal 1448 H / 2026 M ini, kegiatan baayun maulid tetap dilaksanakan di masjid bersejarah Kesultanan Pertama Banjar, yakni Masjid Sultan Suriansyah di Kuin, Banjarmasin Utara, Minggu kemarin.
Tradisi yang sekaligus untuk merayakan Harjad ke-500 Kota Banjarmasin ini diikuti sebanyak 500 peserta dari berbagai usia, didominasi anak-anak yang mengikuti warisan budaya masyarakat Banjar yang dilaksanakan secara turun-temurun.
Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda menyampaikan, tradisi baayun maulid yang prosesinya, anak ditempatkan di dalam ayunan dan diayun oleh orang tua atau keluarga, sembari diiringi pembacaan Al-Quran, salawat, dan doa tersebut pada tahun ini memiliki makna khusus.
“Alhamdulillah hari ini perayaan baayun maulid bertepatan di bulan kita akan memperingati 500 tahun Kota Banjarmasin,” katanya.
“Harapannya ke depan Masjid Sultan Suriansyah ini menjadi ikon, bukan hanya ikon Banjarmasin, tetapi ikon Kalimantan Selatan, Kalimantan bahkan Indonesia,” tambahnya.
Ia menilai, keberadaan Masjid Sultan Suriansyah menjadi salah satu tonggak sejarah penting karena merupakan bagian dari sejarah awal Kota Banjarmasin, khususnya dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Dia berharap tradisi baayun maulid dapat terus dikembangkan dan masuk dalam kalender kegiatan daerah hingga nasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil menjelaskan, jumlah 500 peserta ditetapkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan 500 tahun Kota Banjarmasin.
Ia menambahkan, peserta merupakan warga Kota Banjarmasin yang ditentukan berdasarkan hasil koordinasi dan rapat kepanitiaan bersama pihak kecamatan serta unsur terkait lainnya.
Pelaksanaan baayun maulid juga tidak dipungut biaya atau gratis bagi peserta. Sabil menilai tradisi tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat sehingga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan berskala lebih luas.
“Ini suatu kebudayaan, kebudayaan dari turun-temurun sebenarnya. Baayun maulid adalah bagian daripada tradisi mengungkapkan rasa kebahagiaan akan munculnya Islam yang ada di Kalimantan,” jelasnya.***
