Belum Padam Kebakaran Hutan, El Nino Mengancam Krisis Pangan Asia Tenggara

Ilustrasi krisis pangan dapak El Nino.

JAKARTA, borneoreview.co – Kekeringan dan suhu panas ekstrem akibat El Nino di Asia Tenggara berpotensi mengganggu produksi pangan dan meningkatkan risiko bencana.

Penyedia riset pasar, Business Monitor International (BMI) menyebut dampak El Nino terutama akan melanda Afrika bagian selatan, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, dan Asia Tenggara.

Filipina dan Thailand termasuk negara yang mengalami peningkatan risiko terbesar. Dampak El Nino tidak terbatas pada produksi pangan, tetapi juga penduduk yang menghadapi kekeringan.

Sekitar 90 juta lebih banyak penduduk Asia Tenggara terpapar kekeringan dibandingkan kondisi normal. Kawasan ini terkena dampak populasi terbesar.

Kekeringan berpotensi memengaruhi produksi komoditas utama pertanian. Mulai dari beras, gula, minyak sawit, dan kopi robusta.

Merosotnya hasil panen menjadi salah satu penyebab utama El Nino memengaruhi perekonomian. Inflasi pangan di sejumlah negara berkembang tercatat sekitar 1,8-2,5 poin lebih tinggi setelah terjadi kekeringan ekstrem.

Cadangan Pangan Terbatas

Kondisi itu berpotensi menekan daya beli masyarakat. Terutama rumah tangga miskin yang mengalokasikan sebagian besar pengeluaran untuk kebutuhan pangan.

Ancaman El Nino semakin mengkhawatirkan karena sejumlah negara Asia Tenggara memiliki cadangan komoditas yang relatif terbatas.

Stok beras di Thailand, Vietnam, dan Filipina turun dibandingkan tahun 2023. Filipina menjadi salah satu negara paling rentan terhadap kenaikan harga karena sepertiga kebutuhan beras terpenuhi oleh impor.

Di Indonesia, perkiraan cadangan minyak sawit 9 persen dari total penggunaan. Sementara stok kopi robusta Vietnam hanya 2 persen.

Business Monitor International menilai risiko kemungkinan lonjakan harga beras global seperti tahun 2023-2024 relatif lebih kecil.

Persediaan beras global saat ini lebih mapan. India yang menguasai sekitar 39 persen ekspor beras dunia, memiliki cadangan setara 47 persen konsumsi domestik.

Jumlah cadangan itu mengurangi kemungkinan terulangnya pembatasan ekspor yang menyebabkan kenaikan harga beras global. Thailand juga memiliki cadangan gula yang relatif memadai.

Beda hal di Indonesia. Risikonya bukan hanya penurunan produksi domestik, tetapi juga potensi terganggunya perdagangan pangan regional apabila negara pemasok mengalami kekeringan serempak.

BMKG wilayah Sumatra Selatan memperkirakan musim hujan pada bulan November. Sementara di beberapa wilayah rawan kebakaran, hujan bisa saja datang lebih awal.

Saat ini, hujan dengan intensitas bervariasi mulai turun di berbagai wilayah Sumatra dan Kalimantan. Sebagian di antaranya merupakan hasil penyemaian awan (teknologi modifikasi cuaca).

Terjadinya hujan setelah operasi penyemaian awan merupakan pertanda positif, mengingat teknik ini memerlukan keberadaan awan yang memadai.

Hujan Bulan Oktober

Pada tanggal 6 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan prakiraan hujan di Provinsi Sumatra Selatan, paling cepat minggu ketiga Oktober dan paling lambat minggu ketiga November.

Menjelang tanggal 24 Oktober, situasi berubah. Kepala Stasiun Meteorologi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Siswanto mengungkapkan bahwa kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan.

Di provinsi Kalimantan Tengah, prakirawan cuaca mengisyaratkan peluang hujan tinggi untuk tanggal 15 dan 16 Oktober. Hujan benar-benar turun pada kedua hari itu.

Stasiun BMKG Sumatra Selatan memperkirakan curah hujan pada bulan Oktober relatif ringan. Musim hujan diperkirakan baru akan terjadi di bulan November.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *