BPS Prediksi Karhutla Ikut Tekan Inflasi Kalbar pada September

Inflasi Kalbar

PONTIANAK, borneoreview.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat memprediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut memberikan tekanan terhadap perkembangan inflasi daerah itu pada September 2026.

“Terlebih lagi adanya karhutla diprediksi sangat memengaruhi inflasi Kalbar pada September ini,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalbar sekaligus Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa Sri Suyatmi di Pontianak, Senin (21/9/2026).

Ia menjelaskan kondisi karhutla perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat, distribusi barang, hingga ketersediaan dan harga sejumlah komoditas pangan.

Menurut dia, tekanan inflasi juga berkaitan erat dengan kondisi pasokan, distribusi dan rantai pasok yang dapat terganggu ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem maupun bencana lingkungan.

“Inflasi sangat dipengaruhi oleh suplai, distribusi, dan rantai pasok,” ujar dia.

Sri mengatakan sebelumnya kemarau panjang telah memengaruhi perkembangan harga sejumlah komoditas pangan dan sayuran karena berpotensi menyebabkan gagal panen serta meningkatkan biaya produksi.

Sementara berkurangnya debit sungai juga dapat meningkatkan biaya distribusi terutama untuk kebutuhan masyarakat di daerah hulu.

BPS mencatat inflasi Kalbar pada Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,20 persen, secara tahunan 3,65 persen dan tahun kalender 2,83 persen.

Inflasi Agustus secara bulanan di Kalbar dipengaruhi kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,11 persen.

“Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Agustus sebesar 0,05 persen, disusul cabai merah sebesar 0,03 persen,” ujar dia.

Sedangkan kelompok transportasi memberikan andil 0,07 persen dengan komoditas utama berupa angkutan udara, pelumas atau oli mesin dan sepeda motor.

Sri menilai pengendalian inflasi perlu dilakukan melalui peningkatan produksi pangan strategis seperti cabai dan bawang merah, kerja sama antarwilayah produsen, operasi pasar, subsidi angkutan bahan pokok serta pengawasan distributor untuk menjaga ketersediaan barang dan mencegah kenaikan harga yang semakin tinggi.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *