Buruh Tambang Batu Bara Mogok Kerja, Menolak Collie Jadi Kota Mati

Tambang batu bara Kota Collie, Perth, Australia.

PERTH, borneoreview.co – Tambang batu bara menjadi jantung kota Collie yang berjarak 200 kilometer dari Perth, Australia. Menutup lokasi tambang sama dengan membuhuh kota tersebut.

Lebih dari 100 buruh tambang bergabung dengan warga Collie menolak penutupan aktivitas penambangan.

Pemerintah Australia Barat (WA) berencana menutup pembangkit listrik tenaga batu bara di negara bagian tersebut.

Para buruh Premier Coal —perusahaan Tiongkok yang memasok batu bara untuk pembangkit listrik Muja dan Collie- memulai mogok kerja pada Selasa (29/9).

Pemerintah negara bagian sebelumnya berjanji untuk menutup kedua pembangkit listrik tersebut pada tahun 2030. Premier Coal mengusulkan perubahan jadwal kerja sebagai bagian dari transisi sebelum penutupan.

Serikat Pekerja Pertambangan dan Energi menentang usulan perubahan jadwal kerja. Perubahan jadwal kerja menghapus upah lembur yang menyebabkan hilangnya pendapatan sekitar $30.000 per tahun.

Sekretaris serikat pekerja, Greg Busson, memperkirakan rata-rata gaji tahunan pekerja di kisaran $150.000. Lebih dari 90 persen tenaga kerja tambang adalah anggota serikat pekerja.

Meskipun pihak Premier menawarkan kenaikan upah berkala 12 persen persen selama empat tahun,

Busson menyatakan bahwa serikat pekerja menginginkan agar kenaikan tersebut diberikan lebih awal.

“Tergantung pada jadwal kerja mana yang dipilih perusahaan. Hal itu bisa berarti pengurangan upah karyawan hingga 30.000 dolar per tahun,” kata Busson.

Para pekerja saat ini menjalani giliran kerja 12 jam dengan pola rotasi 4 hari kerja dan 4 hari libur. Buruh juga mendapat jatah 4 hari kerja malam dan 4 malam libur.

Greg Busson mengatakan, jadwal kerja baru dari perusahaan secara efektif menghapuskan giliran kerja malam serta tunjangan tambahan.

“Jadwal kerja yang paling merugikan adalah giliran kerja siang selama 8,5 jam dari Senin hingga Jumat. Pekerja kehilangan seluruh tunjangan tambahan untuk akhir pekan dan kerja malam,” ujarnya.

Juru bicara Premier Coal menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen mencapai kesepakatan yang adil. “Premier Coal telah berpartisipasi dalam perundingan dengan itikad baik,” katanya.

“Fokus kami tetap pada keselamatan tenaga kerja serta kelangsungan operasi yang aman dan efisien.”

Sekretaris serikat pekerja, Greg Busson mengatakan, gaji sebesar $150.000 per tahun mungkin tampak besar.

Namun pekerjaannya sering kali berbahaya dan bayarannya lebih rendah dari upah bersih para pekerja tambang batu bara di negara bagian lain.

Para pekerja juga khawatir kehilangan peluang kerja lain di kota tersebut, seiring berkurangnya kegiatan pertambangan.

Collie berada di ambang krisis, meski pemerintah negara bagian mengucurkan dana transisi senilai lebih dari $700 juta untuk membantu kota tersebut bertahan menghadapi berakhirnya industri batu bara.

“Meski pemerintah telah berupaya keras, kita belum mendapatkan industri baru apa pun di Collie,” kata Busson.

Juru bicara pemerintah negara bagian mengatakan bahwa pihaknya mendukung sejumlah industri di Cekungan Collie.

Dia menyoroti terbukanya 500 lapangan kerja selama pembangunan perusahaan baterai berskala besar milik Synergy.

“Pemerintah Partai Buruh di bawah kepemimpinan Robin Cook -politikus Partai Buruh Britania Raya- berkomitmen terhadap transisi yang adil bagi Collie. Dengan alokasi dana lebih dari $700 juta untuk mendukung masyarakat dan para pekerja,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan.

Jumlah ini mencakup dana sebesar $3,2 juta untuk mendukung pekerja Premier Coal —termasuk pekerja kontraktor— yang terdampak oleh penutupan operasional perusahaan baru-baru ini.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *