China Kuasai Mineral Dunia, Indonesia Jangan Puas Jadi Negeri Kaya Tambang

Hilirisasi

JAKARTA, borneoreview.co – Lampu ruang konvensi menyala garang. Di Jiexpo Convention Center, Jakarta Pusat, Bahlil Lahadalia berdiri di podium Opening Ceremony Minerba Convex 2026.

Dia bicara hilirisasi, logam tanah jarang, China, Amerika Serikat. Sontak ruangan terasa seperti kelas tiru-meniru geopolitik.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM ini menilai Indonesia perlu mencontoh China mengelola sumber daya alam.
Kritik pedas pun sulit dibendung. Ini bukan sekadar resep industri, melainkan godaan menyalin mental penjajah lama dengan bungkus modern.

Podium jadi panggung. Layar menampilkan grafik. Hadirin mencatat. Bahlil tersenyum. Tapi senyum itu tak menghapus pertanyaan: ini hilirisasi atau peniruan?

Misi Jiplak China

Bahlil menyebut China tak hanya mengolah mineral demi nilai ekonomi. China menjadikan hasil hilirisasi alat tawar geopolitik.

Contoh logam tanah jarang menjadi faktor tarik-menarik China dan AS. Pada 1980-an, logam tanah jarang belum dipandang bahan baku penting teknologi.

Bagi Bahlil, China adalah contoh sukses. Bagi kritikus, China adalah cermin. Cermin menampilkan ambisi, juga risiko. Risiko teknologi asing, utang, dan ketergantungan.

Bahlil menegaskan pengelolaan SDA jangan berorientasi jual bahan mentah. Mineral mesti diolah dalam negeri. Nilai tambah naik.

Posisi RI dalam perdagangan global menguat. Ia merujuk Pasal 33 UUD 1945: SDA dikuasai negara, dipakai sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Namun janji itu bukan mantra. Tanpa transparansi, hilirisasi bisa menjelma kolonialisme baru.

Bahlil mengibaratkan pola ekspor bahan mentah seperti praktik VOC 350 tahun. “Bahan baku kita dibawa keluar, setelah itu mereka olah di luar, hasilnya baru dibawa ke dalam negeri.”

Kutipan itu menohok. Sindiran itu justru menusuk kebijakan sendiri bila oligarki menguasai rantai pasok.

Pasal 33 bukan hiasan. Ia mandat konstitusi. Bila negara kalah oleh korporasi, hilirisasi hanya ganti kulit. Bahan mentah berubah jadi baterai. Kekuasaan tetap di tangan segelintir.

Bahlil menyoroti ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Indonesia tak terlibat konflik langsung, tetapi merasakan dampak.

Harga minyak dunia disebut lebih dari US$100 per barel atau sekitar US$116 per barel. Di ruang konvensi, angka makro terdengar megah.

Di luar, harga kebutuhan naik. Upah buruh tertinggal. Daerah tambang bergulat dengan jalan rusak, debu, dan air tercemar. Inilah jarak antara pidato dan realitas.

Apa Itu Logam Tanah Jarang?

Indonesia punya batu bara peringkat keenam dunia. Cadangan nikel disebut terbesar dunia.

Ada bauksit, tembaga, timah. Untuk timah, Indonesia eksportir terbesar dunia meski cadangan di bawah China.

Data ini jadi amunisi Bahlil. Namun logam tanah jarang butuh teknologi, riset, tata kelola limbah.

Meniru China tanpa ekosistem sains hanya menghasilkan slogan mahal. Di titik ini, kritik tajam muncul jangan pidato soal geopolitik sambil lupa pekerja tambang, warga terdampak, dan sawah tercemar.

Kekayaan alam bukan kartu bebas. Ia titipan rakyat. Logam tanah jarang bukan sekadar batu.

Ia magnet, motor listrik, turbin, senjata, chip. Nilainya strategis. Karena itu, tata kelola mesti ketat. Riset mesti jalan. Limbah mesti diawasi. Masyarakat mesti dilibatkan.

Klaim Nikel Naik

Bahlil memamerkan nikel. Ekspor 2017-2019 sekitar US$3,3 miliar. Setelah ekspor bijih nikel disetop, industri dibangun, nilai ekspor 2023-2024 melonjak US$33 miliar sampai US$34 miliar.

“Kita menyetop ekspor nikel, kemudian kita membangun industri, kita bikin hilirisasi,” kata Bahlil.

Angka itu jadi bukti. Namun lonjakan ekspor bukan akhir cerita. Bahlil juga menyinggung ekosistem baterai kendaraan listrik tambang, smelter, HPAL, prekursor, katoda, sel baterai.

Tiga pabrik baterai telah berdiri. Prekursor dan katoda dari Indonesia dipasok ke AS. Capaian ini menunjukkan Indonesia bisa melangkah lebih jauh dari pemasok bahan mentah. Asalkan?

Angka nikel memang lompat. Dari US$3,3 miliar ke US$33-34 miliar. Namun lonjakan itu bukan segalanya.

Ada pertanyaan soal nilai tambah daerah, pajak, royalti, dan lapangan kerja. Ada pula soal teknologi HPAL. Proses ini boros energi, menghasilkan limbah, dan menuai protes.

Bahlil menyebut Indonesia punya tiga pabrik baterai. Prekursor dan katoda dipasok ke Amerika Serikat.

Dia menilai pengalaman nikel jadi pijakan mengembangkan mineral lain, termasuk logam tanah jarang.

Namun pijakan itu mesti diuji. Jangan sampai industri strategis hanya jadi proyek mercusuar.

Bahlil perlu menjelaskan asal teknologi, pengelolaan tailing, bagi hasil daerah, audit lingkungan.

Jangan sampai semangat mencontoh China berubah jadi alasan membenarkan segalanya. Rakyat butuh manfaat nyata, bukan pidato gemuruh.

Di balik grafik, ada manusia. Pekerja smelter berpanas. Warga desa menunggu kompensasi. Nelayan melihat air berubah warna. Hilirisasi mesti menjawab mereka. Bukan hanya menjawab pasar global.

Bahlil benar soal semangat nilai tambah. Namun semangat tanpa pengawasan jadi celah. Negara mesti hadir. Rakyat mesti mendapat bagian. Lingkungan mesti dilindungi.

Namun kritik tetap sah. Meniru China bukan jalan pintas. Indonesia butuh strategi berbasis data, riset, dan kepentingan nasional. Bukan sekadar foto bersama menteri, grafik ekspor, dan klaim megah.

Itu inti kritik. Hilirisasi jangan jadi tameng. Bahlil mesti bicara data, bukan hanya retorika. Publik berhak tahu.

Jangan cuma kagum pada China. Tiru risetnya. Bukan hanya ambisinya. Simak fakta, awasi janji.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *