PONTIANAK, borneoreview.co – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) memperkuat kemampuan tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) menangani kegawatdaruratan kardiovaskular, termasuk henti jantung.
“Kami melakukan pembekalan kepada tenaga medis untuk meningkatkan kemampuan melakukan deteksi dini menggunakan elektrokardiogram (EKG) dan mengoperasikan automated external defibrillator (AED) menjadi kompetensi penting dalam upaya menyelamatkan nyawa pasien,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Erna Yulianti di Pontianak, Senin (5/10/2026).
Erna menambahkan secara global, penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab utama kematian. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian di Indonesia, dimana penyakit tidak menular mendominasi penyebab kematian dan penyakit jantung serta stroke menjadi bagian besar dari beban tersebut.
Menurut dia, kesiapsiagaan tenaga medis di FKTP perlu terus ditingkatkan seiring kebutuhan memperkuat kualitas pelayanan kesehatan primer agar mampu memberikan respons cepat terhadap kondisi yang mengancam nyawa.
Di Kalbar, tantangan penyakit tidak menular juga semakin nyata dengan masih adanya sejumlah faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, hipertensi, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat.
Selain faktor risiko, kata Erna, kondisi geografis dan keterbatasan akses di sejumlah wilayah Kalbar menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kegawatdaruratan yang membutuhkan respons medis secara cepat.
“Dalam situasi tersebut, keberadaan tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi sangat strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan,” katanya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar telah menggelar pelatihan penggunaan EKG dan AED bagi tenaga medis di FKTP.
Pelatihan itu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis melakukan deteksi dini, mengenali kegawatdaruratan kardiovaskular, serta memberikan penanganan awal secara tepat sebelum pasien memperoleh penanganan lanjutan.
“Pelatihan yang diberikan merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga medis. Ini sekaligus menjadi bagian dari upaya penguatan pelayanan kesehatan primer guna menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan kegawatdaruratan kardiovaskular,” katanya.
Erna berharap kompetensi yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara optimal di tempat tugas masing-masing, sehingga peningkatan kapasitas tenaga medis tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berdampak langsung terhadap kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.
“Peran Saudara sebagai tenaga kesehatan sangat menentukan dalam upaya penyelamatan nyawa dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat,” ujarnya.(Ant)
