MUMBAI, borneoreview.co – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia membuka peluang kerja sama kemitraan kelapa sawit dengan India. Tawaran kerja sama itu muncul di tengah tekanan pasokan sawit pada 2027 akibat naiknya konsumsi domestik dan El Nino.
India adalah salah satu pasar penting minyak sawit Indonesia. Hampir separo kebutuhan sawit di India berasal dari Indonesia.
Pada kuartal I tahun 2026, ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 988.000 ton. Naik 28 persen dari tahun sebelumnya.
Jumlah ekspor tersebut kemungkinan akan terkoreksi akibat meningkatnya konsumis sawit untuk pasar domestik.
Mulai 1 Oktober 2026 seluruh SPBU di Indonesia resmi menjual bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel B50 secara penuh. Penjualan masal setelah pelaksanaan kebijakan melewati masa transisi 3 bulan.
Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional. Program tersebut diproyeksikan menyerap 15,2 juta–16,3 juta ton CPO per tahun sehingga ruang ekspor sawit Indonesia semakin terbatas.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2027 turun 2,9 persen menjadi sekitar 56,8 juta ton.
Penurunan ini dipengaruhi kekeringan akibat El Nino di sejumlah wilayah sentra sawit, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Selain tantangan pasokan, perubahan tata kelola ekspor juga mempengaruhi industri sawit pada 2027.
Lima produk sawit wajib ekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), dengan penerapan penuh mulai 1 Januari 2027.
“Kebijakan tersebut bukan pembatasan perdagangan, melainkan perubahan mekanisme tata kelola ekspor. Volume perdagangan tetap berjalan meski mekanisme ekspornya berubah,” kata Eddy dalam GlobOil India 2026 di Mumbai, India.
GAPKI menyambut keputusan India memangkas bea masuk dasar CPO dari 10 persen menjadi 5 persen mulai 24 September 2026.
Organisasi pengusaha sawit itu memperkirakan India masih membutuhkan impor sawit sekitar 7 juta–8 juta ton hingga tahun 2030.
Untuk memperkuat pasar India, GAPKI membuka peluang kerja sama peningkatan produktivitas sawit.
Menindaklanjuti nota kesepahaman dengan Solvent Extractors’ Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang ditandatangani pada GlobOil 2025.
Indonesia juga membangun kerja sama baru dengan Indian Vegetable Oil Producers’ Association (IVPA).
Dalam GlobOil India 2026, GAPKI mempromosikan minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendukung partisipasi GAPKI dalam GlobOil India 2026.
Pada forum yang sama, Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan menjelaskan hasil Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (I-EU CEPA).
Uni Eropa menetapkan bea masuk 0 persen serta bebas bea keluar dan pungutan ekspor untuk produk minyak sawit asal Indonesia.
Uni Eropa juga menetapkan kuota ekspor mulai dari 1,9 juta ton dan naik 3 persen per tahun selama sembilan tahun.
Pemanfaatan peluang itu bergantung kesiapan industri memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR).
Fadhil memperkirakan harga sawit 2027 tetap tinggi, sehingga menuntut percepatan peremajaan sawit rakyat dan peningkatan produktivitas.
GAPKI berharap GlobOil India 2026 menjadi ruang dialog pelaku industri minyak nabati global dengan pembeli dan pedagang. Juga menjadi sarana membangun kemitraan jangka panjang yang bertumpu pada produktivitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran.***
