PONTIANAK, borneoreview.co – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menekankan pentingnya proyek Smelter Terpadu Alumina, Aluminium di wilayah Kalbar untuk tidak hanya mendorong hilirisasi mineral, tetapi juga membuka lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat lokal.
“Kami menekankan hal tersebut dalam konsultasi publik rancangan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian terkait perubahan daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kalbar, yang menitikberatkan pada pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian alumina-aluminium terpadu di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak,” kata Ria Norsan di Pontianak, Kamis (19/2/2026).
Dia menyampaikan bahwa proyek smelter ini bukan sekadar investasi besar, melainkan instrumen strategis untuk menguatkan struktur industri pengolahan di Kalbar.
Proyek ini melibatkan sejumlah perusahaan strategis, termasuk PT Borneo Alumina Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, PT Bukit Asam Tbk, PT PLN, dan PT Aneka Tambang Tbk.
“Proyek ini akan membantu meningkatkan perekonomian Kalbar, terutama di Mempawah dan Landak. Tetapi yang terpenting, kami ingin masyarakat setempat diutamakan, tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pekerja terampil, bahkan manajer di perusahaan tersebut,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa proyek industri besar seperti smelter harus seimbang dengan perlindungan lingkungan, termasuk pengelolaan limbah, reklamasi pasca-tambang, serta menjaga kawasan hutan tetap lestari. Hal ini sejalan dengan upaya pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya alam lokal.
Ria Norsan juga menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Kalbar, di mana dari 2,97 juta penduduk yang bekerja, 41,44 persen masih berada di sektor pertanian, 27,67 persen pekerja paruh waktu, dan 10,43 persen setengah pengangguran.
“Kondisi ini menjadi tantangan untuk memastikan proyek smelter memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal,” katanya.
Selain itu, Gubernur menekankan pentingnya rantai pasok bauksit yang berkelanjutan. Proyek smelter di Mempawah dan Landak terhubung dengan smelter yang sudah berjalan di Pulau Penebah, Kabupaten Kayong Utara, dengan pasokan bauksit dari Ketapang dan Kayong sekitarnya, membentuk ekosistem hilirisasi mineral terpadu di Kalbar.
Dalam forum konsultasi, perubahan usulan PSN mencakup pembangunan fasilitas pengolahan sisa hasil pemurnian (SGAR 1 dan SGAR 2) serta pembangkit listrik pendukung operasi smelter, yang diharapkan memperkuat kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalbar dan mendukung pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,19–6,17 persen.
“Pemerintah Provinsi Kalbar siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota untuk memastikan proyek PSN berjalan sesuai regulasi, memberikan nilai tambah ekonomi, dan memberikan peluang kerja yang nyata bagi masyarakat lokal, sambil tetap menjaga prinsip keberlanjutan lingkungan,” kata dia.(Ant)
