MEMPAWAH, borneoreview.co – Kata hilirisasi kini menjelma mantra sakti di setiap pidato pejabat.
Katanya, dengan tak lagi menjual barang mentah, Indonesia bakal melompat jadi negara industri maju. Tapi, benarkah klaim gemilang itu berjalan mulus di lapangan?
Asisten Deputi Pengembangan Mineral dan Batu Bara Kemenko Perekonomian, Herry Permana, hadir dengan segudang optimisme.
Ia mengeklaim kebijakan hilirisasi yang gencar beberapa tahun terakhir berhasil menekan impor.
“Artinya karena keutuhan aluminum kita tinggi untuk mengurangi import, agar industri bisa berkembang dalam negeri memang tidak mudah tapi harus kita lakukan,” ucap Herry Permana dalam sebuah diskusi baru-baru ini.
Pernyataan itu sontak mengundang tanya. Sebesar apa sebenarnya ketergantungan kita pada aluminum impor?
Apakah proyek megawatt di Kalimantan Barat itu sudah cukup memenuhi kebutuhan industri dalam negeri?
Rantai Pasok Impian
Mata dunia industri tertuju ke Mempawah, Kalimantan Barat. Di awal Februari 2026, konsorsium BUMN tambang, MIND ID, menggelar seremoni megah.
Proyek hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi resmi dimulai dengan peletakan batu pertama.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, dengan bangga mengeklaim momen itu sebagai tonggak sejarah.
Fasilitas ini bukan pabrik biasa, tapi ekosistem industri nasional terintegrasi! Mulai dari bahan baku, energi, infrastruktur, hingga SDM, katanya semua tersambung dalam satu kesatuan.
“Investasi Rp104,55 triliun atau setara US$6,23 miliar!” klaimnya penuh semangat. Tapi ingat, jargon jangan cuma jadi hiasan. Jangan sampai ekosistem cuma di atas kertas, eksekusi? Mangkrak!
Proyek raksasa ini mencakup Smelter Grade Alumina Refinery Fase 2, smelter aluminium kedua Inalum, dan pembangkit listrik.
Total investasi Rp 104,5 triliun digelontorkan demi satu tujuan mulia: menghentikan keran impor.
Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Herry Permana kembali mengeklaim, hilirisasi adalah harga mati. Di tengah gejolak ekonomi global, ia yakin kebijakan ini jadi modal berharga.
Pemerintah tak punya pilihan lain selain mengoptimalkan kekayaan alam lewat industrialisasi dalam negeri.
“Tidak ada pilihan lain agar SDA bisa dioptimalkan, misalnya batu bara harus ada hilirisasi. Kalau tidak sama saja kita jual barang mentah, walaupun butuh waktu tapi poinnya kita harus berikan nilai tambah,” katanya.
Jika hilirisasi tak dilakukan sekarang, sambungnya, Indonesia bakal kehilangan momentum emas.
Negara hanya akan jadi penonton di tengah gairah industri global. Tapi, pertanyaan mendasar tetap mengambang: seberapa siap industri pendukung dan tenaga kerja lokal menyambut lompatan besar ini?
Deru Bisik Kebijakan
Suara ekskavator di Mempawah mungkin menderu kencang. Namun, di ruang-ruang rapat kementerian, bisik-bisik soal hambatan regulasi dan kesiapan teknologi belum sepenuhnya reda.
Proyek SGAR Fase 1 yang disebut sudah beroperasi pun masih dalam tahap pendewasaan.
Hilirisasi memang menjanjikan nilai tambah. Dari bauksit mentah menjadi alumina, lalu aluminium ingot, nilainya bisa melonjak berkali-kali lipat.
Tapi perjalanan dari seremoni peletakan batu pertama hingga produk benar-benar mengalir ke pasar membutuhkan waktu panjang.
Apalagi, Indonesia tak sekadar membangun pabrik. Negeri ini tengah membangun peradaban industri baru dari nol.
Tenaga ahli masih didatangkan, teknologi masih diimpor, dan pasar global masih fluktuatif belaka.
Klaim mengurangi impor mungkin terdengar heroik, tapi realitasnya, bahan penolong industri itu sendiri masih banyak yang didatangkan dari luar.
Harapan yang Tertambat
Masyarakat Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat menanti dengan harap-harap cemas.
Proyek raksasa itu janjinya membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Tapi trauma proyek-proyek masa lalu yang mangkrak masih membekas.
Di sisi lain, pelaku industri hilir menanti pasokan bahan baku stabil dengan harga kompetitif.
Selama ini mereka impor karena produk lokal belum tersedia atau harganya tak masuk akal.
Kini, dengan proyek senilai Rp 104,5 triliun, semua berharap rantai pasok impian itu benar-benar terwujud.
Hilirisasi bukan sekadar urusan membangun cerobong asap raksasa. Ini tentang membangun sistem yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
Soal kepastian hukum, kemudahan investasi, dan yang terpenting komitmen jangka panjang lintas rezim.
Klaim pejabat memang mengalir deras bak laporan tahunan. Tapi publik tentu lebih percaya pada bukti nyata.
Berapa juta ton impor aluminum berhasil ditekan, berapa ribu lapangan kerja tercipta, dan seberapa besar kontribusi hilirisasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Mari kita tunggu babak selanjutnya. Karena membangun industri tak cukup dengan kata-kata manis di atas podium.
Dibutuhkan konsistensi, kerja keras, dan tak kalah penting keberanian mengakui jika ada keliru di tengah jalan. Hilirisasi adalah perjalanan panjang, bukan lari sprint seremonial.***
